Melayani Dengan Hati

Renungan Rabu 31 Januari 2018

Bacaan: 2Sam. 24:2,9-17Mzm. 32:1-2,5,6,7Mrk. 6:1-6

MELAYANI DENGAN HATI

Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Mrk 6:4)

Injil hari ini  mengajak kita untuk merenungkan panggilan hidup kita sebagai murid-murid Yesus, antara lain sebagai nabi. Saat kita dibaptis, kita semua menerima tugas dari Gereja, agar kita hidup seturut teladan Yesus. Artinya, kita diajak untuk meneruskan tugas-tugas Yesus. Segala tugas atau pelayanan yang dibuat oleh Yesus, diringkas dalam tiga tugas Yesus yaitu: imam, nabi dan raja.

Tugas sebagai Imam; Yesus menguduskan. Tugas sebagai Nabi; Yesus mewartakan Sabda Allah, dan tugas sebagai Raja; Yesus memimpin.

Bacaan injil hari ini mengajak kita merenungkan tentang tugas sebagai nabi yaitu mewartakan Sabda Allah. Tuhan Yesus melaksanakan tugas sebagai nabi ditunjukkan dalam seluruh hidup-Nya. Ia mewartakan Sabda Allah, dengan berkhotbah, mengajar dan juga berbuat baik: menyembuhkan banyak orang sakit serta mengampuni orang berdosa.

Bagaimana kita melakukan tugas sebagai nabi, khususnya oleh diri kita secara pribadi? Sebagai umat Katolik awam, kita dapat mewartakan Sabda Allah dengan menjadi penginjil pribadi, dengan memberi renungan dalam sebuah ibadat atau doa-doa bersama.

Namun, mewartakan Sabda Allah dapat dilakukan terlebih dahulu dengan cara yang paling sederhana yaitu melalui perbuatan baik dalam hidup sehari-hari. Sungguh, setiap kita dapat mewartakan Sabda Allah melalui perkataan dan perbuatan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi diri kita masing-masing untuk bacaan hari ini, apakah diri saya sudah berbuat seperti Tuhan Yesus, yang juga selalu berbuat dan berkata-kata baik dalam seluruh hidup-Nya.

  • Bagaimana tindakanku sehari-hari? Apakah sering marah jika menghadapi persoalan yang tidak sesuai dengan keinginan dan kehendakku? Ataukah aku sudah berbuat kasih terhadap sesama?
  • Sudahkah aku selalu mengucapkan kata-kata berkat bagi orang yang aku jumpai, terutama bagi keluargaku, bagi anak-anakku? Ataukah aku pernah mengucapkan kata kutuk terhadap orang yang telah menyakiti aku atau juga terhadap pasangan hidupku, anak-anakku jika mereka menjengkelkan atau berbuat salah?
  • Apakah aku yang mengaku sebagai pelayan/hamba Tuhan masih sering membicarakan orang lain, menggosip bahkan menceritakan suatu kejadian yang tidak aku ketahui pasti kebenarannya tetapi aku berlagak tahu tentang hal itu dan menyebar luaskannya?
  • Sudah mampukah aku menjadi saluran berkat bagi keluargaku, bagi orang yang aku jumpai bahkan bagi sesama?
  • Apakah aku selalu berbuat kasih baik dalam perkataan ataupun perbuatan terutama terhadap orang terdekat yang aku jumpai setiap hari, seperti asisten rumah tangga, sopir, karyawan dst.?

Sebelum kita meneruskan renungan hari ini sebaiknya kita sejenak melakukan refleksi lebih dalam lagi, merenungkan bagaimana perkataan dan perbuatan kita selama ini.                                                      

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Seorang nabi yang dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya!” (Mrk 6:4). Yesus berkata itu karena Ia tidak diterima dengan baik, di tempat asalnya, di kampung halaman-Nya. Namun, Yesus tetap berbuat baik, meskipun Ia tidak diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya. Dari sini, kita bisa belajar: berbuat baik kepada setiap orang yang dijumpai tanpa pilih-pilih, tanpa mengharap imbalan.

Bisa jadi saat kita berbuat baik seperti Yesus, kita  akan mengalami ditolak atau tidak mendapat tanggapan baik dari orang-orang di sekitar kita.  Oleh karena itu, kita perlu menyadari, kita adalah nabi. Nabi mewartakan Sabda Allah, berbuat baik kepada siapapun, di manapun dan kapanpun.

Hambatan yang paling menyakitkan saat kita melayani atau berbuat kasih dan kebaikan adalah ketika kita ditolak dan diremehkan oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita. Mungkin kita telah mengerahkan seluruh pemikiran dan tenaga untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan dan orang sekitar, tetapi ternyata mereka memandang dengan sebelah mata dan sama sekali tidak memberi penghargaan apapun. Tentu hal ini menyakitkan hati. Apabila kita mencoba untuk bermegah dalam kekuatan, maka pasti hasilnya adalah perasaan marah dan kecewa. Tetapi melalui celaan dan hinaan tersebut justru dapat menguji kemurnian kasih dan kesetiaan kita.

Penolakan dan penghinaan saat kita menunaikan sesuatu yang baik dan mulia tidak mungkin dapat dicegah. Namun yang terpenting dari semua hal yang menyakitkan hati adalah apakah kita senantiasa berupaya untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama. Dan juga apakah kita sungguh-sungguh melakukan dengan sikap setia dan tulus? Apakah kita melayani dengan hati?

Kalau kita melakukan suatu tugas pelayanan dengan sikap setia dan tulus, maka dinamika dan konsistensi pelayanan kita sama sekali tidak ditentukan oleh respon negatif dari orang lain. Sebab dasar dan tujuan seluruh pelayanan kita pada hakikatnya adalah untuk kemuliaan Allah dan bukan untuk kemuliaan diri kita sendiri. Bukan untuk bermegah diri dan yang paling sering terjadi adalah munculnya kesombongan diri, baik kita sadari maupun tidak.

Bahkan kita justru dapat memanfaatkan setiap celaan dan hinaan orang lain sebagai pendorong yang sangat kuat untuk melakukan yang terbaik dan yang paling bermutu. Pada sisi lain, kasih karunia Allah dapat terhambat saat kita mabuk oleh berbagai pujian dan penghargaan manusia, sehingga kita tidak bersedia lagi bersandar kepada pertolongan Tuhan Yesus.

Refleksi diri: apakah selama ini aku  melayani dengan hati bagi keluargaku, orang sekitar, dan orang yang aku jumpai?

Doa: Allah Bapa yang penuh kasih, ajar aku untuk selalu berbuat dan berkata-kata yang baik, kata-kata yang penuh berkat dan juga tindakan yang penuh kasih terhadap siapa saja yang aku jumpai. Bimbinglah aku untuk selalu dapat mewartakan Sabda Allah melalui sikap hidupku setiap hari. Curahkanlah Roh Kudus-Mu selalu agar aku dapat senantiasa melayani dengan hati, melayani dengan ketulusan dan keikhlasan. Terima kasih Tuhan untuk Firman-Mu hari ini yang terus mengajarkan aku untuk dapat menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Berkat dan kasih Tuhan senantiasa menyertai kita.

VRE

Hasil gambar untuk mark 6:4