Allah Melihat Hati

Hasil gambar untuk Lord Looks at the heart

Renungan Selasa 16 Januari 2018

Bacaan: 1Sam. 16:1-13; Mzm. 89:20,21-22,27-28; Mrk. 2:23-28d

ALLAH MELIHAT HATI

Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Sam 16:6-7)

Dalam kehidupan sehari-hari, sering saya mengalami bahwa untuk yang memegang jabatan tertentu sering dipengaruhi oleh penampilan fisik, pendidikan, kepangkatan, kemampuan dan kekayaan. Kadangkala seseorang yang terlihat menonjol yang sering dipilih dan diberi tanggung jawab. Hal ini ternyata tidak benar dalam pandangan Tuhan. Tuhan memilih orang yang punya hati baik dan tidak melihat penampilan, kekayaan dan jabatan seseorang. Tuhan hanya melihat hati, melihat kesediaan, di dalam menanggapi setiap panggilan Tuhan dalam hidupnya.

Begitu juga dengan pengalaman hidup saya. Saya merasa tidak memiliki hal-hal yang cukup buat modal, untuk mengambil bagian dalam pekerjaan, dalam keluarga, komunitas dan pelayanan. Ternyata saya hanya menjalani hidup dengan apa adanya, dengan belajar biasa-biasa saja, pendidikan juga biasa saja. Apalagi untuk masuk dalam komunitas doa, saya merasa bukan tempat saya. Cukup sewaktu-waktu saya hadir di seminar ataupun Kebangunan Rohani Katolik (KRK), tetapi tidak pernah terpikir untuk mengikuti sebuah kursus rohani seperti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) Sebagai siswa KEP pun, saya hanya siswa yang pasif, tidak pernah mengambil bagian, apalagi dalam pelayanan. Acara besar pun, saya hanya menjadi umat saja. Saya tidak berani tampil, tidak bisa menyanyi, tidak bisa berdoa, tidak ada rasa percaya diri dalam kehidupan rohani saya.

Bacaan hari ini sungguh menyadarkan saya bahwa Tuhan tidak melihat apa yang dilihat dunia baik. Dunia tidak mampu melihat keberadaan saya sejak kecil, tetapi Tuhan melihat keadaan saya yang serba terbatas. Asalkan saya memiliki hati menyambut undangan Tuhan maka Tuhan akan mulai berkarya dalam hidup saya. Saya yang dulunya hidup sia-sia tanpa tujuan yang jelas, sekarang hidup bersama Tuhan dalam rencananya yang indah.

Saudaraku yang terkasih, mari kita lepaskan apa yang sudah mengikat kehidupan kita yang lama, apakah itu kemampuan diri, kekayaan, jabatan. Mari kita datang pada Tuhan, apapun kondisi kita, karena Tuhan tidak melihat apa yang dunia lihat, tetapi Tuhan melihat hati setiap kita yang mau diundang dan dipakai dalam rencana agung-Nya untuk membawa terang bagi Dunia.

Doa: Bapa di surga, pujian dan syukur kami panjatkan kepada-Mu. Ampuni bila dalam kehidupan kami  yang lalu telah menolak undangan dan rencana-Mu, tetapi Engkau tetap setia kepadaku untuk selalu memanggilku. Bantulah aku dan saudaraku seiman untuk tetap setia dan taat dalam rencana agung-Mu. Amin. 

Ksm