Tidak Jauh Dari Kerajaan Allah

Renungan Jumat 9 Maret 2018

Bacaan: Hos. 14:2-10Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17Mrk. 12:28b-34

TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:34)

Beberapa waktu yang lalu, media sosial Indonesia digemparkan dengan peristiwa Saracen, dan bahkan akhir-akhir ini muncul MCA yang dibuat dan dijual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab demi keuntungan pribadi maupun kelompok tertentu. Kelompok-kelompok ini menebar ujaran kebencian untuk menyerang dan menjatuhkan orang lain maupun kelompok lain dengan mengadu domba, memfitnah, menghakimi, bahkan membunuh karakter orang lain dengan membuat informasi palsu.

Peristiwa ini sangat meresahkan masyarakat. Tidak ada damai, apalagi kasih. Masyarakat seakan kehilangan akal sehat dan hati nuraninya. Mulai dari masalah kecil hingga ke masalah besar (demo) yang berujung ke ranah hukum. Meskipun demikian, masih ada orang yang baik, bijak, tulus dan jujur bahkan peduli terhadap sesama. Peristiwa tersebut mengingatkan kita pada bacaan Injil hari ini, sedekat apakah Kerajaan Allah itu dalam kehidupan kita?

Dalam kehidupan sehari-hari, hati dan pikiran kita juga bisa terpengaruh hal-hal keduniawian sampai merusak hubungan kita dengan Tuhan maupun sesama. Apa yang harus kita lakukan agar Kerajaan Allah dekat dalam kehidupan kita.

Pertama dalam masa Pra Paskah ini, kita diajak untuk merenungkan kehidupan (retret agung) bersama Allah. Dalam bacaan pertama, Hosea mengingatkan kita untuk datang kepada Allah dengan penuh penyesalan mohon pengampunan karena percaya akan kasih-Nya, kerahiman-Nya dan kebaikan-Nya yang memulihkan hubungan kita dengan Allah dan sesama. Kita kembali diam dalam naungan-Nya sehingga kita tumbuh seperti gandum dan berkembang seperti pohon anggur Libanon bahkan berbuah (Hos 14:3, 5, 8, 10).

Kedua, kita dipanggil untuk bijaksana. Orang bijaksana bukan hanya tahu memilah-milah, tetapi mampu memilih yang benar. Bukan hanya tahu merinci, tetapi melihat makna terdalam dari isi. Bukan hanya tahu menjawab tetapi bertanggung jawab atas apa yang dikatakan maupun yang dilakukannya. Orang bijaksana yaitu orang yang mendengar perkataan Tuhan dan melakukannnya (Mat 7:24), maka orang bijaksana tidak jauh dari Kerajaan Allah. Dasarnya adalah hukum utama dan terutama yaitu mencintai Allah lebih dari segala sesuatu dan mencintai sesama seperti diri sendiri. Belajar pada pribadi Yesus yang objektif. Dia memberi pujian yang pantas atas kejujuran seorang ahli Taurat dalam memahami inti ajaran-Nya yaitu tentang hukum yang paling utama daripada korban bakaran dan korban sembelihan.

Tidak jauh adalah dekat. Apakah dekat itu cukup dan selesai? Dekat itu masih setengah perjalanan, belum cukup dan belum selesai. Akan penuh kalau menjadi sang empunya. Siapa yang menjadi empunya Kerajaan Allah? Dalam khotbah di bukit, Yesus mengajarkan bahwa orang yang miskin di hadapan Allah dan yang dianiaya oleh sebab membela kebenaran, itulah yang empunya Kerajaan Allah (Mat 5:3,10). Tuhan Yesus adalah Sang Kebenaran.

Ketiga, setelah bijaksana kita dipanggil untuk rela berkorban artinya mampu mengasihi seperti yang Tuhan Yesus lakukan bagi kita. Dia disalib karena begitu besar kasih-Nya untuk menebus dan menyelamatkan kita.

