Tahu Berterima Kasih

Renungan Jumat 18 Mei 2018.

Bacaan: Kis. 25:13-21; Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab; Yoh. 21:15-19

TAHU BERTERIMA KASIH

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP.

Ketika kita melihat dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa kelompokkan dalam dua kelompok besar, kelompok orang-orang yang tahu berterima kasih dan kelompok orang-orang yang tidak tahu berterima kasih. Orang-orang yang tidak tahu berterima kasih sering menganggap, bahwa sudah seharusnya dia mendapatkan hal itu, karena dia lebih pandai/kaya/berkuasa/berkedudukan atau apapun yang dia bisa jadikan alasan untuk hal itu. Ketika tidak mendapat seperti yang dia harapkan, dia meradang, marah. Hidupnya berpusat pada aku. Menilai dirinya lebih tinggi dari yang lain. Begitu juga dalam relasinya dengan Allah, sudah seharusnya Allah memperlakukan seperti yang dia harapkan. Menyedihkan, memprihatinkan. Kita masuk kelompok yang mana?

Bacaan liturgi hari ini mengingatkan kita, apakah dalam menjalani hidup, kita menunjukkan sikap sebagai orang yang tahu berterima kasih ataukah tidak tahu terima kasih.

Dalam bacaan pertama, apa yang diungkapkan Gubernur Festus di Kaisarea kepada Raja Agripa mengenai Paulus, menunjukkan kepada kita, bahwa Paulus adalah orang yang tahu berterima kasih. Meskipun mengalami tekanan-tekanan dari pemimpin agama Yahudi, Paulus tetap menunjukkan sikapnya sebagai Rasul Kristus, pembawa Kabar Baik, yang mewartakan bahwa kematian tidak bisa berkuasa atas diri Yesus; Yesus hidup. Yesus yang telah bangkit dari kematian, telah mengalahkan kuasa dosa dan maut. Kematian-Nya telah menebus semua dosa Paulus dan dosa semua orang. Keselamatan, hidup di dalam segala kelimpahan dan kehidupan kekal diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus. Paulus yang telah menerima hal ini dengan cuma-cuma dari Tuhan Yesus, dengan penuh keyakinan dia wartakan hal ini kepada yang lain, agar mereka semua juga mengalami apa yang telah diterima oleh Paulus. Paulus adalah orang yang tahu berterima kasih.

Dalam Mazmur Tanggapan, Mazmur 103, Daud yang mengalami Tuhan secara nyata di dalam hidupnya, dengan penuh syukur dia memerintahkan jiwa dan segenap batinnya untuk memuji Tuhan dan memuji nama-Nya yang kudus. Daud menggambarkan kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya, setinggi langit dari bumi, dan pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya. Tuhan telah menegakkan tahta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu. Bahkan melalui mazmurnya ini, Daud mengajak para malaikat dan para pahlawan untuk memuji dan mengagungkan Tuhan. Daud adalah orang yang tahu berterima kasih.

Di dalam Injil, Yesus yang bertanya sampai tiga kali apakah Petrus mengasihi Dia, Yesus kemudian memberi tugas perutusan bagi Petrus, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Petrus taat dan setia dengan tugas perutusan ini, dia menjadi Paus pertama yang menggembalakan umat kristiani. Petrus adalah orang yang tahu berterima kasih.

Marilah kita menjadi orang yang tahu berterima kasih dengan mensyukuri rahmat yang Tuhan berikan, mengasihi, memuji dan menyembah Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita. Dengan penuh sukacita kita wartakan Kabar Baik ini kepada setiap orang yang kita jumpai. Dengan taat, setia dan penuh kasih, kitapun menggembalakan orang-orang yang telah Tuhan percayakan kepada kita, yaitu anggota keluarga kita, di komunitas kita, di lingkungan pekerjaan kita dan di mana pun kita berada.

Satu kekuatan dan penghiburan bagi kita, bahwa kita mampu melakukan hal ini asal kita mau, karena di bait pengantar Injil dikatakan, ”Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu; Ia akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Kesaksian

“The Singer Not The Song” adalah ungkapan yang dijadikan judul sebuah film pada akhir tahun 1950-an. Film ini berkisah tentang kegigihan seorang pastor dalam usahanya menolong hidup seorang “pemuda berandalan ke jalan yang benar.”

Pemuda ini selalu meresahkan penduduk setempat, bahkan pastor dan paroki pun tidak luput dari gangguannya. Meskipun demikian, pastor ini tidak pernah bosan berdoa dan memberi nasihat kepada pemuda tersebut. Si pastor yang menyadari bahwa hidupnya sudah ditebus oleh Kristus, telah mempersembahkan dirinya untuk melayani Tuhan dan umat. Sebagai ungkapan terima kasihnya, dia melayani secara total. Dia merindukan agar penebusan Kristus juga diterima oleh sang pemuda berandalan ini. Roh Kudus memampukan sang pastor untuk terus berjuang.

Seperti kata peribahasa, “Sepandai-pandainya tupai melompat sekali waktu akan terjatuh juga”, begitu juga dengan pemuda tersebut. Suatu hari dia tertembak polisi ketika berusaha kabur dari kejaran polisi yang hendak menangkapnya.

Menjelang ajal menjemput, ia memohon agar dipertemukan dengan pastor. Pada kesempatan terakhir, dia meminta pastor itu berdoa untuknya dan berjanji saat itu juga menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Kata-kata terakhirnya sebelum meninggal sangat menyentuh perasaan, pemuda itu berkata: “Aku menerima Yesus bukan karena kata-kata atau karena khotbah Anda, melainkan karena tindakan nyata Anda yang memancarkan kasih Kristus. Terlebih lagi aku sudah berjumpa dengan-Nya.” 

Dan ia mengakhiri kata-katanya dengan mengucapkan, “The singer not the song”.

Doa: “Allah Roh Kudus, penuhi dan pimpinlah hidupku sehingga menjadi orang yang tahu berterima kasih dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.”

(HLTW)

Hasil gambar untuk THANKFUL