Apa Urusan Tuhan dengan Kita?

Renungan Rabu 4 Juli 2018

Bacaan: Am. 5:14-15,21-24Mzm. 50:7,8-9,10-11,12-13,16bc-17Mat. 8:28-34

Apakah Urusan Tuhan dengan Kita?

Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (Mat. 8:29)

Pada suatu hari ada sebuah keluarga muda yang datang untuk berbicara dengan saya di rumah. Pasutri muda ini sedang mengalami angin sakal dalam keluarga dan membahayakan relasi mereka satu sama lain. Masalahnya orang tua keduanya masih ikut campur urusan keluarga muda ini. Ketika sang istri belum mahir memasak, mertuanya selalu memberikan seribu omelan katanya mengapa kamu sudah menikah tetapi belum bisa memasak. Banyak perkataan yang keluar dari mulut orang tua yang sangat mengganggu relasi pasutri ini. Saya lalu mengingatkan mereka untuk datang kepada Tuhan untuk berdoa bersama-sama mendoakan orang tua mereka.Dan juga saya ingatkan kembali akan janji pernikahan mereka: bahwa sebagai suami istri mereka menjadi satu daging dan berusaha saling menerima satu sama lain termasuk keluarga dan orang tua mereka.

Pada hari ini kita mendengar kisah injil yang menarik. Yesus sedang mengadakan perjalanan ke daerah orang Gadara seberang Danau Galilea. Daerah ini bagi orang Yahudi disebut daerah orang kafir. Di sana ia berjumpa dengan dua orang yang kerasukan setan keluar dari kubur untuk menemuinya. Konon setan yang merasuki kedua orang itu sangat buas dan menakutkan banyak orang sehingga mereka pun tidak  berani melewati tempat itu. Hanya Yesus sendiri yang berani melewatinya. Apa yang terjadi ketika mereka melihat Yesus? Ternyata kuasa Yesus jauh melebihi mereka sehingga mereka berteriak dengan nada ketakutan: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (Mat. 8:29). Mereka pun menyerah dan meminta kepada Yesus untuk memasukkan diri mereka ke dalam kawanan babi. Babi-babi itu pun terjun menuruni tebing ke dalam danau dan mati lemas di dalam air. Situasi ini memancing seluruh kota untuk keluar dan mendesaknya untuk meninggalkan daerah mereka.

Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan orang-orang sakit, fenomena alam seperti angin sakal dan gelombang danau juga takluk kepada-Nya. Demikian pula orang tua kedua pasutri muda yang disebut di atas, bisa takluk kepada Yesus. Kali ini Yesus menunjukkan kuasa-Nya untuk menaklukan setan di daerah orang asing (Gadara). Tak seorang pun berani melewati daerah itu, hanya Yesus yang melewatinya dan mampu menaklukan setan-setan. Setan-setan merasa bahwa urusan mereka untuk merasuki manusia dihadang oleh kuasa ilahi Yesus sehingga mereka berteriak dengan ganas. Memang tugas Yesus adalah mencampuri urusan manusia dalam hal ini menyelamatkan manusia dari kuasa setan. Tindakan keselamatan ini bukan hanya bagi orang Israel tetapi juga bagi orang-orang di luar komunitas Israel termasuk kita semua.

Satu hal lain yang dikisahkan dalam Injil hari ini adalah orang-orang di daerah Gadara tidak menyadari kebaikan Tuhan Yesus yang melepaskan mereka dari kuasa setan. Mereka belum memiliki kebiasaan bersyukur atas kebaikan Tuhan karena membebaskan mereka dari kuasa setan. Mereka justru mendesak Yesus untuk meninggalkan daerahnya. Hal yang sama selalu terjadi dalam hidup kita. Banyak kali kita lupa bersyukur atas kebaikan Tuhan dan sesama yang kita alami.

Sabda Tuhan hari ini menantang kita untuk dua hal ini.

Pertama :

Yesus ikut terlibat dalam urusan kita untuk kebaikan yakni menyelamatkan kita dari kuasa setan. Kita juga bisa ikut terlibat dalam kehidupan sesama untuk kebaikan dan kasih bukan untuk memecah belah dan menguasai (devide et impera).

Kedua :

Kita belajar untuk selalu bersyukur atas segala kebaikan dari Tuhan dan sesama. Matikanlah sikap “lupa bersyukur” dengan kebiasaan baik “selalu bersyukur”.

Doa: Ya Tuhan kami percaya bahwa engkau selalu ada dalam hidup kami. Sebagaimana setan takut pada-Mu maka setan pun takut kepada kami. Ajar kami untuk selalu melekat kepada-Mu sehingga dalam menghadapi angin sakal apapun kami tetap berdiri tegap untuk menghadapinya. Inilah doa yang kami panjatkan demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin. (JH)

Related image