Gandum atau Lalang

Renungan Sabtu 28 Juli 2018

Bacaan: Yer. 7:1-11Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11Mat. 13:24-30

GANDUM ATAU LALANG DIRIKU?

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat. 13:30)

Benih yang baik dan lalang dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan antara anak-anak Kerajaan Allah dengan anak-anak si jahat. Benih yang baik ditabur oleh Yesus. Benih lalang ditabur oleh si jahat/iblis. Dan ladang adalah dunia. Sedangkan pemilik ladang adalah Tuhan.

Sebetulnya antara benih yang baik/gandum dan benih lalang tidak bernilai sama, tetapi Tuhan membiarkan keduanya tumbuh bersama. Ia tidak memisahkan benih yang baik dari himpitan lalang. Pemisahan baru terjadi pada waktu menuai. Secara logika, jika kita sebagai petani, maka kita akan mencabut lalang sesegera mungkin sehingga benih yang baik atau gandum dapat bertumbuh dengan baik.

Dari perumpamaan di atas, Tuhan mengajarkan kepada saya bahwa Tuhan membiarkan gandum dan lalang, baik dan jahat untuk hidup bertumbuh bersama. Justru dengan kondisi seperti ini maka Tuhan ingin mengajarkan pada kita hal di bawah ini yang dapat menjadi refleksi diri:

  • Seberapa kuatkah kita bertahan di tengah himpitan lalang?
  • Seberapa kuatkah kita dapat bertahan menjadi tumbuhan yang menghasilkan buah yang baik?
  • Atau kita mati bersama lalang karena kita tidak tahan terhadap godaan dunia?
  • Sebagai orang yang beriman dan percaya pada Tuhan, apakah kita tetap jujur dalam pekerjaan kita di tengah-tengah ketidakjujuran yang ada di sekeliling kita?
  • Masih banyak lagi hal-hal yang dapat kita refleksikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kita sekarang.

Tak sedikit orang yang hidup benar bergumul dengan kejahatan yang terjadi di sekitar hidupnya. Dalam realita hidup, kita sering menjumpai banyak orang yang memiliki perilaku seperti anak dunia tetapi juga mengaku sebagai anak Tuhan, pengikut Yesus. Mereka pergi ke gereja, ikut persekutuan, memberi sumbangan bahkan lebih parahnya mereka aktif terlibat pelayanan tetapi cara hidup mereka jika berada dalam dunia nyata tidak mencerminkan orang kristiani jika mereka berada di tengah-tengah dunia.

Siapakah saya sebenarnya?

  • Apakah saya selalu mencerminkan Tuhan yang hidup dalam diriku?
  • Apakah saya selalu jujur dalam setiap keadaan, terlebih dalam menghadapi pekerjaan/bisnis?
  • Apakah saya bertindak penuh kasih terutama kepada orang sekelilingku? Terlebih terhadap bawahan, misal terhadap asisten rumah tangga, sopir, karyawan. Ataukah saya sering bersikap kasar terlebih jika mereka melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginanku?
  • Hal yang paling sederhana, apakah mulutku selalu mengeluarkan perkataan yang baik, perkataan yang penuh berkat, bukan malah sebaliknya menjadikan mulut kita sebagai sarana memegahkan diri.

Memegahkan diri dapat diartikan secara eksplisit yaitu bersikap sombong, arogan, egois. Selain itu memegahkan diri bisa keluar dari apa yang kita ucapkan.

Kita sebagai makhluk sosial hidup bersama orang lain. Hal yang paling sering kita lakukan adalah bercakap-cakap dan berinteraksi dengan sesama. Secara sadar atau tidak, kadang kita terbawa arus menggosip, membicarakan orang lain. Kalau yang kita ceritakan benar tidak menjadi masalah. Tetapi ada juga di antara kita yang mengaku sebagai anak Tuhan, kadang kelewatan dalam bercerita. Dan parahnya, mereka bisa mengarang cerita. Memutar balikkan fakta bahkan mengarang cerita hanya untuk menutupi kesalahan/dosanya sendiri. Mereka bisa mengarang cerita, menambahi atau memberi ‘bumbu’ agar semakin menarik dan seolah-olah itu kejadian sesungguhnya. Dengan kepiawaiannya bercerita, maka orang yang mendengar akan percaya dan kagum dengan kehebatannya dan kelebihannya membawa diri di tengah-tengah perkumpulan orang yang hidup benar.

  • Apakah saya bergabung aktif dalam pelayanan karena mau menghindar dari kewajibanku akan panggilan dalam berkeluarga, baik sebagai suami, istri ataupun anak. Ataukah saya menghindari masalah yang terjadi dalam rumah tanggaku?
  • Apakah pelayanan yang saya lakukan berdasarkan kasih dan tulus dari hati? Bukan untuk mencari ketenaran, kemegahan dan kebanggaan diri.
  • Kita coba merenung dan refleksi diri kita sendiri mengenai hal-hal sesuai dengan kebutuhan dan keadaan diri kita.

Ambil waktu berdiam diri di hadapan Tuhan, benar-benar merendahkan diri dan membuka hati kita. Dan mulai mengupas satu per satu refleksi diri tersebut di atas.

Injil hari ini cukup menarik bagi kita karena anak Tuhan/gandum dan anak dunia/lalang dibiarkan tumbuh bersama dan kelihatannya sulit dipilah. Sehingga ada kecenderungan anak Tuhan jika tidak beriman teguh akan ikut terseret dalam kehidupan anak dunia yang kelihatannya serba enak.

Yang terpenting adalah bagaimana sikap hidup kita sebagai anak Terang, sebagai anak Tuhan yang hidup di tengah ribuan lalang. Perbuatan kita haruslah tetap menjadi anak Terang yang beriman, taqwa dan takut akan Tuhan. Menjadi pelaku Firman Tuhan. Sulitkah hal ini? Sudah jelas jawabnya: sulit!!

Tetapi kesulitan ini harus kita hadapi dan pada akhirnya nanti kita akan dimintai pertanggungan jawab. (Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati. 1 Pet. 4:5).

Jadi pastikanlah bahwa diri kita adalah benar-benar gandum, bukan lalang.

Lalang akan tumbuh bersama gandum, tetapi keduanya akan berakhir di tempat yang berbeda. Karena gandum akan masuk dalam lumbung Tuhan, Kerajaan Allah, sedangkan lalang akan dibakar habis pada saatnya nanti.

Berkat dan kasih Tuhan menyertai kita semua. Amin. (VRE)

Image result for matthew 13:30