Sentuhan Allah

Renungan Jumat 20 April 2018

Bacaan: Kis. 9:1-20Mzm. 117:1,2Yoh. 6:52-59

SENTUHAN ALLAH

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (Yoh 6:56)

Beberapa tahun yang lalu, ketika menyaksikan anak saya menerima komuni pertama, ia mengenakan gaun putih dan mahkota di kepala, ia berjalan ke depan bagaikan mempelai. Hati saya begitu bahagia, saya percaya karena ia pun sungguh telah menjadi mempelai Kristus. Melalui tubuh dan darah Kristus, ia benar-benar mengalami persatuan cinta kasih dengan Kristus Yesus. Saat itulah Allah datang menyentuh hati anak-anak yang dirindukan dan dikasihi-Nya.

Seperti peristiwa yang dialami oleh Rasul Paulus dalam perjalanannya menuju Damsyik. Rasul Paulus, sang penganiaya umat kristiani, mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Allah dan ia menjadi buta. Setelah tiga hari kemudian Allah menyembuhkan dia melalui Ananias. Saat Allah menyentuh, maka selaput yang menutupi matanya gugur dan ia menjadi sembuh. Sentuhan Allah telah mengubah kehidupan Paulus seratus delapan puluh derajat, ia pun kemudian menjadi rasul yang gagah berani tidak takut mati demi memperjuangkan imannya kepada Yesus yang adalah Allah.

Allah senantiasa menyentuh kita lewat berbagai hal, di antaranya lewat Sakramen Ekaristi. Ketika kita datang menyambut tubuh dan darah-Nya lewat Ekaristi dengan penuh percaya dan penghayatan yang benar, maka kita pun akan menghasilkan buah pertobatan yang nyata seperti Rasul Paulus.

Namun sangat disayangkan masih ada beberapa umat Katolik yang belum mengerti dan menghayati dengan benar betapa mulianya perjumpaan dan persatuan dengan Yesus melalui Sakramen Ekaristi. Misa menjadi sekedar rutinitas mingguan belaka. Ada umat yang masih menggunakan telepon genggam meskipun sudah berkali-kali diingatkan, ada yang berbincang-bincang selama misa, ada yang pikirannya ke mana-mana, ada yang datang dalam keadaan marah, berdosa dan belum berpuasa satu jam sebelumnya, bahkan ada yang keluar menunggu di mobil atau di toko dan datang kembali untuk menerima komuni. Juga ibadat misa yang seringkali dirayakan di rumah-rumah umat, beberapa kali saya menjumpai tuan rumah yang sibuk dengan urusan lain-lain, atau tamu yang berdatangan keluar masuk, anak-anak kecil yang berlarian kian kemari, sehingga perayaan Ekaristi menjadi terganggu.

Marilah kita mempersiapkan diri dengan benar dalam menyambut Sakramen Ekaristi. Saat itulah kita akan mengalami sentuhan Allah yang begitu ajaib, mulia, dan dahsyat sehingga kita makin disembuhkan, dibaharui, dikuatkan iman kita, dijungkir balikkan segala sesuatu konsep pemikiran serta kebekuan hati kita, selaput mata kita akan dibukakan sehingga kita mengerti  apa yang baru, yang benar dan yang berkenan. Sampai kepada konsep bahwa hidupku bukannya aku lagi tapi Yesus yang sungguh hidup dalamku. Di samping itu kita mempunyai tugas untuk membawa orang lain mendapatkan sentuhan Allah yang luhur mulia ini.

Tuhan memberkati. (ppt)

Hasil gambar untuk eucharist