Raja Yang Rendah Hati

Renungan Minggu 25 Maret 2018, Minggu Palma

Bacaan: Yes. 50:4-7Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24Flp. 2:6-11Mrk. 14:1-15:47 (Mrk. 15:1-39)

RAJA YANG RENDAH HATI

Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan (Mrk 11: 8-9)

Dalam perayaan Minggu Palma, kita menyanyikan lagu “Di kala Yesus disambut digerbang Yerusalem, Umat bagai lautan dengan palma di tangan… Gemuruh sorak dan sorai, Kristus Raja Damai, Yerusalem, Yerusalem, lihatlah Rajamu…” Sambil mengangkat tangan dan melambaikan daun-daun palma di awal Perayaan Ekaristi, seakan kita berada di Yerusalem bersama umat Israel melambai-lambaikan daun Palma bagi Yesus sang Raja.

Umat melambai lambaikan daun palma merupakan lambang sukacita, sekaligus lambang pertobatan (daun-daun palma tahun lalu dibakar dan dioleskan pada dahi lambang pertobatan pada Rabu Abu), maka daun palma menggambarkan sukacita sekaligus dukacita dalam hidup ini.

Minggu Palma merupakan hari pertama dalam pekan suci Paskah, Yesus yang dielu-elukan sebagai sebuah harapan baru bagi umat Israel (umat manusia), Yesus telah membangkitkan pengharapan yang besar dalam hidup orang banyak terlebih mereka yang menderita dan terbuang, Yesus adalah pribadi yang selalu peduli pada situasi kondisi manusia yang terjerumus dalam dosa, sakit, masalah, dsb. Yesus adalah pribadi yang selalu peduli, maka ia dielu-elukan ketika memasuki kota Yerusalem.

Dalam peristiwa Yesus memasuki Yerusalem, Ia menunggang keledai (bukan kuda atau kereta kencana), ia tidak dikawal oleh sekelompok pasukan bersenjata layaknya raja memasuki sebuah kota, dalam kitab suci di katakan: “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Flp 2:6-8), Ia memasuki Yerusalem untuk mendaki Golgota dengan memikul salib-salib (dosa) kita. Kalau Yesus mau merendahkan diri dengan menaiki keledai, tidak dikawal pasukan bersenjata, tidak menganggap setara dengan Allah, apakah kita berani menyombongkan diri dengan segala kekayaan, kepandaian, kekuasaan yang kita miliki. Peristiwa Yesus memasuki Yerusalem, semoga menyadarkan kita untuk sadar akan keberadaan kita tiada lain “hanya debu”.

Yesus sebagai Raja memasuki Yerusalem, namun Ia juga hadir sebagai Sahabat dan Saudara bagi kita, Ia merendahkan diri-Nya untuk berjalan bersama kita, Ia menjadi cahaya dalam kegelapan hidup. Dalam Yesus penuh sukacita, sebagian umat Israel bersedih karena Raja mereka disalib dan mati, hilanglah semua harapan, namun kita mengetahuinya bahwa pada hari ketiga Yesus bangkit, sebuah kemenangan, kebangkitan, sukacita kebahagiaan. Oleh karena itu, jangan izinkan kesedihan, masalah dan keputusasaan, merenggut sukacita Kristus dari hidup kita, sebab segala kesedihan, masalah yang sedang kita hadapi, ketahuilah di hari ketiga (artinya: pada akhirnya) ada kebangkitan bersama Kristus, ada kemenangan yang membawa sukacita kebahagiaan. Jangan izinkan iblis datang menyamar seakan-akan malaikat, dengan licik memengaruhi dan akhirnya merenggut sukacita kita, jangan biarkan iblis mencuri pengharapan kita akan Yesus.

Lihatlah di sekitar kita, sudah berapa banyak orang yang menjadi korban dosa-dosa kita. Arogansi, persaingan ekonomi, caci maki, fitnah, amarah, perselisihan, kebohongan, tipu muslihat, kepalsuan, dengan kekuasaan kita menindas orang lemah. Harta yang seharusnya dipakai untuk memuliakan Tuhan tetapi kita pakai untuk melakukan perbuatan dosa. Pendidikan tinggi yang seharusnya kita pakai untuk membantu orang yang lemah namun justru kita memandang remeh kepada mereka yang berpendidikan rendah. 

Saudara, ingatlah akan cinta-Nya, pengorbanan-Nya untuk menyelamatkan kita dari maut. Mari dalam persiapan menyambut Paskah, tinggalkan manusia lama kita dan pada saat Paskah nanti kita bangkit bersama Kristus dalam rupa manusia baru yang telah dikuduskan, disucikan, dimenangkan, terbebas dari dosa dan memperoleh hidup baru penuh sukacita kebahagiaan dalam bimbingan naungan Tuhan.

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33)

Tuhan Yesus memberkati kita semua. (IGP)

Hasil gambar untuk mark 11:8