Maria Bunda Penolong

Renungan Kamis 31 Mei 2018

Bacaan: Zef. 3:14-18a atau Rm. 12:9-16b; MT Yes. 12:2-3,4-bcd,5-6; Luk. 1:39-56.

MARIA BUNDA PENOLONG

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku mengunjungi aku?”  (Luk 1:41-43)

Hari ini Gereja merayakan pesta Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabet saudaranya. Dari Injil Lukas tersebut, dikisahkan bahwa waktu itu Perawan Maria dengan Yesus yang berada di rahimnya  mengunjungi Elisabet saudaranya. Dan ketika Perawan Maria memberi salam kepada Elisabet, bayi yang ada dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet dipenuhi dengan Roh Kudus.     

Mengapa kunjungan Maria membawa kegembiraan? Karena Maria tidak datang seorang diri. Maria hadir bersama Yesus Sang Allah  Putra dalam diri Maria. Maria membawa Sang Kabar Sukacita Sejati, yakni Yesus Kristus. Bahkan, Maria tidak segan-segan melakukan perjalanan misioner untuk membawa Sang Kabar Sukacita menemui Elisabet saudaranya.

Perjumpaan Maria dan Elisabet membawa kegembiraan dan pernyataan identitas anak yang sedang dikandung oleh Maria. Dengan kuasa Roh Kudus, Elisabet memberi  pengakuan: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”  

Di sini ada hal yang pantas kita renungkan: keunggulan Maria sebagai seorang perawan yang mengandung dari Roh Kudus bukan saja terletak pada fiat-nya kepada Allah, tetapi juga pada kehadirannya serta empatinya terhadap penderitaan manusia. Kehadiran dan empati Maria nyata dalam kunjungan Maria kepada Elisabet. Elisabet baru mengandung seorang anak di usianya yang sudah lanjut. Situasi yang rentan menjadi pergunjingan orang. Namun Maria berkenan hadir untuk menunjukkan empatinya kepada Elisabet. Ini menjadi bukti nyata betapa pedulinya Maria terhadap penderitaan orang lain.

Dalam perjalanan hidup Maria selanjutnya, Maria menghadirkan diri dalam kehidupan Sang Putra, bahkan hingga Sang Putra wafat di kayu salib. Kehadiran Maria pun masih berlanjut dalam kehidupan para rasul sepeninggalan Yesus. Tentu kita semua percaya, Maria tetap memperlihatkan empatinya kepada umat manusia yang memohon pertolongannya hingga saat ini dan di masa yang akan datang.

Pengalaman merasakan empati Maria yang begitu besar juga pernah saya rasakan. Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya dan keluarga sedang bertugas di Ambon, saya hamil pada usia 40 tahun. Seperti Elisabet, saya pun bahagia bercampur malu. Tetapi ketika tiba saatnya bersalin, dokter kandungan memberitahukan saya harus operasi karena bayinya sungsang. Rasa malu berubah menjadi kepanikan karena dokter tersebut pernah mengoperasi tiga orang ibu hamil berturut-turut dan semuanya meninggal dunia. Saya akan menjadi orang ke-4 yang akan dioperasi. “Apakah nanti saya mengalami hal yang sama?” Ketakutan dan kepanikan terasa sangat menguasai diri saya. Kami hanya bisa pasrah karena hanya dokter tersebut satu-satunya dokter kandungan di daerah kami tinggal. Dalam kepasrahan inilah, kami menyerahkan semuanya kepada Tuhan melalui perantaraan dan pertolongan Bunda Maria. Doa yang tak kunjung putus kami panjatkan kepada Sang Bunda demi jalan terbaik bagi kehidupan selanjutnya. Puji Tuhan anak saya lahir dengan cepat lancar tanpa operasi, bahkan sebelum dokternya tiba di rumah sakit. Peristiwa ini membuat saya percaya bahwa berkat anugerah Tuhan serta pertolongan Bunda Maria pada keluarga kami yang sungguh luar biasa. Sang Bunda tak akan meninggalkan anak-anaknya mengalami derita dan duka.

Kita semua adalah murid Kristus yang diutus menjadi misionaris pewarta Kabar Gembira kehadiran Allah. Kita bukan Bunda Maria, tetapi kita semua dapat berbuat seperti yang Bunda Maria lakukan. Kehadiran kita menjadi berarti dan membawa sukacita bila kita membawa serta Yesus dalam hati kita, seperti Bunda Maria. Bukan membawa kehadiran yang justru menimbulkan rasa takut dan enggan pada orang yang kita jumpai. Inilah pewartaan Kabar Gembira yang dikehendaki Allah. Kehadiran yang menenteramkan dan membahagiakan, karena Yesus Sang Kabar Sukacita kita bawa serta dalam tiap perjumpaan kita.    

Doa: Tuhan Yesus, ajari kami berperilaku seperti Bunda Maria yang selalu membawa-Mu dalam hatinya, sehingga kehadiran kami di tengah banyak orang dapat membawa kegembiraan dan suka cita, khususnya di tengah keluarga dan lingkungan kami. Amin. (LKME)

 

 

Hasil gambar untuk mother mary and elizabeth