Upah Pelayan Tuhan

Renungan Kamis 1 Februari 2018

Bacaan: 1Raj. 2:1-4,10-12; MT. 1Taw. 29:10,11ab,11d-12a,12bcdMrk. 6:7-13

UPAH PELAYAN TUHAN

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat. (Mrk 6:7)

Dalam bacaan Injil yang kita renungkan pada hari ini, Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk pergi berdua-dua mewartakan Injil. Pewartaan ini disertai oleh kuasa Roh Kudus, sehingga Roh Kudus juga meneguhkan pewartaan mereka dengan penyembuhan dan pengusiran setan (bdk. Mrk 16:20).

Dalam perutusan ini, Tuhan Yesus juga berpesan agar mereka jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju (Mrk 6:8-9).

Melalui pesan ini Tuhan Yesus tidak bermaksud menyengsarakan para murid, melainkan pesan seperti ini adalah hal biasa di kalangan Yahudi, bila mereka akan menghadap Allah di Bait Allah. Di dalam Talmud (catatan tentang diskusi para Rabi Yahudi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah) ditegaskan, bahwa “setiap orang yang naik ke Gunung Bait Allah dilarang membawa makanan, alas kaki, ikat pinggang yang berisi uang, dan kaki yang berdebu”. Yang hendak ditekankan adalah bahwa setiap orang yang akan masuk ke Bait Allah harus jelas dia telah meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan dagang, jual beli dan urusan-urusan duniawi lainnya.

Demikian juga ketika Tuhan Yesus berpesan pada murid-murid-Nya, yang mau ditekankan oleh Tuhan Yesus supaya para murid tidak mencampuradukkan urusan-urusan duniawi dengan pelayanan. Jadi jangan jadikan pelayanan sebagai ajang bisnis atau dagang, tetapi seorang pelayan harus memiliki semangat kelepasan dan mempercayakan hidupnya dalam penyelenggaraan Allah.

Ada rupa-rupa panggilan dan pelayanan, ada yang dipanggil melayani secara khusus dengan menghayati selibat demi Kerajaan Allah (bdk. Mat 19:12), ada juga dipanggil dalam kerasulan awam dalam pelbagai bentuknya. Tentunya dengan prioritas yang berbeda-beda; seorang imam, biarawan/wati dipanggil membaktikan hidupnya secara khusus dan total untuk mengabdi Tuhan dan melayani sesama; sebaliknya seorang awam yang melayani, juga harus memperhatikan prioritas-prioritas lain, seperti keluarga dan pekerjaan.

Pada paralelnya dalam Injil Matius, dinyatakan seperti ini: “Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Mat 10:10). Satu hal yang perlu diyakini oleh seorang yang dipanggil melayani Tuhan, bahwa “seorang pekerja patut mendapat upahnya”, dalam arti ketika kita menyerahkan diri kita untuk melayani Tuhan ‘sebagaimana yang Dia kehendaki’, maka Dia juga berkuasa untuk menyelenggarakan segala sesuatu yang terbaik untuk kehidupan kita, bila seorang awam, termasuk juga keluarga kita. Pertama-tama “upah” ini bukanlah soal jasmani saja, tetapi lebih-lebih juga soal rohani.

Saya teringat dengan semboyan pelindung sekolah anak-anak kami, yaitu semboyan dari Beata Madre Maria Ines Teresa Arias, pendiri suster Misionaris Claris:

“Inilah satu-satunya kerinduanku, semoga Allah semakin dikenal dan dicintai.”

“Upah” seorang pelayan Tuhan adalah semoga para pelayan Tuhan semakin mengenal dan mengasihi Allah, dan semoga semakin dipakai oleh Tuhan untuk menjadikan Dia semakin dikenal dan dicintai. Amin. (ET)

Hasil gambar untuk Mark 6:7