Kubur Kosong

Renungan Minggu 1 April 2018, HARI MINGGU PASKAH KEBANGKITAN TUHAN

Bacaan: Kis. 10:34a,37-43; Mzm. 118:1-2,16ab-17,22-23; Kol. 3:1-4atau 1Kor. 5:6b-8; Yoh. 20:1-9

KUBUR KOSONG

Permenungan: 

Kira-kira bagaimanakah perasaan murid yang berdiri di bawah salib Yesus kemudian membaringkan-Nya di dalam kubur pada hari Jumat Agung, ketika mereka kembali tiga hari setelahnya dan menemukan kubur yang ditutup dengan batu telah terbuka dan kosong?  Yohanes, begitu juga Petrus adalah yang pertama tiba di makam Yesus pada pagi hari Minggu Paskah. Seperti halnya Maria Magdalena dan murid-murid yang lain, Yohanes tidak siap mental untuk menerima kenyataan bahwa makam sudah kosong dan kemudian mendengar sapaan seorang malaikat (Luk 24:5).

Kira-kira apakah yang dilihat Yohanes sehingga ia menjadi percaya bahwa Yesus sudah bangkit? Pasti bukan jenazah Yesus yang mengingatkan dia akan kematian yang tragis dari seorang guru yang selain mengajar juga membuat mukjizat.

Kubur kosong mengingatkan Yohanes akan nubuat Yesus bahwa Ia akan bangkit setelah tiga hari. Karena karunia imanlah Yohanes menyadari bahwa tidak ada kubur apa pun dan di mana pun di dunia ini yang menyimpan tubuh Tuhan, pemberi kehidupan. Yohanes melihat dan percaya (Yoh 20:8).

Yohanes harus terlebih dahulu bergumul dengan perasaannya ketika melihat kubur kosong sebelum akhirnya ia dapat bertemu dengan Tuhan yang telah bangkit saat hari menjelang malam, bersama-sama dengan beberapa murid yang lain.

Yohanes menuliskan kesaksiannya sebagai saksi mata yang melihat kehidupan, kematian dan kemudian kebangkitan Yesus Kristus.

Bagaimana dengan kita, dengan perjalanan iman kita? Sudahkah kita memberikan kesaksian iman akan Yesus Kristus, Tuhan kita yang hidup, wafat dan bangkit kembali?  

Satu hal yang pasti adalah, jika Yesus tidak bangkit dan menampakkan diri kepada para murid, kita tidak akan pernah mendengar tentang Dia, apalagi mengenal dan sampai mengimani-Nya. Kebangkitan inilah pusat dari iman Kristiani; dan melalui karunia Roh Kudus, Tuhan memberikan kita “mata iman” untuk mengenal Dia. Sukacita terbesar adalah bertemu dengan Kristus yang hidup dan mengenal dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita.

Masihkah ada keraguan, kebimbangan dalam diri kita?

Doa: “Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah menang atas maut dan sekaligus memenangkan bagi kami kehidupan yang baru. Tambahkanlah iman kami senatiasa agar kami dapat melihat Engkau dalam kemuliaan-Mu. Ajar kami untuk semakin mendekatkan diri kepada-Mu dan bertumbuh dalam pengenalan akan Engkau serta hidup dalam kasih-Mu.”

MM

Hasil gambar untuk empty tomb