The Golden Rule

Renungan Selasa 26 Juni 2018

Bacaan: 2Raj. 19:9b-11,14-21,31-35a,36Mzm. 48:2-3a,3b-4,10-11Mat. 7:6,12-14

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 7:12)

Kalimat di dalam ayat ini terkenal dengan sebutan ayat emas atau The Golden Rule atau etika timbal balik, yang dianggap sebagai intisari dari seluruh Khotbah di bukit. Aturan yang juga digunakan hampir di semua buku suci banyak agama, bahkan konon sejak 2000 SM kalimat ini sudah ditemukan di dalam naskah Mesir Kuno, yang merupakan suatu tindakan timbal balik yang mengarahkan kita untuk membentuk relasi antar sesama dengan adil, bagaimana kita harus bersikap terhadap orang lain seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain.

Tampaknya mudah dan sederhana perintah Yesus ini, namun perlu kerendahan hati untuk dapat melakukannya dengan tulus, sebab seseorang harus memulai terlebih dulu sebelum dia menerima dari orang lain, atau bahkan tidak menerima perlakuan yang sama dari orang lain. Ayat ini lebih mudah dipahami dan dilakukan bila lebih dulu memahami dan melakukan firman Tuhan tentang hukum cinta kasih (Yoh. 13:34, Mat. 22:39). Hukum yang utama setelah yang pertama yakni mengasihi Tuhan Allah (Mat. 22:37). Mengasihi dengan tulus siapa saja, bagaimana pun keadaannya, tanpa memandang atau memperhitungkan untung rugi atau muatan kepentingan. Kalau kita mengasihi orang lain, maka kita akan melakukan yang terbaik yang menyenangkan orang lain.

Tidak mudah bagi seseorang untuk mau turun dari “singgasana kehormatan” oleh karena kekayaan atau kedudukan/jabatan, atau kepandaian, untuk mau mengasihi dengan tulus orang yang dianggapnya tidak setara dengan dirinya, apalagi untuk melakukan hal-hal yang baik seperti yang diinginkan orang lain perbuat bagi dirinya. Meski Yesus telah lebih dulu melakukannya terhadap para murid-Nya (Yoh. 13:13-14). Dan ditegaskan melalui Yoh. 13:16 bahwa apa yang Dia lakukan kepada para murid-Nya itu, sama sekali tidak memengaruhi poisisi-Nya sebagai Allah dan Guru bagi mereka.

Tetapi apakah harus menyerah dengan kelemahan kita? Atau bahkan acuh, tak lagi peduli dengan ketulusan karena kepentingan pribadi atau ambisi atau sekedar agar dilihat orang? Karena semua perintah Yesus tidaklah mudah dilakukan tanpa meresapi makna di dalam setiap sabda-Nya dan harus diperjuangkan terus menerus untuk dapat melaksanakan sesuai kehendak-Nya.

Roma 12:10 mengatakan “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Kiranya ayat tersebut dapat menyemangati kita untuk terus berjuang melakukan yang terbaik bagi orang lain meskipun mungkin kita tidak mendapat perlakuan yang sama. Karena dengan demikian ketulusan kita bukan hanya sekedar menjalankan firman Tuhan, tetapi menghormati orang lain yang adalah hormat bagi diri kita sendiri.

Tuhan memberkati. (ANS)

Image result for the golden rule