Kasih Yang Menyelamatkan

Renungan Minggu 11 Maret 2018

Bacaan: 2Taw. 36:14-16,19-23Mzm. 137:1-2,3,4-5,6Ef. 2:4-10Yoh. 3:14-21

KASIH YANG MENYELAMATKAN

Selamat pagi sahabat Kristus.
Saat kita membicarakan kata “kasih”, maka ada banyak persepsi dan sisi tentang kasih. Ada yang mengatakan kasih itu terjadi tanpa sebab akibat yang jelas, ada pula yang berpendapat, melakukan kasih itu mudah, karena tidak ada standarnya, namun banyak juga yang mengatakan bahwa kasih itu sesuatu yang sangat sulit dilaksanakan.

Hari ini, ketiga bacaan sabda Tuhan, semuanya berbicara tentang kasih Allah. Kasih Allah yang selamanya berujung pada keselamatan, baik keselamatan dalam hidup dunia ini maupun hidup yang akan datang.
Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Satu ayat yang luar biasa, di dalamnya kental dengan pernyataan kasih Allah:

  1. Serusak apapun rupa dunia ini, Allah tidak pernah membencinya atau menyesal telah menciptakan dunia ini. Seperti halnya, Allah tidak pernah menyesal memilih Israel sebagai milik kepunyaan-Nya.
  2. Cara Allah untuk menjadikan dunia dan seisinya untuk menjadi utuh kembali, melalui suatu karya yang amat sangat spektakuler. Dia utus anak-Nya yang tunggal. Allah tidak lagi mengutus para nabi atau pun malaikat-malaikat, tetapi Sang Putera. Tujuannya jelas, Allah seolah-olah tidak hanya menawarkan keselamatan, namun “memaksa” menganugerahkan keselamatan yang serba gratis itu kepada semua manusia.
  3. Allah menghendaki tidak ada satu pun manusia yang binasa karena pelanggarannya. Dosa manusia tidak terhitung besarnya, ini menyebabkan manusia “mati karena pelanggarannya”, namun hakekat Allah adalah menghendaki kehidupan, sehingga Allah tidak hitung-hitungan tentang seberapa besar dosa kita. Allah tidak pernah berubah, Dia menghendaki kita hidup bukan binasa.
  4. Kehadiran Kristus sebagai juru selamat, membawa dampak positif bagi manusia. Setelah mati dalam hidup di dunia ini, Kristus sediakan hidup yang kekal. Allah tidak ingin manusia ini mati dan terhilang seperti debu yang dihempaskan oleh angin. Allah ingin kita semua mengalami hidup yang kekal.
  5. Syaratnya cuma satu: percaya. Inilah hambatan yang sering membuat kita gagal mengalami kasih Tuhan. Manusia dengan segala kuasanya, selalu ingin melakukan segala sesuatunya dengan upayanya sendiri.

Suatu saat, saya mengalami kecelakaan di jalan tol. Tabrakan beruntun. Sebelumnya, saya mempunyai kebiasaan buruk kalau naik mobil saya tidak pernah memakai sabuk pengaman. Alasan saya, karena saya punya rekor tidak pernah kecelakaan selama saya punya mobil. Sebelum hari H kecelakaan, saya ditegur seorang teman karena kebiasaan buruk saya tadi.

Hari H, saya tergesa-gesa karena ada janji dengan seseorang dan saya sudah terlambat. Waktu bayar di loket tol, saya teringat akan teguran teman mengenai sabuk pengaman, sehingga saya pasang sabuk pengaman. Baru lima menit di tol, tiba-tiba kecelakaan beruntun itu terjadi. Tabrakan yang melibatkan lebih dari delapan mobil. Mobil saya ada di tengah, sehingga rusak parah bagian depan dan belakang. Puji Tuhan, saya selamat, tidak cedera sama sekali. Kepala saya sempat terbentur dengan keras, namun badan saya tidak sampai terhempas, karena ada sabuk pengaman. Saya bersyukur, Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatunya sebelum kecelakaan terjadi, termasuk teguran seorang teman tentang sabuk pengaman.

Mari sahabat Kristus, di masa pra Paskah ini, kita persiapkan diri sebaik mungkin. Perbanyak waktu untuk bersama dengan Tuhan. Teruslah berusaha untuk mengalami kasih Allah yang menghadirkan bukan hanya berkat kelimpahan hidup saat ini saja, tapi yang jauh lebih penting adalah hidup yang kekal.

Selamat berhari minggu, selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati.

BVJSW

Related image