Menjadi Saksi Kristus

Renungan Minggu 20 Mei 2018, Hari Raya Pentakosta

Bacaan: Kis. 2:1-11Mzm. 104:1ab,24ac,29bc,-30,31,34; Gal. 5:16-25Yoh. 15:26-27; 16:12-15

MENJADI SAKSI KRISTUS

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau Penghibur yang akan kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.” (Yoh 15:26-27,16:12)

Sepeninggalan Yesus, para murid selalu berkumpul bersama dalam rumah yang selalu terkunci karena takut dengan orang-orang Yahudi. Mereka takut memberi kesaksian bahwa Yesus yang menderita dan wafat di salib telah bangkit mulia dan naik ke surga. Namun, semuanya berubah ketika Roh Kudus turun atas mereka. Kuasa Roh Kudus mengubah hidup mereka dan memberi keberanian untuk menjadi saksi dan mewartakan perbuatan- perbuatan besar Allah.

Dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia, menjadi saksi kebenaran memang tidak mudah dan sangat berisiko karena ia bisa dimusuhi, dijauhi, tidak disukai, dikucilkan, bahkan bisa terancam celaka. Akhirnya banyak orang memilih diam atau bahkan ikut arus dengan memberikan kesaksian palsu. Orang menjadi takut, seperti para murid yang takut dianiaya oleh orang-orang Yahudi.

Sebagai umat beriman melalui sakramen baptis dan krisma sebenarnya mereka juga sudah menerima baptisan dan pencurahan Roh Kudus. Roh Kudus yang disemayamkan dalam hati nurani itulah yang akan menjadi kekuatan dan memampukan setiap orang Kristiani untuk menjadi saksi-saksi kebenaran.

Tetapi mengapa semakin hari semakin banyak orang Kristen takut menjadi saksi kebenaran itu? Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah cara hidup dan melahirkan budaya baru, manusia yang menjadi lebih egois, cenderung malas, individual, hedonis, dll.. Hal-hal duniawi seperti itulah yang akhirnya memenuhi hati sanubarinya sehingga Roh Kudus yang bersemayam di hati tidak berdaya guna. Orang lebih berpusat pada dirinya sendiri daripada berpusat kepada Allah.

Pentakosta yang dirayakan gereja tiap-tiap tahun adalah momentum yang tepat di mana setiap orang beriman diingatkan kembali tentang cinta kasih Allah kepada manusia lewat kematian Yesus Kristus dan kebangkitan-Nya serta Roh Kudus yang diturunkan kepada setiap orang percaya agar kita semua menjadi kuat, mau dan berani menjadi saksi-saksi dan pewarta perbuatan-perbuatan besar Allah.

Pada hari raya Pentakosta ini, mari kita mundur sejenak dari hiruk pikuk dan hingar bingar kehidupan, pergi ke tempat sunyi menjernihkan batin dan membeningkan pikiran. Dalam batin yang jernih dan pikiran yang bening kita akan mampu mendengar suara Allah dan Roh Kudus juga dapat bekerja dan memimpin diri kita. Jika kita hidup dalam bimbingan Roh Kudus niscaya kita berani menjadi saksi dan pewarta perbuatan cinta kasih Allah dalam rupa buah Roh.

Selamat merayakan Pentakosta.

FX. Santoso T.

Hasil gambar untuk be a witness