Ketamakan Yang Menghancurkan

Renungan Senin 4 Juni 2018

Bacaan: 2Ptr. 1:1-7; Mzm. 91:1-2,14-15ab,15c-16; Mrk. 12:1-12

KETAMAKAN YANG MENGHANCURKAN

Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. (Mrk. 12:7-9)

Perumpamaan Yesus tentang penggarap kebun anggur, menggambarkan bahwa Tuhan memberikan kepercayaan penuh kepada setiap pekerja atau pribadi. Secara penuh dan total, karena Tuhan memberikan kepercayaan tanpa pengawasan bahkan ditinggalkan ke negeri lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tanpa sadar mulai tamak seperti pekerja-pekerja di kebun anggur. Kita mulai menginginkan lebih dan lebih lagi, ingin kaya, ingin naik jabatan, ingin macam-macam dengan memakai segala cara supaya keinginan terpenuhi. Kehancuran mulai terjadi ketika kita tidak melihat kepercayaan Tuhan untuk mengelola kebun anggur ini sebagai berkat dan rahmat untuk hidup. Kita mulai bertindak serakah, semaunya dan mulai anarkis melupakan Tuhan. Begitulah yang terjadi dalam hidup kita sebagai manusia “Dunia”.

Tuhan memberikan begitu banyak dalam hidup kita, jika hal ini dilihat dari sudut iman, maka kita akan selalu merasa terdorong untuk bersyukur dan menghargainya sebagai “Berkat”. Tetapi jika kita memandang hidup sebagai “Jasa” kita, maka yang muncul adalah kesombongan, ketamakan dan tidak tahu bersyukur sehingga tumbuhlah benih-benih kejahatan dalam hidup kita.

Tuhan memberikan banyak hal namun yang menjadi masalah adalah kita menganggap semuanya ini adalah jasa atas kerja kita, bukannya berkat atau rahmat Tuhan. Di sinilah awal dari kehancuran, karena kita lupa bersyukur dan lupa menghargai hidup ini hanya sebagai anugerah Tuhan.

Ketamakan, kelekatan pada uang, menghancurkan manusia, menghancurkan keluarga dan relasi dengan orang lain: itu adalah pesan Paus Fransiskus [21-10-2013] saat Misa di Santa Marta. Ajakan ini bukanlah untuk memilih kemiskinan semata, tetapi untuk menggunakan kekayaan yang Allah berikan kepada kita untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Pertengahan tahun 1988, saya bermimpi ketemu Yesus di suatu bukit yang indah dan penuh damai, saat itu Yesus memberikan kepada saya sesendok besar nasi putih di atas piring saya dan seketika itu juga Yesus mengambil lagi sedikit untuk dikembalikan ke tempatnya.

Dalam hal ini Yesus mengajarkan kepada saya untuk  berbagi sebagai saluran berkat kepada sesama. Berkat semakin bertambah, kalau dibagi-bagikan. Karena yang empunya berkat (kebun anggur) adalah Tuhan Yesus.

Tuhan, ajarilah Aku bersyukur atas kepercayaan-Mu untuk mengelola berkat-berkat yang telah Engkau berikan kepadaku, sebagai saluran berkat bagi sesama kami. Amin (SWK)

Gambar terkait