Mengalami Kasih Karunia Tuhan

Renungan Minggu 25 Februari 2018, Hari Minggu Prapaskah II

Bacaan: Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18Mzm. 116:10,15,16-17,18-19Rm. 8:31b-34Mrk. 9:2-10

MENGALAMI KASIH KARUNIA TUHAN

Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” (Mrk 9:5)

Pengalaman melihat  Kemuliaan Tuhan ini membuat  ketiga murid itu bahagia sekaligus takut. Mereka ingin menikmati pengalaman yang indah itu untuk seterusnya. Karena itulah mereka hendak membuat kemah masing-masing bagi Yesus, Elia dan Musa. Namun terkait dengan perikop sebelumnya, bukan demikian tujuan Yesus memberikan mereka pengalaman rohani ini. Yesus memberikan pengalaman indah ini agar mereka siap menghadapi masa-masa sukar yang baru saja diberitahukan-Nya kepada mereka.

Sebagai pengikut Kristus, seringkali kita juga gagal untuk memahami apa yang dikehendaki Tuhan. Bahkan seringkali kita tidak sadar akan anugerah atau kasih karunia Tuhan dan bahkan membuatnya menjadi sia-sia.  Padahal Tuhan ingin kita mempunyai pengertian bahwa dalam mengikuti Tuhan kita harus merespon kasih karunia Tuhan (Yesus) dengan iman yang memadai (taat kepada pimpinan-Nya). Kasih karunia Tuhan akan dinyatakan semakin melimpah dalam hidup kita ketika kita memiliki penundukan diri kepada Tuhan (tunduk terhadap kedaulatan-Nya).

Yang menjadi bukti bahwa kita tunduk kepada Tuhan adalah apabila kita hidup seturut kehendak-Nya (beriman kepada-Nya), seperti apa yang dilakukan Abraham (Kej. 22).

Kehendak-Nya dinyatakan melalui banyak cara, di antaranya: khotbah yang disampaikan para hamba Tuhan, firman yang kita baca melalui renungan, mimpi, peristiwa atau kejadian yang terjadi, atau pun Tuhan berbicara secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu “…tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7). Ingat! Di dalam nama Yesus kita diberi kuasa untuk melawan dan mengalahkan Iblis dengan segala tipu dayanya. Namun apabila kita hidup seenaknya tanpa mengindahkan firman-Nya (tidak mendengarkan Dia) berarti kita sedang melangkah ke luar dan semakin menjauh dari kasih karunia Tuhan, sehingga kita akan menjadi sasaran empuk si Iblis. Sebaliknya bila kita hidup dalam ketaatan, kasih karunia Tuhan akan semakin ditambahkan dalam kehidupan kita.

Sahabat, kita harus memiliki kehidupan yang berkualitas. Dengan mengalami kasih karunia Tuhan, kita mendapatkan kekuatan dan hikmat Tuhan; mendapatkan keberanian untuk menghadapi kesulitan, terutama ketika menghadapi masa sukar dalam hidup kita. Dengan demikian kita akan mencapai kesempurnaan sesuai rancangan Allah semula. Semoga Tuhan memberkati kita semua. (FHM)

Hasil gambar untuk mark 9:2