Dia Ada Bersama Saya

Renungan Kamis 22 Februari 2018, Pesta Takhta Santo Petrus

Bacaan: 1Ptr. 5:1-4Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6Mat. 16:13-19

DIA ADA BERSAMA SAYA

Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 16:16-17)

Hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan Pesta Takhta St. Petrus.  Pesta ini untuk menghormati sebuah kursi tahta atau “cathedra” sebagai simbol kehadiran rohani St. Petrus, kepala Gereja di Roma.

Dalam Injil,  kita semua telah mengetahui bahwa Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya dengan memberi tahta dan wewenang kepada St. Petrus untuk memimpin dan menggembalakan Gereja-Nya.

Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:18-19)

Pengangkatan Santo Petrus tersebut berawal dari pengakuan iman Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 16:16-17)

Dan hari ini saya bersyukur mendengar perkataan Santo Petrus tersebut. Perkataan ini  semakin meneguhkan diri saya bahwa Tuhan Yesus hidup bersama saya. Dia ada bersama saya. Dia dekat dengan saya. Dia menyapa saya. Dia mendengarkan saya. Kehadiran-Nya dapat saya alami, pada saat saya melakukan saat teduh – berdoa, membaca dan mendengarkan sabda-Nya ataupun ketika saya mengikuti perayaan Ekaristi.

Saya juga bersyukur karena Dia sendirilah yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk belajar mengalami kehadiran-Nya sebagai Allah yang hidup. Dalam proses yang panjang di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP), mulai dari kelas Misi Evangelisasi (ME) sampai kelas Oikos, Dia membimbing saya lewat korektor renungan (sekarang disebut Pendamping Lectio Divina), untuk menjumpai diri-Nya dan berelasi secara pribadi dengan-Nya setiap hari.

Sekarang ini, Dia senantiasa membangkitkan kerinduan di hati saya untuk mendengarkan sapaan-Nya. Setiap hari, dengan kasih dan penuh wibawa Dia berbicara secara pribadi kepada saya melalui sabda-Nya. Dia juga dengan penuh kesabaran selalu menyediakan waktu mendengarkan keluh kesah dan masalah yang saya hadapi. Dan pertolongan-Nya tak pernah terlambat.

Terima kasih Tuhan Yesus atas kesempatan yang Engkau berikan kepada diri saya untuk mengalami kehadiran-Mu, merasakan kasih-Mu dan mendengarkan sapaan-Mu setiap hari. Lembutkanlah hatiku ya Tuhan, agar saya dapat dengan taat melakukan kehendak-Mu untuk menyenangkan hati-Mu. Bimbing dan dorong diri saya untuk dapat membagikan pengalaman ini kepada banyak orang, terutama kepada mereka yang berada di dekat kehidupanku, agar merekapun dapat menemukan dan berjumpa dengan Engkau sebagai Allah yang hidup, Allah yang penuh kasih. Amin.

Tuhan memberkati.

Set

Hasil gambar untuk matthew 16:16