Batu Karang

Renungan Kamis 28 Juni 2018

Bacaan: 2Raj. 24:8-17Mzm. 79:1-2,3-5,8,9Mat. 7:21-29

“Orang Bijak Membangun Rumahnya di atas Batu Karang”

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (Mat. 7:24-25)

Seandainya kita bisa mengetahui bahwa akan datang suatu ancaman terhadap hidup kita, dan kita akan kehilangan segalanya, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Apakah tidak terpikirkan untuk mengambil langkah atau tindakan berjaga-jaga?

Sebulan telah berlalu ketika kita dikejutkan dengan peristiwa bom di beberapa gereja dan tempat penting yang membuat hancur hati mereka yang harus kehilangan anggota keluarga. Belum lagi peristiwa itu hilang dari ingatan, beberapa hari ini kita kembali disuguhi berita sedih mengenai tenggelamnya sebuah kapal di Danau Toba yang tentunya menimbulkan duka mendalam bagi keluarga yang harus kehilangan anggota keluarga.

Tentunya tak pernah terpikir oleh mereka yang ingin bersenang-senang, bergembira merayakan liburan dengan menikmati pesiar di danau yang terkenal ini bahwa rencana dan keinginan tersebut akan berakhir dengan maut dan dengan trauma bagi yang mengalami.

Apa yang disampaikan Yesus hari ini mengenai musnah oleh banjir dan hujan badai telah menarik perhatian para pendengar saat itu yang tahu benar bahwa daerah tempat mereka tinggal adakalanya disapu bersih oleh angin topan yang datang tiba-tiba tanpa adanya tanda peringatan.

Gambaran Yesus tentang orang yang membangun rumah di atas landasan yang goyah adalah gambaran tentang orang yang tidak siap untuk menghadapi badai kehidupan.

Sesungguhnya Yesus ingin mengingatkan kita bahwa dalam perjalanan hidup setiap orang, pasti ada suatu kejadian yang bisa membuat seseorang kehilangan pegangan hidup, kehilangan keyakinan akan penyelenggaraan Tuhan dan banyak hal lain lagi yang membuat hidup ini goyah. Tetapi ingatlah akan firman yang mengatakan: Bila taufan melanda, lenyaplah orang fasik, tetapi orang benar adalah alas yang abadi (Ams. 10:25).

Nasihat Yesus ini mengingatkan saya akan peristiwa puluhan tahun lalu ketika pemerintah Indonesia melakukan pemotongan uang dari seribu rupiah menjadi satu rupiah. Ketika itu orang tua saya baru merintis karir mereka di suatu daerah di luar pulau. Mereka menabung untuk persiapan anak-anak masuk sekolah, membeli rumah dan keperluan lainnya karena selama dinas di sana semua disediakan oleh kantor. Ayah saya membimbing beberapa kolega muda yang saat itu cepat sekali jaya secara finansial karena mereka masih lajang sehingga mudah untuk menyisihkan pendapatan mereka sebagai tabungan. Ketika pemerintah mengumumkan kebijakan tadi, beberapa kolega ayah saya datang dan ngobrol di rumah sampai jauh malam. Saya tidak paham apa yang mereka bicarakan karena saya masih termasuk kategori anak, usia baru sepuluh tahun.

Beberapa hari kemudian, beberapa kolega tersebut kembali berkumpul di rumah kami namun wajah mereka terlihat sangat sedih. Ternyata salah satu dari mereka ada yang tidak tahan menghadapi kenyataan dan mengakhiri hidupnya tak lama setelah pertemuan mereka di rumah kami.

Setelah peristiwa itu, ibu saya selalu mengajak kami anak-anak untuk mendoakan ayah saya, setiap malam setelah doa malam kami panjatkan doa khusus untuk ayah kami sampai ayah kami tenang dalam menghadapi guncangan keuangan keluarga yang tidak dialaminya sendiri tetapi oleh semua koleganya juga dan bahkan orang Indonesia.

Dari kejadian ini dan dari pengajaran Yesus hari ini saya belajar bahwa hidup yang dilandaskan pada firman dan janji Tuhan akan tetap kokoh berdiri meski badai menerjang dan menyapu habis apa pun yang ada. Kristuslah batu karang dan gunung batu andalan kita dalam segala perkara dan setiap saat.

“Tuhan Yesus, Engkaulah satu-satunya andalan kami, penopang hidup kami yang kokoh dan kuat bagaikan batu karang. Dalam segala keadaan kami dapat tetap mengandalkan Engkau, dalam pencobaan dan kesusahan Engkau memegang tangan kami dan menopang saat kami jatuh. Pimpin kami selalu dengan hikmat dan kebijaksanaan-Mu sehingga kami senantiasa siap untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap segala situasi yang kami hadapi di dunia ini. Mampukan kami menjadi pelaku firman-Mu. Amin”

Related image