Kasih Allah Tak Berkesudahan

Renungan Senin 26 Maret 2018

Bacaan: Yes. 42:1-7Mzm. 27:1,2,3,13-14Yoh. 12:1-11

KASIH ALLAH TAK BERKESUDAHAN

Dalam Injil Yoh.12:1-11, saya terkesan kisah Maria yang membasuh kaki Yesus memakai minyak wangi mahal dengan rambutnya. Banyak orang melihat dan berpikir bahwa tindakan Maria itu suatu kesia-siaan belaka. Tetapi Yesus malah memberikan pelajaran hidup dengan berkata: “Biarlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”

Perbuatan baik dan cara hidup yang baik akan diingat dan dikenang sampai selamanya meskipun orang itu sudah mati/meninggal dunia.

Saya akan selalu ingat dan terkenang cara pak Tjokro berbicara yang keras dan bersemangat ketika mengajar di kelas. Saya juga tidak akan lupa tindakannya bersama istrinya yang memutuskan saya boleh ikut retreat para orang yang lebih senior (kalangan terbatas), meskipun saya belum ikut retreat awal. Ketika tiba di Tumpang, banyak peserta menanyakan tentang diri saya, mereka heran kok saya dimasukkan. Kesan itu tidak akan bisa saya lupakan. Yang terjadi adalah saya sangat bersemangat dan mendalami hidup dalam kelompok Pembaruan Karismatik Katolik.

Kesan dan kenangan indah tentang Pak Donny almarhum. Gaya dan semangatnya tidak terlupakan ketika mengajar di kelas. Banyak murid Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) pasti tidak akan lupa. Gayanya menerangkan tentang ayat Wasiat Agung: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…… Ketika para pengajar SEP mengunjungi dia di rumahnya ketika sakit, kurus, rambutnya sudah mulai gundul, semangat bicaranya dan pancaran wajahnya, sungguh tak terlupakan. (baca: In Memoriam Donny Vincent, Profil Donny Vincent)

Hati saya terharu mengenang sahabat-sahabat yang sudah masuk di dalam kehidupan saya, yang mengubah hidup saya lebih baik dan berguna bagi sesama dalam mengikuti misi Yesus Tuhan kita.

Apalagi tentang Yesus yang menghidupi kehidupan saya pribadi. Lewat kasih Yesus yang yang begitu besar inilah saya bisa sekolah dari SD sampai perguruan tinggi, dibiayai oleh Pastor dan Suster, mulai dari rumah orang tua saya, berlanjut ketika di SMA diasramakan di Dempo Malang, sekolah Katolik terkenal, akhirnya di Perguruan tinggi Atma Jaya yang didanai oleh om-om kaya yang mendirikan Yayasan…..oh…hidup saya ….hidup saya ini dihidupi oleh kasih banyak orang di sekitar saya. Kasih Yesus yang melingkupi semua umat manusia yang berkehendak baik.

Saya berkomitmen, hidup yang saya jalani ini harus memancarkan kasih dan bermanfaat menyemangati kehidupan banyak orang lain, agar manusia tidak boleh putus asa, harus selalu bangkit, bangkit lagi, bangkit lagi. Jangan hidup sendirian, hiduplah dalam kebersamaan, bagikan segalanya: kesusahan, kegembiraan, penderitaan, atau sukacita, bagi, bagi, bagi….kesusahan bisa berkurang, sukacita bisa bertambah. INILAH RUMUS TUHAN DALAM HIDUP PENUH KASIH.

TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA.

Vincent A. Dipojugo.

Hasil gambar untuk ENDLESS LOVE from God