Menjadi Tanda dan Pembawa Pertobatan

Renungan Rabu 21 Februari 2018

Bacaan: Yun. 3:1-10Mzm. 51:3-4,12-13,18-19Luk. 11:29-32

MENJADI TANDA DAN PEMBAWA PERTOBATAN

“Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” (Yun 3:2)

Merenungkan kembali kisah Yunus di dalam Kitab Yunus. Dia seorang yang benar di hadapan Tuhan. Oleh karena itu Tuhan memilih dan mengutusnya ke Niniwe untuk menyerukan pertobatan kepada orang-orang Niniwe. Tetapi Yunus tidak memahami rencana Tuhan. Maka ia berusaha menjauh dari Tuhan tetapi mata Tuhan tertuju kepadanya. Ia mau bersembunyi tetapi Tuhan tetap melihatnya. Yunus disadarkan dan kembali kepada Tuhan setelah berada di dalam perut ikan selama tiga hari dan tiga malam. Nama Yunus berarti merpati. Merpati itu adalah simbol pembawa pesan atau berita. Maka Yunus juga menjadi pembawa pesan pertobatan bagi bangsa Niniwe yang sudah jatuh atau berjalan begitu jauh dari Tuhan.

Meskipun perintah pertama Tuhan kepada Yunus gagal karena Yunus menjauhkan dirinya dari Tuhan, namun Tuhan masih menunjukkan kesabaran-Nya. Untuk kedua kalinya Tuhan menyuruh Yunus untuk bangun dan berangkat. Yunus memahami perintah Tuhan dan kali ini ia mengikutinya. Ketika tiba di Niniwe, ia menyerukan pertobatan dengan berkata: “Empat puluh hari lagi maka Niniwe akan dijungkirbalikkan”. Orang-orang Niniwe yang mendengar warta pertobatan ini menunjukkan perkabungannya. Raja mengenakan kain kabung dan duduk di atas abu. Ia meminta kepada seluruh rakyat untuk berpuasa dan mengenakan kain kabung. Semua ternak juga berpuasa. Dengan melakukan pertobatan masal ini maka Niniwe terlepas dari hukuman Tuhan. Semua penduduknya berbalik kepada Allah. Tuhan Allah pun menyesal terhadap rencana untuk memusnahkan mereka.

Warta pertobatan juga didengar oleh semua orang karena Tuhan sendiri bekerja di dalam Yunus. Raja Niniwe adalah teladan dan motivator bagi seluruh negeri. Dialah yang memerintahkan perkabungan dan menunjukkannya dengan mengoyakkan jubahnya, mengenakan kain kabung dan duduk di atas abu. Semua orang bahkan ternak juga diajak bertobat. Gerakan pertobatan masal seperti ini membuat hati Tuhan juga menyesal. Tuhan yang tadinya mau menunjukkan murkanya mengatakan penyesalan karena sudah terlanjur merancang penghancuran Niniwe. Kita pun dapat mempertobatkan sesama kalau kita sendiri sudah melakukan dan merasakan pertobatan. Kita merasa bahwa Tuhan maharahim dan mengasihi kita apa adanya. Dengan demikian kita juga melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Kisah Yunus ini menyadarkan kita bahwa dalam situasi hidup yang nyata, kita juga dipanggil Tuhan untuk menjadi merpati, pembawa tanda dan cinta kasih serta pertobatan bagi saudara-saudara yang membutuhkan peneguhan dan pertobatan. Sering kali kita kurang percaya diri dan menjauh dari Tuhan. Kita berusaha membenarkan diri atau mengadili diri di hadapan Tuhan bahwa diri kita belum mampu, masih muda, belum berpengalaman, tidak layak.  Tuhan menaruh kepercayaan kepada kita dan memberi sebuah tugas perutusan tertentu karena Ia mengetahui kemampuan kita. Kita meragukan kemampuan kita tetapi Tuhan tidak meragukan kemampuan yang kita miliki. Oleh karena itu dengan kisah Yunus ini kita seharusnya merasa diberkati dan dimampukan hari demi hari oleh Tuhan untuk menjadi tanda dan pembawa kabar sukacita bagi sesama.

Doa : Kasihanilah aku ya Allah menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu, hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku  seluruhnya dari kesalahanku dan tahirkan aku dari dosaku.         Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku ya Allah, dan baruilah semangat yang teguh dalam batinku untuk boleh menjadi tanda dan membawa pertobatan bagi sesama. Amin. (JH)

Hasil gambar untuk Jonah the messenger of God