Pemimpin Rendah Hati

Renungan Selasa 22 Mei 2018

Bacaan: Yak. 4:1-10Mzm. 55:7-8,9-10a,10b-11a,10b-11a,23Mrk. 9:30-37

PEMIMPIN RENDAH HATI

Konsep kepemimpinan umum biasanya dikaitkan dengan konsep power (kuasa), sehingga muncul opini publik yang mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kuasa. Praktik kepemimpinan dengan mengandalkan kuasa seringkali identik dengan gila hormat, minta dilayani, tirani, sombong, sewenang-wenang, dll..

Pemahaman dan praktik kepemimpinan umum sangat berbeda dengan konsep kepemimpinan yang pernah diajarkan dan didemonstrasikan oleh Yesus Kristus. Penting digarisbawahi di sini bahwa Tuhan Yesus tidak meniadakan kuasa. Namun Ia memutarbalikkan konsep dan praktik kuasa. Tekanan Tuhan Yesus sama sekali bukan pada kuasa seorang pemimpin, namun kerendahan hati seorang pelayan.

Dalam perikop ini secara tersirat dinyatakan bahwa Yesus sedang bergerak menuju Yerusalem dan itu berarti berjalan menuju salib yang telah menunggu-Nya di sana. Pada kesempatan ini Yesus kembali memberitahukan perihal derita dan kematian yang akan Dia alami.

Dalam Markus 9:30 dikatakan bahwa ketika melewati Galilea bersama para murid-Nya, Tuhan Yesus tidak mau diketahui orang. Tuhan Yesus tidak mengutamakan popularitas. Pada dasarnya Tuhan Yesus tidak suka menonjolkan diri; Ia dapat “menyembunyikan diri” selama tiga puluh tahun, sebelum memulai tugas besar-Nya.

Namun ketika Tuhan Yesus sedang berbicara tentang penderitaan-Nya, murid-murid justru sedang asyik ‘bertengkar’ tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk 9:34). Mereka tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Yesus. Mereka asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka tidak sungguh mengerti arti ke-mesias-an Tuhan Yesus. Mereka begitu terpaku dengan kuasa dunia. Karena itu mereka berpikir siapa yang terbesar, siapa yang akan menjadi pemimpin setelah kematian-Nya. Dapat kita bayangkan bagaimana perasaan Tuhan Yesus mengetahui pola pikir para murid yang telah Dia didik secara khusus itu. Ketika Dia sedang berjalan menuju salib, mereka justru berebut kuasa.

Mereka lupa bahwa panggilan mereka menjadi murid adalah panggilan untuk menderita bersama Kristus. Mereka lupa bahwa mereka dipanggil untuk melayani seperti yang diteladankan oleh Yesus sendiri. Karena itu Tuhan Yesus menegur mereka dengan berkata: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35).

Pandangan Tuhan Yesus berbeda dari pandangan dunia yang menganggap bahwa kebesaran ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melayani kita. Dunia memang mencari kebesaran dalam bentuk kuasa, popularitas, dan kekayaan. Ambisi dunia adalah menerima perhatian dan penghargaan. Lalu salahkah berambisi menjadi orang besar? Bukan demikian. Yesus ingin meluruskan pandangan bahwa kebesaran adalah menjadi orang pertama, sementara orang lain menjadi nomor dua, tiga, dan seterusnya. Kebesaran sejati bukan menempatkan diri di atas orang lain supaya kita dimuliakan.

Kebesaran sejati adalah menempatkan diri kita untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama. Misalnya seorang dokter. Ia dianggap besar bukan karena ia seorang spesialis yang bekerja di rumah sakit mahal. Atau karena ia sering menjadi pembicara di seminar-seminar kesehatan. Ia dianggap besar bila ia juga menyediakan waktunya untuk menangani dan melayani orang-orang miskin.

Tuhan Yesus mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Bagi yang ingin di depan haruslah menjadi yang paling belakang. Yang ingin menjadi pemimpin, harus menjadi hamba. Untuk menjelaskan ini, Ia lalu merangkul seorang anak kecil sebagai model (Mrk 9:36). 

Seorang anak kecil tidak memiliki pengaruh sama sekali, tidak memiliki kuasa bahkan dianggap lemah. Namun Yesus berkata, siapa yang menyambut sesamanya yang “tidak berarti”, ia menyambut Tuhan. Kebesaran seorang pemimpin kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya tetapi berapa banyak orang yang dilayani. Kebesaran seorang pemimpin kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan. 

Tuhan Yesus membalikkan 180° konsep kepemimpinan yang dimiliki kebanyakan orang termasuk para murid-murid-Nya. Alkitab menulis bahwa tidak seorang pun yang kuasanya melebihi Dia (Yoh 13:3). Keempat Injil mencatat segala perbuatan ajaib yang pernah dilakukan-Nya. Namun Yesus tidak pernah sekalipun menggunakan kuasa-Nya untuk kepentingan diri pribadi. Ia menganggap kuasa-Nya sebagai sesuatu untuk Ia pakai untuk melayani orang lain. 

Sewaktu kami belum hidup baru, suami saya merasa bahwa dia adalah orang yang paling berkuasa/berhasil di seluruh Indonesia atas usaha yang ditekuninya. Dia tidak bisa melihat atau mendengar orang lain lebih berhasil dari dia. Kalau ada orang yang tidak bisa melakukan yang dia perintahkan, langsung dia pecat. Tuhan pasti tidak senang melihat anak-Nya yang hanya mementingkan diri sendiri. Terhadap keluarganya sendiri saja dia juga kurang ada perhatian. Tuhan tentunya tidak senang terhadap perlakuan seperti itu. Dan apa yang Tuhan lakukan? Tebak sendiri. Kasih Allah yang begitu besarlah yang mengubahkan kami melalui didikan-didikan yang Tuhan berikan. Sekali lagi Tuhan menghendaki kita memilki kerendahan hati.

Memiliki keinginan, harapan dan ambisi dalam hidup itu tidak salah! Tetapi apakah keinginan, harapan, dan ambisi itu didorong oleh kesombongan diri semata untuk menjadi orang terbesar? Apakah setiap tanggung jawab yang kita emban, misalnya sebagai pimpinan, orang tua, guru, dan apa pun profesi hidup kita, kita hayati sebagai panggilan untuk melayani Tuhan dan sesama?

Kepemimpinan ala Tuhan Yesus Kristus sangat sulit dan sangat tidak alami. Namun konsep tersebut terus-menerus menantang kita agar dipraktikkan. Seiring dengan itu kita juga terus-menerus diperdaya oleh godaan ‘kuasa’, yang pernah dialami para murid; yang selalu ingin menjadi yang terutama, yang terkemuka, yang terdepan, yang terhebat. 

Kiranya Allah menolong kita untuk melepaskan diri dari jerat ‘kuasa’, dan mengalami kemerdekaan untuk menjadi pemimpin sejati yang melayani Tuhan dan sesama dengan penuh kerendahan hati. Amin. (JH)

Gambar terkait