Cepatlah Fjörd

Renungan Sabtu 23 Juni 2018

Bacaan: 2Taw. 24:17-25Mzm. 89:4-5,29-30,31-32,33-34Mat. 6:24-34

CEPATLAH FJÖRD

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Mat. 6:24)

“Cepatlah Fjörd!…”, teriak anak-anak yang lain. Dari sampan yang bergoyang-goyang tampak seorang anak berusia tidak lebih dari sepuluh tahun bimbang untuk beranjak ke dermaga kecil mencapai sekelompok temannya yang terlebih dahulu melompat. Tangannya berusaha menggapai ke dek anjungan, sementara tangan yang lain membawa keranjang piknik. “Aku berusaha.. tapi perahu ini tidak mau diam…”, ujar Fjörd. Dengan bimbang ia mencoba untuk melangkah ke tepian bersama yang lain, tapi apa yang terjadi kakinya malah mendorong jauh sampan tersebut. 

“Fjörddd.. segeralah!!”, teman-temannya tidak sabar melihat si rambut coklat yang kakiknya kini membentang makin lebar antara dermaga dan sampan.
“Aku… a..aku… akannn…”
Byurrr!!!… terceburlah si anak malang dengan seluruh bekal piknik mereka.
“Aaarghhh… Fjööörd!!!!…kita makan apa nantiiii..”, teriakan geram kelompok ini menggema pada Fjörd yang kali ini berdiri kuyup di dermaga. 🙁

Tidak seorangpun dapat menginjakkan kaki di dermaga, sementara kaki yang lainnya di perahu, meskipun seorang pelaut ulung. Justru ia akan segera melompat ke salah satu sisi, untuk menghindari dirinya tercebur. Demikian juga manusia, ia tak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.

Di dalam hidup, manusia dihadapkan pada dua pilihan, Allah atau Mamon. Tidak bisa kita hidup dalam keduanya, karena jelas bertolak belakang pada kepentingannya. Hari ini kita fokuskan kata Mamon pada harta duniawi; pandangan umum di masyarakat ialah bahwa menjadi kaya merupakan tanda dari anugerah Allah, sementara dalam pandangan Yesus, kekayaan merupakan suatu rintangan terhadap keselamatan dan ketaatan, karena kekayaan memberi rasa keamanan yang palsu, menipu, dan menuntut pandangan penuh dari hidup kita. Sering kali orang kaya hidup seakan-akan mereka tidak memerlukan Allah. Dengan mengejar kekayaan, kehidupan rohani manusia menjadi tercekik dan dibawa ke dalam pencobaan serta keinginan yang mencelakakan di mana pada akhirnya manusia meninggalkan iman yang menyelamatkan.

Mamon pasti mengajak pengikutnya bersekutu menghimpun barang fana secara egois, yang sebenarnya merupakan petunjuk bahwa hidup ini tidak lagi dipandang dari segi kekekalan. Tujuan dan kepuasan orang serakah yang mementingkan diri tidak lagi berpusat pada Allah, melainkan pada diri mereka sendiri dan barang milik mereka. Contoh tragedi istri Lot yang menjadi tiang garam misalnya, ialah karena ia menaruh kasih sayangnya pada sebuah kota duniawi dan bukan pada sebuah kota sorgawi, atau dengan jelasnya, memburu kekayaan membawa diri kita berseteru dengan Allah.

Lalu apa arti kekayaan sejati bagi seorang Kristiani? Ternyata Paulus menjelaskan dengan mudah; kekayaan dalam Kristus terdiri atas iman dan kasih yang dinyatakan dalam penyangkalan diri dan hal mengikut Yesus (1 Kor. 13:4-7; Flp. 2:3-5). Orang yang benar-benar kaya adalah mereka yang telah memperoleh kemerdekaan dari perkara-perkara dunia oleh kepercayaan bahwa Allah adalah Bapa mereka dan bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka (Ibr. 13:5-6). Maka yang pantas terhadap segala kemurahan Tuhan adalah bersikap setia (Luk. 16:11), dan memandang diri sebagai murid yang bisa dipercaya dalam mengurus barang milik Allah, bersikap dermawan dan bersedia membagikan kepada orang lain dalam kebajikan (1 Tim. 6:17-19).

Sesaat kita mengambil waktu untuk menyelidiki hati dan keinginan pribadi:
Apakah saya seorang egois?
Apakah saya seorang yang mementingkan diri sendiri?
Apakah saya menginginkan harta berlimpah-limpah?
Apakah saya sangat mendambakan kehormatan, martabat, dan kuasa yang sering diperoleh karena memiliki kekayaan besar?

Mari selalu memperbarui pengalaman pemeliharaan Allah di tengah-tengah dunia. Kita harus senantiasa berseru kepada-Nya di dalam doa dan iman yang tekun. Melalui doa dan kepercayaan, kita mengalami damai sejahtera Allah (Flp. 4:6-7), kita menerima kekuatan dari Tuhan (Ef. 3:16), dan kita menerima rahmat, kasih karunia, serta pertolongan Allah pada waktunya. Tuhan memberkati. Amin.
AMDG, vmg.

Hasil gambar untuk God and Mammon