Yesus Saudaraku

Renungan Selasa 23 Januari 2018

Bacaan: 2Sam. 6:12b-15,17-19Mzm. 24:7,8,9,10Mrk. 3:31-35

YESUS SAUDARAKU 

Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku. (Mrk 3:35)

Dalam Injil hari ini Yesus berkata: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lewat pertanyaan ini bukan berarti Yesus menyangkal bahwa Maria adalah ibu-Nya dan orang-orang yang di luar itu adalah saudara-saudara-Nya.

Tetapi, Yesus mau menegaskan bahwa bagi-Nya bukan keluarga-Nya yang “utama”. Dalam hal ini, Yesus mengajak untuk membangun relasi yang lebih mendalam, bukan hanya persaudaraan fisik, tetapi yang lebih penting membangun persaudaraan spiritual.

Relasi spiritual jauh lebih penting dari relasi hubungan darah. Dalam hal ini, Yesus semakin memperluas lingkup keluarga-Nya pada siapa saja yang taat pada Allah. Persaudaraan yang berlandaskan Allah jauh lebih kuat daripada persaudaraan yang berlandaskan kesamaan darah.

Maka Yesus mengajak semua orang beriman untuk tidak pernah melupakan Tuhan di dalam hidup. Membangun relasi dengan-Nya sungguh menyenangkan dan membahagiakan.

Sebelum dibaptis Katolik pada 1988, saya dari keluarga yang menganut tradisi tetapi bersekolah di SMA Katolik. Di sekolah saya banyak belajar tentang siapa Yesus dan Bunda Maria. Saya mengikuti kegiatan komunitas Legio Maria “Porta Caeli” selama tiga tahun , waktu itu saya belum berani menerima Yesus, karena keluarga saya belum mengenal Yesus.

Setelah saya dibaptis , waktu itu saya menjadi orang asing dalam keluarga meskipun orang tua tidak ada yang menentang. Sejak saat itu saya mulai beribadah ke Gereja dan semua itu mengubah semua kehidupan dan masa depan saya.

Sejak saat itu saya menyadari ternyata hidup berkeluarga tidak selalu dapat disamakan dengan hidup spiritual. Sebagai orang Katolik saya menemukan keluarga baru yang lebih besar, yaitu Keluarga Kerajaan Allah. Sungguh saya bahagia dan bersyukur. 

Sesungguhnya kita telah dipilih oleh Allah menjadi keluarga dalam Kerajaan-Nya setelah terlebih dahulu dikuduskan dan dikasihi-Nya. Maka kita harus hidup dalam belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. (Gal 5:22-23). 

Tuhan Yesus memberkati. 
SWK