Pikul Salib dan Ikut Yesus

Renungan Kamis 15 Februari 2018

Bacaan: Ul. 30:15-20Mzm. 1:1-2,3,4,6Luk. 9:22-25

Pikul Salib dan Ikut Yesus Setiap Hari

Kita semua tahu bahwa Salib membawa kuasa penyelamatan dan penyembuhan yang luar biasa bagi umat manusia. Namun, pada saat Yesus menyatakan tentang sengsara dan kematian yang akan dihadapi-Nya, para murid merasa kecewa, karena menurut ukuran mereka, saat itu, penyaliban sama artinya dengan penolakan, penghinaan dan kekalahan, bukan kemenangan dan apalagi kebebasan. Secara manusiawi, tentunya mereka berpikir bagaimana mungkin penderitaan, kematian dan penyangkalan diri Yesus dapat mendatangkan hidup yang berkemenangan.  

Akan tetapi lihatlah semua praduga ini terpatahkan oleh ketaatan Yesus! Sedemikian besar ketaatan-Nya kepada Bapa sehingga Ia mampu menyangkal kepentingan diri-Nya sendiri dan memanggul salib demi terselenggaranya rencana Bapa menyelamatkan umat manusia. Ketaatan hingga kematian-Nya telah menghancurkan semua belenggu yang mengikat kita, membebaskan yang tertawan dan menyembuhkan yang terluka serta tertekan – memberi kita kebebasan untuk hidup sebagai anak-anak Allah.

Suatu hal yang tak masuk akal, memberi sehabis-habisnya tanpa pamrih – manusia akan berhitung, aku memberi lalu apa yang kudapat. Begitulah hidup menurut ukuran kita, dengan kalkulator atau sempoa yang selalu aktif.

Pesan Injil hari ini mengingatkan saya akan sebuah lagu masa kecil yang intinya tentang dua ekor kelinci yang sedang berbagi sepotong kue. Keduanya tidak rela bila salah satu mendapatkan potongan yang lebih besar dari yang lain – maka mereka berulang kali menimbang-nimbang dan mengurangi potongan kue yang kelebihan berat atau terlihat lebih besar. Apa yang terjadi pada akhirnya? Kelinci-kelinci tersebut tidak mendapatkan apa-apa karena kedua potongan kue habis terbuang sia-sia akibat dipotong sana dan dipotong sini demi tercapainya keadilan. Semua harus sama dan adil – dia tidak boleh lebih besar atau lebih dari aku, dan aku juga tidak ingin bagianku dikurangi karena kelebihannya ada di pihak yang lain.

Nah inilah hidup manusia yang senantiasa penuh perhitungan, pertimbangan atas dasar untung-rugi. Aku memberi maka aku harus mendapatkan imbalannya.

Akan tetapi, perhitungan ekonomi Allah tidaklah demikian. Kita melepaskan untuk mendapatkan, dan kita menerima untuk melepaskan. Jika kita berusaha berjalan sendiri – kita bisa berakhir dengan kesia-siaan, namun jika kita mau berserah dengan penuh sukacita pada Allah, Dia akan memberikan hidup yang baru di dalam Roh-Nya sehingga setiap langkah kita tetap berada dalam tuntunan Roh Kudus. Selain itu, kita pun akan sanggup memanggul salib dan berjalan bersama Yesus setiap saat, setiap hari.

Marilah kita menjaga hidup rohani kita, membuka diri terhadap rencana Allah, dan menerima kekuatan untuk memanggul salib dan berjalan bersama-Nya.

“Tuhan Yesus, aku menyerahkan semua aspek hidupku kepada-Mu. Aku serahkan tanganku untuk melakukan pekerjaan yang Engkau percayakan kepadaku. Aku serahkan kakiku untuk berjalan sesuai arahan-Mu. Aku serahkan mataku agar aku dapat melihat dari sudut pandang-Mu. Aku serahkan lidahku agar Engkau pakai untuk menaikkan pujian kepada-Mu serta mewartakan Injil-Mu. Aku serahkan pikiranku agar aku mampu sehati dan sepikir dengan Engkau. Aku menyerahkan seluruh hidupku agar Engkau menguasainya dan meraja dalam hidupku. Inilah aku, pakailah aku seturut rencana dan kehendak-Mu.”

MM

Hasil gambar untuk carry the cross and follow me