Pengalaman saya mengenai mengasihi, beberapa waktu yang lalu, saya rindu untuk mengalami mengasihi Tuhan dan sesama. Secara manusia, saya tidak mampu melakukannya, maka saya berdoa mohon dimampukan Tuhan untuk melakukannya. Persis pada waktu Pra Paskah seperti sekarang ini, Tuhan memberi soal kepada saya untuk saya praktekkan yang sebelumnya saya tidak menyadarinya kalau peristiwa tersebut merupakan jawaban dari kerinduan saya. Seperti orang Katolik pada umumnya, pada hari Jumat saya puasa dan pantang. Pada hari itu saya masih di kantor, mendapat berkat nasi kotak. Mengingat saya puasa, saya berpikir nasi kotak tersebut saya berikan ke orang lain yang tidak seiman dengan saya (berarti tidak puasa). Nyaris nasi kotak akan saya berikan kepada seseorang, tetapi ketika saya mau mengatakan dan menyerahkan, ada suara di dalam hati untuk menahannya. Hal ini terjadi sampai tiga kali sehingga nasi kotak tetap saya bawa pulang. Dalam perjalanan pulang, saya singgah di salah satu gereja untuk mengikuti ibadat jalan salib dan misa di paroki tersebut. Dalam keheningan dan penghayatan berdoa mengikuti ibadat jalan salib, tiba-tiba saya mendengar suara dari dalam hati yang paling dalam mengatakan, “Nasi kotakmu tadi berikan ke orang itu lho.” (dengan menunjuk ke salah seorang yang setiap hari saya doakan yaitu orang yang sakit jiwa, telanjang dan selalu marah-marah karena  setiap hari diganggu anak-anak). Saya percaya itu suara Tuhan, dengan menangis penuh sukacita, saya bertanya dalam hati, “Lho Tuhan kalau nasi ini saya berikan kepada dia, kemudian bagaimana dengan minumnya?” ( setiap hari saya melihat dia minum air comberan). Tuhan berbicara lagi, “Sampaikan kepada suamimu.” Saya menangis lagi, tangisan sukacita dan mengucap syukur bahwa Tuhan memperkenankan saya berbagi kasih dengan orang yang tepat. Saya tidak peduli dengan orang-orang yang ada di dalam gereja melihat saya menangis atau bahkan menilai saya. Selesai misa, saya tidak sabar untuk menceritakan peristiwa tersebut kepada suami saya, maka baru sampai pintu gereja saya langsung ceritakan apa yang saya alami saat mengikuti ibadat jalan salib dan suami saya mengatakan “Kalau begitu kita belikan saja air minum yang botol dan sebelum diberikan kita bukakan tutupnya.”

Setelah sampai pada tempat orang yang dimaksud Tuhan, saya mencari dia dan memanggil dengan sebutan ibu. Karena Tuhan yang mengutus, maka tidak ada rasa takut untuk menemui ibu itu, yang ada hanya kasih. Karena hujan, dia berteduh dengan membuat atap dari kardus-kardus bekas di pinggir rel kereta api. Setelah saya menemuinya dan memberikan nasi kotak beserta air minum, saya memberikan tanda salib kecil di dahinya dengan mengatakan, “Ibu, Tuhan Yesus mengasihi Ibu.” Ibu itu mengalami damai dan tenang yang terpancar dari wajahnya. Ketika  saya beranjak pergi untuk meninggalkan dia, dalam perjalanan saya berdoa, “Tuhan, Engkau Allah yang luar biasa menjaga ibu itu, meskipun dia makan makanan kotor dengan mengais di tempat sampah, dan minum air comberan, kalau malam kehujanan, Engkau beri dia kesehatan. Terimakasih Tuhan, saya boleh belajar mengasihi Engkau melalui mengasihi sesamaku.”

Saya digerakkan Tuhan untuk melakukan firman-Nya “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45). Dan bukan hanya sampai di sini, tetapi Tuhan juga membuka hati suami saya dan digerakkan untuk peduli kepada ibu itu dengan mengatakan, “Ma, setiap pagi kamu kan masak, coba kamu tambahi bahan dan porsinya dan bungkuskan buat ibu itu.” Kemudian dilanjutkan, “Kamu kan juga punya daster yang besar dan tidak kamu pakai, berikan pada dia, kasihan dia telanjang.” Saya menangis lagi dengan penuh sukacita dan berdoa, “Terima kasih Tuhan, Engkau tidak saja menjamah aku, tetapi juga membuka hati suamiku untuk peduli terhadap orang yang tersingkirkan. Engkau mengajariku bahkan suamiku dan keluargaku untuk mengasihi-Mu.” Setiap pagi saya memasak untuk keluarga, juga untuk anggota keluarga baruku yaitu ibu itu, dia tahu bahkan mengerti dengan menunggu kedatangan saya di pinggir jalan yang saya lalui setiap pagi hari.

Semenjak peristiwa ini, saya boleh belajar bagaimana itu mengasih, beramal, atau terpaksa melakukan kebaikan demi harga diri maupun status sosial.

Saudara, mari kita berusaha secara terus menerus untuk menyenangkan hati Tuhan dengan mengasihi-Nya dan mengasihi sesama agar banyak orang tidak hanya dekat Kerajaan Sorga tetapi juga memuliakan-Nya.  Amin.

Tuhan Yesus memberkati.

ECMW

Image result for mark 12:34