In Memoriam

Renungan Rabu 13 Juni 2018, Pw S. Antonius dr Padua, ImPujG (P)

Bacaan: 1Raj. 18:20-39Mzm. 16:1-2a,4,5,8,11Mat. 5:17-19

In Memoriam 1 Bulan Korban Teror Bom Surabaya dan Sidoarjo
(13 Mei – 13 Juni 2018)
 
Mengenang kembali peristiwa sebulan teror bom Surabaya dan Sidoarjo, yang menewaskan lebih kurang 25 jiwa dan 57 orang dirawat di rumah sakit, mengingatkan kita pada realitas hidup manusia yang sangat terbatas. Peristiwa bom Surabaya, mengingatkan kembali, bahwa kematian bisa datang tiba-tiba, dan tidak dapat diprediksi sama sekali. Hal yang sama juga terjadi di Surabaya beberapa tahun lalu, tepatnya 28 Desember 2014 ketika ada tragedi jatuhnya pesawat Air Asia dalam perjalanan Surabaya menuju Singapura dan menewaskan 155 penumpang dan 7 kru pesawat.
 
Realitas kematian adalah misteri dan tidak dapat dihindari, ada yang meninggal karena bencana, ada yang meninggal karena kecelakaan, ada yang meninggal karena penyakit, ada yang meninggal karena usia lanjut, dsb. Lalu kematian juga tidak memandang usia, baik tua maupun muda, bayi dalam kandungan atau baru lahir, kanak-kanak atau dewasa, semua tidak kebal terhadap kematian.
 
Bagi orang yang percaya kepada Kristus, kematian bukan akhir dari segalanya, tetapi merupakan awal yang baru dari kehidupan baru, kehidupan bersama Allah Tritunggal Mahakudus dalam keabadian Surgawi. Hanya oleh karena Kristus yang sudah wafat di kayu salib dan bangkit mulia, maka nilai kematian menjadi baru, ada suatu nada pengharapan, yaitu keselamatan yang telah dijanjikan Tuhan Yesus sendiri.
 
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada kamu pun berada” (Yoh 14:2-3).
 
Hari ini kita mengenangkan satu bulan peristiwa teror bom di Surabaya – Sidoarjo, kita diingatkan kembali akan realitas kematian yang bisa datang tiba-tiba dan kapan saja. Karena kematian bisa datang tiba-tiba, kita diajak pada hari ini melalui bacaan Kitab Suci untuk selalu bertobat dan melaksanakan kehendak Allah di dalam hidup kita.
 
Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.”  Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun. Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: “Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.” (1 Raj. 18:21-22)
 
Melalui bacaan pertama ini kita diajak merenungkan seruan Nabi Elia kepada Israel yang telah menyimpang dari jalan-jalan Tuhan, untuk berbalik kepada Allah. Hidup kita adalah suatu pilihan, seperti halnya ketika Israel dihadapkan untuk memilih Allah atau Baal, maka kita juga diajak untuk memilih Allah dan menjauhi dosa dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan bila jatuh, kita dipanggil untuk bertobat, bertobat terus-menerus.
 
Sedangkan melalui bacaan Injil, Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan, tetapi untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi, yang berisi perintah-perintah Allah. Perintah-perintah ini diberikan oleh Allah, bukan untuk membebani, tetapi untuk memberikan “rambu-rambu” bagi manusia. Melalui perintah-perintah-Nya, Allah seolah-olah berkata: “Kalau kamu ingin selamat dan tidak mengalami kecelakaan, maka kamu harus mematuhi rambu-rambu yang Kuberikan.”
 
Hidup dalam pertobatan terus-menerus dan berusaha mengasihi Allah, dengan melaksanakan perintah atau kehendak Allah (bdk, Yoh. 14:15, 21, 23), adalah sarana untuk berjaga-jaga, juga dalam menghadapi kematian. Sehingga pada saatnya, bila kita harus pulang ke Rumah Bapa, maka semoga Allah yang Maharahim berkenan menyelamatkan dan mengenakan Mahkota Surgawi kepada kita semua.

Akhirnya mari kita mendoakan arwah-arwah yang menjadi korban teror bom: Tuhan Yesus, kami serahkan arwah-arwah yang menjadi korban teror bom, ampunilah dosa-dosa mereka dan berikanlah kehidupan kekal kepada mereka, serta berikanlah penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin. (ET)

Gambar terkait