Ia Menjadikan Segalanya Baik

Gambar terkait

Renungan Jumat 9 Februari 2018

Bacaan: 1Raj. 11:29-32; 12:19; Mzm. 81:10-11ab,12-13,14-15; Mrk. 7:31-37

IA MENJADIKAN SEGALANYA BAIK

Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:37)

Setiap orang ingin memiliki tubuh jasmani yang sehat, maka praktik dokter dan apotek banyak dikunjungi orang. Demikian halnya banyak orang berduyun-duyun datang pada acara doa penyembuhan jasmani, namun kalau acara lainnya (bukan acara kesembuhan) maka tidak banyak umat yang datang. Orang lebih tertarik kepada acara penyembuhan, acara-acara yang tampak sensasional, mencari mukjizat-mukjizat kesembuhan daripada pengajaran atau pertumbuhan iman untuk mengenal Yesus lebih dalam. Bahkan banyak umat Katolik sering mengikuti acara doa penyembuhan yang diadakan oleh gereja non-Katolik.

Memang Yesus dalam karya-Nya banyak melakukan penyembuhan-penyembuhan bagi mereka yang sakit karena Ia tergerak oleh belas kasihan pada mereka yang menderita. Namun itu bukan tujuan utama Tuhan Yesus datang ke dunia, tujuan utama-Nya adalah menyelamatkan umat manusia terhadap dosa.

Banyak orang sehat secara jasmani, namun mungkin saja tubuh rohaninya tuli dan buta yang perlu disembuhkan, baik tuli dan buta secara mental, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual. Kita perlu refleksi apakah kita sakit dan butuh disembuhkan? Mungkin kita tuli dan gagap terhadap Tuhan yang hadir dalam banyak peristiwa di hidup ini. Banyak orang membutuhkan bantuan kita, namun kita tuli (menutup telinga atau pura-pura tuli) untuk menolongnya. Terkadang kita gagap dalam hal mewartakan kasih Allah, dengan berbagai alasan: saya tidak mampu, takut, tidak percaya diri, malu, dan masih banyak alasan lainnya, sehingga kita tidak mau menjadi pelaku firman.

Memang manusia zaman now” banyak sekali yang pandai dan cerdik dalam intelektual. Mereka mempunyai pendidikan tinggi, pandai berimajinasi, berkreasi, dsb. Namun manusia yang dibekali dengan ilmu tinggi saja tanpa iman yang seimbang, maka kepandaian tersebut mudah jatuh dalam kepandaian-kepandaian yang negatif. Misalnya pandai berbohong, pandai korupsi, pandai manipulasi, pandai hal-hal yang merugikan. Sehingga dapat dikatakan manusia pandai atau cerdik tanpa iman ibarat Zombie yang hidup di tengah masyarakat (maaf). Belum lagi kita kerap tuli dan gagap dalam berelasi dengan sesama, kita tidak peduli dengan orang di sekitar kita, acuh tak acuh, sibuk dengan diri sendiri, kita tidak memanusiakan manusia di sekitar kita. Sehingga terjadi kemerosotan dan kehancuran moral di berbagai bidang kehidupan manusia.

Maka dari itu kita harus datang kepada Yesus memohon agar Ia berkenan menyembuhkan tuli dan gagap kita dengan mengikuti teladan-Nya, memiliki habitus yang baru “Efata = Terbukalah” (Mrk 7:34), kita memiliki telinga yang terbuka akan suara Tuhan melalui pewartaan iman, doa, pengajaran-pengajaran, retreat, dsb. Kita memiliki mata iman yang baru dengan kegemarannya hidup dalam firman Tuhan setiap hari yang akan memberi dan membawa kita dalam memiliki pedoman hidup yang baru seturut ajaran Kristus. Kita memiliki perkataan yang baru (tidak gagap lagi) dengan mau dan berani menjadi saksi Kristus, sehingga hidup kita tidak tersesat oleh rayuan dunia dan rayuan iblis yang menghancurkan. Jangan kita disibukkan untuk menghadiri acara-acara doa penyembuhan (sekalipun itu penting juga) namun mari kita sibukkan diri kita untuk mendekatkan pada Sang Penyembuh.

Senantiasalah bersyukur dalam segala hal atas kasih, pembentukan dalam proses kehidupan serta pertolongan-Nya, seperti yang telah diteladani oleh orang Samaria yang disembuhkan Yesus dari sakit kusta (Luk 17:17) ia kembali kepada Yesus; bersyukur, berterima kasih atas pertolongan Tuhan. Orang Samaria ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa kembali kepada Tuhan Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya dalam segala keadaan.

Mari pusatkan hidup kepada Sang Pemberi berkat, daripada sibuk dengan berkat-berkat-Nya. Ia menjadikan segala-galanya baik.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. (IGP)