Tidak Waras

Renungan Sabtu 20 Januari 2018

Bacaan: 2Sam. 1:1-4,11-12,19,23-27Mzm. 80:2-3,5-7Mrk. 3:20-21

IA TIDAK WARAS LAGI

Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. (Mrk 3:20-21)

Pada awal bulan ini pekerjaan saya banyak menyita waktu dan tenaga. Selain kesibukan saya sebagai seorang guru, saya juga sebagai bendahara di koperasi guru. Sebagai bendahara, saya harus bertanggung jawab terhadap anggota, oleh karena itu banyak mengikuti rapat, mempersiapkan administrasi berupa neraca , penghitungan sisa hasil usaha juga persiapan-persiapan lainnya yang cukup melelahkan. Dengan kata lain akhir-akhir ini kurang istirahat dan tidur serta makan pun sering terlupakan.

Pengalaman pribadi ini saya tulis setelah merenungkan kutipan dalam Injil Markus 3:20-21 di mana karena Yesus bekerja keras dalam rangka menjalankan tugas perutusan-Nya, makan pun Dia tidak dapat sehingga keluarga-Nya mengambil Dia sambil mengatakan “Dia tidak waras lagi”. Bekerja atau melaksanakan tugas perutusan apabila dilaksanakan dengan gembira, ceria dan bergairah memang tidak merasa lelah, meskipun kurang istirahat ,kurang makan atau tidur. Itulah pengalaman saya pribadi. Memang yang saya kerjakan adalah pekerjaan yang menyangkut hal duniawi. Tetapi karena kepercayaan yang diberikan oleh mereka untuk menjadi bendahara membuat saya bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan dengan tekun dan penuh tanggung jawab.

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita dipanggil untuk mewartakan kabar gembira, kabar sukacita, maka selayaknya kita hayati dan kita kerjakan dengan gembira dan ceria setiap pekerjaan. Yesus, penyelamat dunia telah mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dengan menyelamatkan dunia seisinya sampai Ia wafat di kayu salib. Semua itu wujud cinta-Nya yang luar biasa kepada kita, sampai-sampai orang mengatakan bahwa Ia menjadi “tidak waras”. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dan iman harus menjadi nyata dalam perbuatan. Perbuatan nyata hidup beriman berarti dengan sukarela dan sepenuh hati mempersembahkan diri kepada saudara-saudari kita maupun aneka macam pekerjaan tugas perutusan atau kewajiban.

Maka marilah kita menghadapi dan mengerjakan segala sesuatu yang sudah diberikan kepada kita dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras tanpa mengeluh. Kita hadapi dan kerjakan dengan positif dan gigih dengan disertai doa seperti yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Kita temukan kehadiran dan karya Tuhan Yesus  dalam segala sesuatu sehingga kita merasakan senantiasa penyertaan Tuhan.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih atas penyertaan-Mu sampai saat ini. Terimalah persembahan diri kami sebagai pengikut-Mu yang sedang berusaha mengabdi-Mu dalam suka duka hidup ini. Ajari kami untuk tetap setia mengimani Engkau dan mampukan kami untuk dapat meneladani Engkau dalam kehidupan kami. Ampunilah segala dosa kami yang telah kami perbuat sepanjang pekan ini. Amin. (EH)

Hasil gambar untuk mark 3:20-21