Cinta Sejati

Renungan Sabtu 3 Maret 2018

Bacaan: Mi. 7:14-15,18-20Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12Luk. 15:1-3,11-32.

CINTA SEJATI

Cinta sejati tidak pernah melupakan orang yang dicintainya. Cinta sejati selalu siap sedia untuk mengampuni. Cinta sejati selalu menginginkan yang terbaik untuk yang dicintainya.

Melalui perumpamaan tentang “anak yang hilang” Yesus mau menunjukkan bahwa Ia sedang melaksanakan kehendak Bapa-Nya, yaitu mencari orang-orang berdosa untuk diselamatkan.

Dalam perumpamaan ini ada tiga tokoh yang diberikan Yesus pada kita, yaitu: [1] bapa, mewakili Allah, [2] anak sulung, mewakili ahli-ahli Taurat dan orang Farisi sedangkan yang terakhir, [3] anak bungsu yang merupakan gambaran orang berdosa.

[1] Bapa, Allah adalah Bapa kita, Allah tidak terkejut kalau kita berdosa, dengan memberikan kebebasan kepada kita, Ia sudah siap menerima risiko bahwa kita akan jatuh dalam dosa. Namun dalam perumpamaan ini Allah yang baik digambarkan sebagai seorang bapa yang selalu menanti anaknya untuk kembali berkumpul dengannya. Semenjak anak bungsunya meninggalkan rumah sesudah mendapatkan warisan yang dituntutnya, sang ayah tidak tenang tinggal di dalam rumah, sebaliknya Ia berdiri di luar rumah sambil mata terus memandang jauh ke depan dan hati penuh harapan hendak menyambut anaknya kembali. Begitu ia melihat sosok tubuh manusia yang tertatih-tatih berjalan ke tempat ia berdiri, ia berlari menyongsong dan merangkulnya.

[2] Anak sulung, adalah gambaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dan mungkin juga merupakan gambaran kita juga. Kendati kita setia dan tekun di jalan Bapa, sebenarnya kita menjauh dari Bapa, kita jatuh dalam rutinitas dan kebiasaan tanpa melihat lagi kasih Bapa, karena kita telah setia melayani Bapa, kita punya harapan mendapat ganjaran, atau paling tidak lebih banyak mendapat berkat dan kasih Bapa. Kita tidak sanggup menyambut para pendosa atau tidak dapat turut menikmati kegembiraan sesama yang bertobat, kita mungkin juga seperti si anak sulung yang bersungut-sungut melihat orang yang bertobat.

[3] Si bungsu, telah melakukan segala sesuatu sesuai dengan haknya, ia meminta warisan kepada bapanya, meninggalkan rumah dan menjual warisannya untuk berfoya-foya dengan teman-temannya,ia tidak mau peduli lagi dengan bapanya. Namun perjalanan hidupnya berjalan tragis, kebebasannya tidak menjadikan hidupnya bersahaja dan pantas dibanggakan. Satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkan dia dari kebinasaan ialah kembali ke kehidupan bersama bapanya.

“aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku” itulah awal kebangkitan dan hidup baru dari si putra bungsu yang malang itu.

Pesan yang disampaikan pada kita melalui bacaan hari ini :

[1] Allah Bapa kita adalah Allah yang pengampun dan tidak menghitung kesalahan anak-anak-Nya, seperti terungkap dalam mazmur “Tuhan adalah penyayang dan pengasih“, juga dalam bacaan 1 [Mi 7:18 adakah Allah lain seperti Engkau, yang mengampuni dosa-dosa dan memaafkan pelanggaran yang dilakukan oleh sisa-sisa milik-Nya sendiri? Yang tidak murka untuk selama-lamanya, melainkan berkenan pada kasih setia?

[2] Allah menegur kita agar kita tidak bersikap seperti si sulung, kita patut bersuka-cita dan bergembira menyambut para pendosa.

[3] Apapun dosa-dosa kita, Allah adalah Bapa yang pengasih dan penyayang yang dengan tangan terbuka menerima kita yang bertobat dan mau kembali ke rumah-Nya.

Doa: Allah Bapa yang Maharahim, kami sering memberontak dan membangkang terhadap Engkau. Terimalah aku yang kini mau bertobat dan kembali kepada-Mu. Amin.

MLEN

Hasil gambar untuk true love