Perintah Yang Utama

Renungan Kamis 7 Juni 2018

Bacaan: 2Tim. 2:8-15Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14Mrk. 12:28b-34

PERINTAH YANG UTAMA

Orang Katolik atau Kristen mana sih yang tidak tahu perintah yang utama. Rasanya, semua orang Katolik atau Kristen pasti mengenal apa itu perintah yang utama. Karena sejak masih anak-anak sudah diperdengarkan tentang perintah yang utama; Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatanmu. Namun, masih banyak orang hanya menjadikan ayat ini hanya sebagai ayat hafalan, takut dibilang bukan orang Kristen kalau tidak hafal.

Injil hari ini, bercerita tentang seorang ahli Taurat yang bertanya pada Yesus tentang perintah yang utama. Ahli Taurat ini seharusnya tahu, mana perintah yang paling penting dalam Kitab Taurat, namun dia tetap bertanya dengan tujuan untuk mengkonfirmasi. Kita pun juga tahu akan perintah ini, namun tetap saja susah untuk melakukannya. Sepertinya setiap kali mendengar perintah ini, selalu ada perasaan bersalah yang timbul, sebagai akibat dari belum mampu melaksanakan perintah ini.

Lalu, mungkinkah untuk melakukan perintah ini? Pasti mungkin, karena yang Tuhan Yesus perintahkan bukanlah hal yang mustahil untuk dilaksanakan. Caranya adalah melakukannya dan mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari, seperti yang dilakukan oleh ahli Taurat tersebut, dia mengakui perintah utama tersebut dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, ayat 33: “….. adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”  Bangsa Israel sudah terbiasa untuk mempersembahkan korban-korban sebagai bagian dari ketaatan akan perintah Tuhan dan untuk menyenangkan hati Tuhan. Namun ternyata, mengasihi Tuhan dengan segenap hidup jauh lebih utama.

Beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba mata saya sebelah kanan berwarna merah darah. Saya panik dan mengira sedang terjangkit penyakit mata. Berhari-hari saya berusaha obati sendiri, namun semakin parah. Saya juga berdoa mohon kesembuhan Tuhan. Setiap kali saya berdoa, selalu ada dorongan yang seolah menyuruh saya pergi ke dokter. Waktu itu, kebetulan saya mendapat tugas mengajar di satu kursus evangelisasi (KEP), sedang mata saya semakin memerah. Akhirnya saya menyerah, saya batalkan tugas mengajar di KEP tersebut dan menuruti dorongan agar ke dokter. Selama mengantri di dokter mata, saya banyak berdoa agar tidak mendapat vonis yang menakutkan dari dokter. Tiba-tiba ada jawaban atas doa saya, yaitu saya harus berserah pada Tuhan dan tidak perlu khawatir. Saya merasakan kasih Tuhan yang begitu besar dan memberikan kekuatan untuk berani menerima kenyataan yang akan saya dengar dari dokter. Pada waktu giliran saya masuk, baru saja mau duduk dan dokter bertanya apa yang saya keluhkan, tiba-tiba saja dia beranalisa dan mengatakan bahwa saya mengalami over dosis obat pengencer darah yang saya minum selama beberapa hari sebelum kejadian mata merah tersebut. Akibatnya pembuluh darah mata saya ada yang pecah. Dokter pun memberi saran penanggulangan dan hanya memberi obat tetes mata. Keluar dari ruangan praktik itulah, saya bisa merasakan bagaimana harus melakukan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan, yaitu karena saya terlebih dahulu mengalami cinta Tuhan yang begitu besar.

Mari sahabat, lakukan dan aplikasikan perintah yang utama ini dalam hidupmu. Bukan perintah yang sulit, asalkan kita mau merasakan cinta Tuhan yang besar melalui sekecil apapun pertolongan yang kita alami. Dan jangan lupa untuk mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.

Tuhan Yesus memberkati.

BVJSW

Gambar terkait