Damai Sejahtera

Renungan Selasa 1 Mei 2018

Bacaan: Kis. 14:19-28Mzm. 145:10-11,12-13ab,21Yoh. 14:27-31a

DAMAI SEJAHTERA-KU TIDAK SEPERTI YANG DIBERIKAN DUNIA KEPADAMU

Masih segar dalam ingatan saya, beberapa tahun lalu waktu diumumkan dalam Misa di Gereja Katedral Surabaya, bahwa tahun 2012-2013, Paus Benediktus XVI memaklumkan sebagai Tahun Iman. Spontan dalam hati saya terus berdoa, agar Tuhan berkenan memperbarui iman seluruh Gereja dan iman saya secara pribadi, karena saya percaya bahwa setiap Gereja memaklumkan suatu tahun sebagai suatu perayaan, misalnya: tahun yubileum, tahun iman, dsb; ada suatu rahmat khusus yang dicurahkan oleh Tuhan sesuai perayaan tahun tersebut. Memang harus saya akui sesudah itu saya sendiri sudah lupa akan apa yang saya doakan itu.

Kemudian suatu ketika, kami mendapat kunjungan pasutri teman istri saya, cerita punya cerita ternyata salah satu dari mereka ini sudah pindah agama, dia ceritakan kalau dulu waktu kuliah aktif di Komunitas Sel MM dan PDKK-MM, tetapi ada masa-masa dia mengalami kehampaan, karena sering browsing di internet tentang perdebatan agama dan membaca buku yang setahu saya dalam penilaian Gereja, buku itu dianggap terlalu sinkretisme (faham yang mencampur adukkan agama). Dalam kehampaan itu, dia guncang dan akhirnya memutuskan pindah agama. Waktu itu saya mencoba menjadi pendengar yang baik, dan sambil sharing pengalaman pribadi, bahwa menjadi Katolik bagi saya itu suatu panggilan. Setelah itu dalam doa pribadi, saya juga mendoakan teman istri saya itu.

Rupanya setelah kejadian ini, hari-hari saya berikut banyak dipenuhi pikiran-pikiran yang melawan iman kepada Kristus. Saya pikir ini adalah godaan, dan selama masih godaan dan belum disetujui, maka ini belum dosa. Karena menyadari, kalau ini godaan, maka saya mencoba mengatasi godaan melawan iman ini, sesuai dengan pengajaran yang pernah saya terima.

Apabila mengalami godaan melawan iman, jangan panik, karena seringkali godaan ini bila dilawan dengan frontal, tegang dan panik, akan makin kuat. Jadi berusahalah tetap tenang, dan ungkapkan faal-faal iman, yaitu kata-kata yang berisi ungkapan iman, misalnya: “Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu” atau mendoakan “Aku Percaya” dengan penyadaran dan perlahan.

Bila godaan ini tetap mengganggu, juga bisa diungkapkan ke pembimbing rohani atau bapa pengakuan, supaya bisa dibantu dan didoakan. Dan sebenarnya dengan mengungkapkan saja kepada pembimbing rohani atau bapa pengakuan, godaan itu sendiri sudah dilemahkan.

Rupanya setahun itu begitu seringnya muncul dalam pikiran, godaan-godaan melawan iman, dan setiap kali menerima sakramen pengakuan dosa, saya juga mengungkapkan hal ini kepada Imam. Ada satu kesempatan dalam nasihat pengakuan yang begitu menyentuh, “Seperti sedang menonton film di televisi, tentunya kita fokus ke film utama, tetapi di tengah-tengah film utama ini, juga ada iklan-iklan. Kelihatan iklan itu menarik, tetapi perhatikan sambil lalu saja, kita harus tetap fokus ke film utamanya.”

Godaan-godaan melawan iman ini begitu menyiksa batin dan membuat saya takut, sampai suatu ketika sesudah menerima sakramen pengakuan dosa, saya berdoa dalam Gereja, dan saya diingatkan dengan sabda Tuhan ini : “Damai sejahtera yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (bdk. Yoh 14:27). Lalu saya seperti ditarik masuk dalam suatu pengalaman rohani, sekejab, tidak ada penglihatan atau apapun, saya tidak mengerti pengalaman apa itu. Walau hanya sekejab, tapi saya diberi keyakinan bahwa Tuhan menolong saya.

Selama beberapa hari kemudian saya diingatkan, bahwa di awal Tahun Iman, saya sendiri mohon kepada Tuhan untuk pembaruan iman secara pribadi dan Tuhan mengabulkan doa saya itu. Dan pertolongan-Nya yang saya alami, memang mendekati akhir Tahun Iman.

Kemudian saya disadarkan dan dingatkan kembali akan pengajaran dan kotbah yang pernah saya terima dari seorang Imam:

“Iman itu bukanlah hal yang mana suka, tetapi iman kepada Kristus ini soal hidup dan mati kita. Percaya kepada Kristus, kita hidup dan tidak percaya kepada Kristus, kita mati” (bdk. Mat 10:32-33).

Kemudian saya juga diingatkan pentingnya memperbarui iman dan penyerahan diri kepada Kristus setiap hari, misalnya dengan doa spontan setiap hari dalam doa pagi:

“Tuhan Yesus Kristus, saya mau menerima Engkau sebagai Tuhan dan Penyelamatku secara pribadi”

Bagi saya pribadi pengalaman sepanjang Tahun Iman ini adalah rahmat Tuhan yang luar biasa, dan kata-kata Tuhan Yesus sendiri dalam Injil yang kita renungkan hari ini, begitu membekas di hati saya:

”Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah  dan gentar hatimu” (Yoh 14:27)

Dalam Kitab Suci, kata yang dipakai untuk damai sejahtera adalah “shalom”, dan kata ini tidak pernah berarti tidak ada kesulitan. Kata “shalom” ini berarti segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan tertinggi.

Perdamaian yang diberikan dunia, seringkali bersifat melarikan diri dari kenyataan, menghindari kesulitan atau menolak menghadapi masalah.

Damai sejahtera yang diberikan Tuhan Yesus bersifat mengatasi dan menaklukkan. Tidak ada pengalaman hidup apapun, entah itu masalah, beban-beban, kesedihan, bahaya yang dapat merengut damai sejahtera dari hati seseorang.

Damai sejahtera ini tidak bergantung pada situasi-situasi lahiriah, tetapi damai sejahtera ini lahir dari hubungan pribadi dengan Allah.

Kita melihat teladan konkret dari para kudus dan para martir di dalam Gereja Katolik, bahkan di tengah penderitaan dan penganiayaan, dapat beriman kepada Kristus sampai akhir, karena dikuatkan oleh Roh Kudus sendiri dengan damai sejahtera yang datang dari Tuhan.

Akhirnya ada ungkapan St. Yohanes Salib tentang pentingnya memelihara ketenangan dan kedamaian batin:

“Seandainya dunia mau kiamat dan sekelilingmu menjadi kacau balau, tetaplah berusaha memelihara ketenangan dan kedamaian batin. Karena hanya dalam ketenangan dan kedamaian batin, orang dapat menemukan solusi terbaik dari kekacauan tersebut.”

Tuhan Yesus Kristus, ampunilah kami, karena seringkali kurang percaya dan lebih memilih kedamaian palsu yang ditawarkan dunia. Oleh karena itu, berikanlah kepada kami damai sejahtera yang sejati, yang berasal dari Engkau sendiri. Amin. (ET)

Hasil gambar untuk John 14:27