Biarlah Bersuka Hati Orang Yang Mencari Tuhan

Renungan Rabu 4 April 2018

Bacaan: Kis. 3:1-10Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9Luk. 24:13-35.

BIARLAH BERSUKA HATI ORANG YANG MENCARI TUHAN

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. (Luk 24:13-14)

Sering saya berbincang dengan banyak orang dan bertanya kapan saat-saat kita merasa paling dekat dengan Tuhan. Kebanyakan orang menjawab pada saat-saat menderita. Hal tersebut sepertinya sesuai dengan kenyataan yang saya alami dalam kehidupan ini.

Bacaan dalam Oktaf Paskah ini menggambarkan kesedihan dan kepedihan dua orang murid yang dalam perjalanan menuju Emaus. Yang ada dalam pikiran mereka seperti yang tertulis dalam Luk 24:14, adalah tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Mereka merasa kacau bahwa guru yang mereka hormati, yang Petrus akui sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, melakukan kebaikan, menggandakan roti dan ikan, menyembuhkan banyak orang dan melakukan mukjizat yang tidak dapat dilakukan manusia biasa; sehingga banyak orang yang mengharapkan Yesus dapat membebaskan mereka dari jajahan orang Romawi; ternyata mati disalib sebagai seorang penjahat, bahkan dimakamkan sebagai manusia kebanyakan. Pada hari ketiga, dikejutkan pula oleh berita dari para wanita yang mengabarkan bahwa mereka berjumpa dengan malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Yesus hidup, tetapi mereka tidak melihat Yesus. Hal tersebut membuat mereka  dalam keadaan bingung, seperti kehilangan semangat dan tidak tahu apa yang mereka harus perbuat.

Syukur karena begitu besar kasih Yesus akan murid-murid pilihan-Nya, mendekati mereka, lalu berjalan bersama mereka. Yesus mengerti kesedihan, kebingungan, kekacauan hati mereka, menegur kelambanan hati mereka, dan menjelaskan serta memberi pengertian baru tentang Dia seperti yang tertulis dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Sabda-Nya bukan asbun dan ada kuasa sehingga membuat mereka tertarik untuk mengetahui lebih lagi. Yesus diajak untuk tinggal bersama mereka, karena hari sudah menjelang malam. Saat duduk makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecahkan dan membagikan kepada mereka. Seketika itu, terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenali Yesus yang mereka kasihi dan rindukan.

Adakah saya mengenali Yesus yang hadir dalam Perayaan Ekaristi terutama saat konsekrasi? Yesus yang senantiasa mengasihiku dan merindukanku seperti yang dilakukan Yesus pada kedua murid dalam perjalanan ke Emaus. Tuhan singkapkanlah apa yang menyelubungi pikiran dan hatiku, sehingga saya dapat juga mencari dan menemukan Engkau dalam Perayaan Ekaristi. Mungkinkah karena saya kurang bersungguh-sungguh mengasihi-Mu? Sering hanya tubuhku yang hadir di Ekaristi sedangkan akal budiku entah ke mana. Ampunilah saya Tuhan, tambahkanlah imanku pada-Mu, agar saya dapat menjadi saksi-Mu dan menjadi tanda kehadiran-Mu. Sehingga banyak orang menjadi percaya akan Dikau seperti orang lumpuh yang Engkau sembuhkan.

Dia bersukacita, melompat-lompat memuji Allah (Kis 3:8) dan berkata: “Biarlah bersuka hati orang yang mencari Tuhan” (Mzm 105:3). (JRW)

Hasil gambar untuk Psalms 105:3