Tidak Berdaya

Renungan Sabtu 26 Mei 2018

Bacaan: Yak. 5:13-20Mzm. 141:1-2,3,8Mrk. 10:13-16

MENJADI TIDAK BERDAYA

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Mrk. 10:15)

Rahasia kuasa di dalam pengajaran Yesus adalah menjadi tidak berdaya. Itu adalah hal yang luar biasa. Kerajaan Allah adalah milik mereka yang tidak berdaya, yang miskin. Rasul Paulus belajar hal ini dengan baik. Dia berkata, “Saat aku lemah, aku justru kuat.” Justru di saat saya lemah maka saya menjadi kuat. Sungguh indah! Bisa memahami prinsip ini berarti bisa menangkap inti dari pesan keselamatan. Singkatnya, jika Anda ingin diselamatkan, maka Anda harus bersedia untuk menjadi tidak berdaya, bersedia untuk menjadi bukan siapa-siapa demi Tuhan. Bersedia untuk berkata, “Tuhan, aku tahu bahwa aku bukan apa-apa. Secara rohani, aku tidak bisa menolong diriku sendiri. Tolonglah aku. Aku ingin menerima kasih karunia-Mu lebih lagi. Karena tanpa kasih karunia itu, aku tidak bisa hidup.”

Orang Kristen yang sudah menjadi tidak berdaya pasti suka berdoa. Pasti mengerti benar betapa pentingnya berdoa, dan sangat menyadari bahwa segala perkara dapat terselesaikan dengan doa dan doa dapat mengubah segala sesuatu (Yak 5:13-20). Tanpa doa, kita akan mengalami kematian rohani. Adalah aneh jika orang Kristen jarang berdoa; bagaimana kita bisa hidup berkemenangan( mengalami Kerajaan Allah) jika berdoa saja kita malas? Bagaimana kita mampu bertahan melawan serangan Iblis bila kita berdoa hanya ketika mood saja? 

Sahabat, kita berdoa karena kita membutuhkan jawaban Tuhan atas segala pergumulan yang kita alami serta percaya bahwa Tuhan sanggup memberikan pertolongan. Saat menghadapi masalah besar Daud berdoa kepada Tuhan dan Ia menjawab pergumulan Daud (Mzm.141:1-3,8). Ini berarti doa dapat menyelesaikan segala permasalahan dalam hidup. 

Lalu, bagaimana seharusnya kita berdoa supaya beroleh pertolongan dan mengalami kemenangan (mengalami kerajaan Allah)? 

Pertama, kita harus berdoa dengan penuh iman (penuh kepercayaan). Dari ketidak–berdayaannya, seorang anak kecil menerima apapun yang diberikan kepadanya dengan penuh kepercayaan, walau dia mungkin tidak tahu apa risiko dari hal-hal yang dia terima itu. Tidak berarti kita meremehkan pemakaian logika, akan tetapi jika logika menjadi kriteria, sebagai alat ukur, penentu tertinggi, maka berarti kita belum mengerti tentang kekristenan karena kekristenan itu adalah tanggapan hati kita kepada kasih Allah, dan apakah kita akan menghabiskan umur kita hanya untuk menganalisa kasih? Dengan kata lain, kasih adalah hal yang harus dialami, bukan untuk dianalisa. Seorang anak kecil memahami hal ini dengan sempurna. Ketika kita menunjukkan kasih  kepadanya maka ia akan menerima kasih itu. Dia tidak berkata, “Tunggu dulu. Aku akan menerima kasihmu kalau aku sudah mengerti sepenuhnya niat, hakekat dan karakter dari kasih itu.”

Kedua, kita harus berdoa dengan kerendahan hati atau hancur hati, suatu sikap yang menunjukkan ketidakberdayaan dan betapa kita memiliki ketergantungan penuh kepada Tuhan. Seorang anak kecil memiliki kepercayaan penuh kepada ayahnya. Ia tidak pernah khawatir tentang apa pun karena semua kebutuhannya terpenuhi. Kita juga harus percaya penuh kepada Tuhan dan jangan sekali-kali  “…bersandar kepada pengertianmu sendiri.”  (Amsal 3:5).

 Apakah kita bersedia menjadi tidak berdaya seperti anak kecil? Semoga Tuhan memberkati kita semua. (FHM)

Hasil gambar untuk MARK 10:15