Actions Speak Louder Than Words

Renungan Selasa 12 Juni 2018

Bacaan: 1Raj. 17:7-16Mzm. 4:2-3,4-5,7-8Mat. 5:13-16

ACTIONS SPEAK LOUDER THAN WORDS (KESAKSIAN HIDUP BERBICARA LEBIH TAJAM DARI PERKATAAN KITA)

Poin dari renungan hari ini adalah bagaimana kita menjadi garam dan terang dunia.

  1. Menjadi Garam Dunia

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Garam adalah salah satu bahan dasar dalam resep masakan yang beraneka ragam. Kata garam tidaklah asing di telinga kita. Garam kelihatannya sepele dan murah harganya tetapi mempunyai peranan penting dalam mengolah masakan dan dibutuhkan orang.

Melalui bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa keberadaan kita sebagai orang percaya di tengah-tengah dunia ini adalah menjadi ‘garam’.  Suatu tugas dan tanggungjawab yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sudahkah kita menjalankan fungsi kita sebagai garam dunia dengan benar? 

Menjadi garam dunia berarti menjadi kesaksian bagi orang lain. Melalui hidup kita seharusnya banyak jiwa yang diselamatkan dari kejahatan di dunia ini. Sebagaimana Kristus  “…datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10), begitu pula tugas kita sebagai garam dunia adalah menebarkan pengaruh baik bagi orang-orang di sekitar kita dan bagaimana diri kita dapat mencerminkan Tuhan yang hidup dalam diri kita.

Refleksi bagi kita:

Adakah karena kesaksian hidup kita mereka bertobat?

Kesaksian hidup kita harus terus tercermin dalam setiap langkah hidup kita. Menyatakan bagaimana Tuhan mengubah diri kita dan mencerminkan Tuhan yang hidup dalam diri kita. Untuk menjaga agar kita terus dapat menjadi garam yang mempunyai arti, maka kehidupan rohani kita juga harus semakin bertumbuh dewasa. Jika garam menjadi tawar berarti telah kehilangan fungsi dan pastilah sudah tidak berguna untuk apa pun. Garam tawar adalah garam yang telah hilang kegunaannya, ia hanya akan dibuang dan diinjak-injak orang (baca Luk. 14:34-35).

Apa maksud Tuhan Yesus menyatakan bahwa setiap orang percaya adalah garam dunia? Pertanyaan Yesus ini adalah sebagai penegasan, bukan himbauan atau perintah, melainkan suatu penegasan bahwa keberadaan orang percaya itu bernilai dan mempunyai fungsi penting bagi lingkungan mereka. Namun, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”  Kita tahu bahwa garam itu baru ada gunanya kalau ada rasa asinnya sehingga makanan yang hambar menjadi berasa, bisa pula membunuh kuman dan mencegah pembusukan. Namun untuk menjadi garam dunia ada harga yang harus dibayar, diperlukan pengorbanan sebagaimana garam pun mengorbankan dirinya. Garam harus meleleh, melebur dan tidak terlihat lagi wujudnya, yang tinggal hanya rasanya. Sanggupkah kita? 

  1. Menjadi Terang Dunia

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”  Mat. 5:16

Setiap orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat wajib memiliki kehidupan yang berkelimpahan dan berkemenangan di dalam Tuhan, artinya selaras dengan ajaran dan nilai-nilai kebenaran.

Kehidupan yang berkemenangan di dalam Tuhan juga berarti kehidupan yang meneladani Kristus, sebab “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yoh. 2:6). Untuk hidup sama seperti Kristus maka ada harga yang harus dibayar! Akan tetapi tidaklah mustahil bagi orang percaya untuk hidup seperti Kristus, sebab ada “…Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;”  (Yoh. 16:13), dan  “…Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”  (Yoh. 14:26).  Karena itu kita harus membuka hati dan mengizinkan Roh Kudus ada di dalam hati kita, membuka akal kita dan memberikan pengertian kepada kita tentang kebenaran Firman Tuhan. Jika Roh Kudus ada di dalam hati kita, Firman Tuhan yang kita dengar atau baca akan tertanam dalam hati kita, kebenaran-Nya meresap dalam jiwa kita sehingga kerohanian kita makin diperbarui. 

Tunduklah kepada pimpinan Roh Kudus, maka kehidupan kita akan dituntun dan dibawa-Nya kepada kehidupan yang serupa dengan Kristus. 

Saat kehidupan kita serupa dengan Kristus, saat itu pula kehidupan tampak bercahaya di tengah-tengah dunia ini. Kehidupan bercahaya meliputi seluruh aspek kehidupan kita (sikap, cara hidup, tutur kata dan perbuatan), sehingga dunia bisa melihat dan mengenal Kristus di dalam kita.

Amat disesalkan, masih banyak di antara kita, bahkan sebagai pelayan atau hamba Tuhan pun hidupnya justru tidak bercahaya karena mereka hidup dalam kegelapan dan serupa dengan orang-orang dunia, padahal Tuhan Yesus telah memanggil kita ke luar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Jadi, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,”  (Ef. 5:8).

Hidup kita haruslah dapat menjadi anak-anak terang. Menjadi terang berarti hidup kita menjadi kesaksian bagi orang lain. Kesaksian hidup kita berbicara lebih tajam dari perkataan kita. Kesaksian hidup kita lebih penting daripada khotbah yang kita sampaikan. Bila di dalam kita ada Kristus, tanpa harus digembar-gemborkan, orang lain akan tahu dari perbuatan kita.

Refleksi diri:

Sudahkah kita menjadi pelita yang menyala dan menjadi kesaksian yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita?

Doa: Allah Bapa yang penuh kasih, jadikanlah kami garam dan terang dunia. Curahkanlah kepada kami Roh Kudus-Mu agar dalam setiap perkataan dan perbuatan kami mencerminkan Tuhan Yesus yang hidup dalam diri kami. Sehingga setiap orang yang berjumpa dengan kami dapat melihat kasih Yesus yang nyata dalam hidup kami. Amin.

Berkat dan kasih Tuhan senantiasa menyertai kita semua.

VRE

Hasil gambar untuk action speak louder than words