Buah Kehidupan

Renungan Rabu 27 Juni 2018

Bacaan: 2Raj. 22:8-13; 23:1-3Mzm. 119:33,34,35,36,37,40Mat. 7:15-20

BUAH KEHIDUPAN

Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat. 7:20)

Pada masa ini, tujuan dan pandangan dasar kebanggaan kehidupan manusia, makin terbius dengan tantangan perubahan kehidupan sosial, kemajuan teknologi, bioteknologi, politik  dan ekonomi masa kini. Timbulnya berbagai pandangan dan persaingan cara dan gaya hidup yang eksklusif yang makin dikejar dan diunggulkan. Perhatian terhadap nilai-nilai pribadi orang lain berkurang, hak dasar orang dilangkahi bukan hanya oleh pengusaha tetapi oleh orang-orang yang merasa dirinya lebih dan memiliki hak.

Dunia selebriti dikejutkan dengan kematian bunuh diri. Media sosial telah dipenuhi dengan cerita-cerita yang memilukan dalam keputusasaan kehidupan manusia yang mengharukan. Bunuh diri Anthony Michael Bourdain dan Kate Brosnahan Spade, dua minggu yang lalu dengan mengantung diri, mereka meninggalkan jutaan penggemar, keluarga dan teman-teman dunia selebriti dan para penggemarnya. Mereka semua tercengang, heran dan sedih. Andy Spade merilis pernyataan tentang depresi dan kecemasan istrinya.

Kedua tokoh itu melakukan bunuh diri dan meninggalkan dunia dalam kondisi puncak ketenaran, kekayaan, kejayaan, yang manusia cari di kehidupan dunia. Seolah semuanya lengkap telah dapat mereka nikmati. Dan keduanya mengenal kehidupan Katolik dari keluarga atau sekolah, yang hanya menempati sejarah hidup mereka.

Peristiwa di atas mengingatkan awal perjalanan perjuangan hidup saya. Awalnya saya bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan dalam suatu pekerjaan yang cukup baik bagi kehidupan keluarga dan memimpin berbagai pelayanan sosial dalam beberapa organisasi atau lembaga dan kemudian ikut dalam pelayanan beberapa komunitas spiritual yang saya nilai sangat bagus dan baik.

Pada mulanya, semua kegiatan pekerjaan dan pelayanan yang harus saya kelola, pimpin dan ikuti semua berjalan baik dan memiliki tujuan baik. Seiring dengan waktu, sebagai manusia, kadang kita mengaggap diri kita lebih baik dari orang lain, lebih mampu, lebih berpotensi, lebih berpengalaman, lebih tinggi statusnya, lebih bijaksana, lebih berharga, lebih memiliki harta dan potensi, maka kita merasa layak untuk mendapatkan bagian lebih dari tugas atau jabatan. Tanpa sadar kita mengangap diri kita lebih penting daripada orang lain. Ketika semuanya telah berjalan makin baik dan jaya, sifat saya makin kritis dan mudah terusik kenyamanan dan harga diri saya, sehingga sangat mudah tersingung. Maka keresahan, kecemasan dan ketidaknyamanan mulai mengusik diri saya.

Tetapi saya harus mencoba menutupi karena saya harus menghadapi banyak orang dengan mempertahankan public figure suatu kelompok untuk dipercaya dan tampak mantap. Demikian yang terjadi pada kehidupan saya yang tanpa saya sadari saya telah tertutup, terbelenggu bertopeng dengan suatu kehidupan sosial yang membutuhkan prestasi dan penampilan. Segala macam jenis pekerjaan ataupun pelayanan sosial ini berubah menjadi suatu kemulian, kehormatan, kekayaan yang saya kejar dan saya utamakan. Saya hanya memikirkan keberhasilan, prestasi terbaik, pemuasan nafsu, kebanggaan dan mencari kebahagiaan. Tanpa  terasa semua hal itu menjadi allah saya. Dalam kebanggaan kemampuan kejayaan, saya tidak sadar bila telah menomorduakan Allah. Saya selalu memaklumkan dan menganggap bahwa Allah mengerti kesibukan pekerjaan ataupun pelayanan sosial spiritual saya ini, yang menyita waktu saya. Semua kesibukan aktivitas pekerjaan saya jalani, menunjukan kebaikan, menjanjikan ketenaran, kejayaan, pujian sebagai suatu rutinias yang tidak dapat melepaskan kita.

Sehinga dampak buruk tanpa terasa telah membentuk karakter duniawi saya. Saya sangat sulit menerima nasihat, masukan terlebih teguran orang lain. Bahkan betapa seringnya saya suka menekan, memaksakan, menyakiti, merusak kehidupan orang lain dan mudah tersinggung bila tidak dihormati. Hal ini karena kesukaan saya mendengar pujian, bukan mendengar kebutuhan orang lain.

Saya sangat bersyukur saya ditangkap menjadi anak Allah 32 tahun yang lalu. Saya terus belajar melepaskan diri dari belenggu dunia. Belajar dapat lebih mengenal kehendak dan kasih Allah dalam segala hal. Hidupku terus diubah dengan mematikan cara hidup yang lama. Saya meraih dan mendapatkan kembali apa yang menjadi dasar dalam hidupku, apa yang memancarkan keindahan kasih Allah yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus yang wafat dan bangkit dari mati.

Saya semakin memahami arti tujuan sebagai orang Kristen Katolik, di mana dalam segala kegiatan kehidupan, saya harus menunjukkan karakter Kristus dalam kehidupan saya sehari-hari. Dengan karakter Kristus itu, saya harus berbuah, karena dari buah itulah orang akan mengenal saya, dan orang akan mengenal Kristus yang hidup dalam diri saya. (WN)

Hasil gambar untuk matthew 7:20