Nama Yang Penuh Kuasa

Renungan Sabtu 12 Mei 2018

Bacaan: Kis. 18:23-28; Mzm. 47:2-3,8-9,10; Yoh. 16:23b-28

NAMA YANG PENUH KUASA

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa akan diberikan-Nya kepada-Mu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh 16:23-24)

Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk sekali lagi menyadari dan mengakui akan betapa besar kuat kuasa yang ada dalam nama Yesus. “Nama Yesus” bukanlah sekedar nama tetapi menyatakan adanya kekuatan besar dalam nama itu sebagai wujud kedekatan pribadi dengan Allah.

Dengan menyebut nama Yesus maka apa yang kita sampaikan kepada Bapa menjadi lebih nyata, lebih mudah dikomunikasikan. Karena di hadapan Bapa, Yesus menjadi perantara bagi kita. Dialah yang berada bersama Bapa. Dia yang menghadapkan kita kepada Bapa. Jadi setiap doa dan penyampaian intensi kepada Bapa melalui Yesus, menjadi doa dan penyampaian Yesus sendiri. Dia yang berdoa bersama kita dan Dia berdoa untuk kita.

Masalahnya, apakah yang kita minta itu sesuai kehendak-Nya? Apakah tidak bertentangan dengan ajaran dan perintah-Nya, sehingga pantas untuk kita mohonkan dalam nama Yesus?

Sebagai orang yang mengalami kehadiran Roh Kudus dalam hidupnya, maka ketika ditawarkan untuk minta apa saja kepada Bapa, maka pastilah ia akan memikirkan dan meminta hal-hal baik dalam doanya. Ia tidak akan meminta sesuatu yang mengandung dosa. Namun ada beberapa hal yang patut kita perhatikan dalam hal pengabulan doa-doa kita.

Doa yang baik adalah doa yang disertai dengan rasa hormat, ungkapan rasa syukur, jujur, rendah hati dan penyerahan total kepada Tuhan. Doa merupakan sebuah kesempatan untuk kita bisa mengutarakan isi hati dan sekaligus mendengarkan pendapat Allah tentang masalah kita.

Melalui doa kita juga bisa menyampaikan segala permohonan kita. Bukan untuk apa yang kita ingini, tetapi untuk apa yang kita butuhkan. Tetapi karena keterbatasan sebagai manusia, seringkali kita sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Hanya Dia yang  tahu apa yang benar-benar menjadi kebutuhan kita karena Bapa kita adalah Allah yang Mahatahu. Karena itu, semakin sering kita berdoa dengan tekun dan setia, maka dari saat ke saat kita akan belajar menyelaraskan hati dan pikiran kita dengan Tuhan, menyesuaikan keinginan dan hidup kita dengan kehendak-Nya, kita  semakin mengerti dan tahu apa yang menjadi kebutuhan kita, bukan keinginan kita.

Marilah kita mengambil keputusan untuk setia berdoa kepada Bapa, berdoa dalam nama Yesus dengan hati yang mencerminkan ketundukan kita pada kehendak-Nya dan kemauan kita untuk menerima dengan rendah hati dan penuh syukur, apapun  yang Tuhan berikan karena itulah yang terbaik buat kita sehingga penuhlah sukacita kita. Amin.

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” (Flp 2:9-10)

Tuhan memberkati. (MFBD)

See the source image