Pengakuan Iman

Renungan Sabtu 17 Maret 2018

Bacaan: Yer. 11:18-20Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12Yoh. 7:40-53

PENGAKUAN IMAN

Dalam Injil yang kita renungkan hari ini, kita jumpai reaksi yang berbeda-beda di kalangan orang Yahudi sesudah mendengarkan pengajaran Yesus pada puncak perayaan hari raya Pondok Daun. Di kalangan orang banyak mulai mengakui bahwa Yesus adalah nabi yang akan datang, yang lain menyatakan Yesus adalah Mesias, yang lain ada yang menentangnya. Kemudian penjaga-penjaga bait Allah yang seharusnya bertugas membawa Yesus ke hadapan imam kepala dan orang Farisi, malahan tidak mau menangkap Yesus dan menyatakan bahwa belum ada orang yang berbicara seperti Yesus. Sedangkan di kalangan imam kepala dan orang Farisi sendiri, walaupun sebagian besar menentang Yesus, kita jumpai Nikodemus yang justru membela Yesus.

Nikodemus yang pernah datang malam-malam kepada Yesus dan mengakui bahwa Yesus adalah guru yang diutus Allah, karena tanda-tanda yang dikerjakan Yesus menunjukkan bahwa Allah menyertai Yesus. (Bdk. Yoh 3:1-21). Nikodemus walaupun pada saat awal tidak berani terang-terangan mengakui imannya kepada Yesus, tetapi dalam Injil pada hari ini, dia justru membela Yesus dan ketika Yesus wafat disalib, bersama Yusuf dari Arimatea, dia adalah orang yang berusaha memberikan penguburan yang layak bagi Yesus. Dan dalam tradisi diceritakan akhir hidup Nikodemus sebagai salah satu martir pada abad pertama.

Jika kita renungkan perjalanan iman Nikodemus dalam mengikuti Tuhan Yesus, dari figur salah seorang pemimpin agama Yahudi, yang datang malam hari untuk bercakap-cakap secara pribadi dengan Yesus, sampai pada akhir hidupnya dia mempersembahkan kemartiran demi imannya kepada Yesus, maka dapat kita renungkan juga perjalanan iman kita.

Apakah kita berani mengakui iman kita kepada Yesus? 

Saat menjelang pekan suci dalam masa Prapaskah ini, kita jumpai dalam bacaan Injil dalam kalender liturgi adanya konfrontasi yang semakin lama semakin tajam antara imam-imam kepala dan orang Farisi dengan Tuhan Yesus, yang akhirnya berakhir dengan penangkapan, tuduhan-tuduhan palsu dan penyaliban Tuhan Yesus.

Suatu yang tragis dalam pandangan dunia ini, bagaimana Dia yang adalah nabi, guru, Mesias dan Tuhan membiarkan diri-Nya ditangkap, disiksa dan disalib?

Apa yang terjadi pada Tuhan Yesus ini sesungguhnya merupakan penggenapan nubuat Kitab Suci tentang Hamba Yahwe yang menderita dalam kitab Nabi Yesaya 52:13-53:12.

Yesaya 52:13-14, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia — begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi”

Yesaya 53:2-7, “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. 

Yesaya 53:10-12, “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak”. 

Mari kita renungkan teks Kitab Suci dari kitab Nabi Yesaya ini untuk membawa kita masuk dalam Pekan Suci. Untuk masuk dalam perenungan apa yang diungkapkan Yesus kepada Nikodemus :

Yohanes 3:16-17, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

(ET)

Hasil gambar untuk faith