The Power of Emak-Emak

Renungan Jumat 29 Desember 2017

Bacaan: 1Yoh. 2:3-11; Mzm. 96:1-2a,2b-3,5b-6; Luk. 2:22-35

THE POWER OF EMAK-EMAK

Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” (Luk 2:34)

Image result for maaf ibu bisa menepi sebentarBerkendara di Surabaya membutuhkan suatu keahlian khusus, di mana “The Power of Emak-Emak” merajalela di setiap lini jalan. Pernah suatu kali saya dibuat sewot dengan seorang ibu yang dengan lugu berhenti di depan saya untuk menerima telepon. Saat saya bunyikan klakson, yang terjadi malah umpatan untuk saya sabar menunggu. Lohhhh…… situ atau sini yang salah Makkk??? Ahhh sudahlah, percuma juga berdebat dengan emak-emak yang ponselnya diselipkan di antara kepala dan helm. Saya mengambil haluan lain sambil dongkol. Merasa dongkol karena saya tidak berdaya dengan kondisi, dan tidak dapat memperbaiki kesalahan ini, sementara the legend of Emak still continues #tepokjidat.

Kelahiran Yesus adalah perkara besar bagi setiap orang. Sang Juru Selamat telah datang, Allah yang maha kuasa menjelma menjadi manusia, tetapi hanya sedikit orang yang mau melihat, mengerti dan percaya. Simeon bisa melihat keselamatan yang dari Tuhan, yang sudah disediakan di hadapan segala bangsa, keselamatan bagi seluruh dunia. Banyak orang-orang yang tampaknya rohani dan besar, mempunyai kumpulan massa dan menjadi panutan bagi orang lain, tetapi mereka tidak bisa melihat kemuliaan Allah yang besar ini, padahal begitu nyata dan bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Bagi orang yang menyadari diri mereka berdosa dan merasa tidak layak, perjumpaan dengan Yesus adalah pengalaman yang sangat meneduhkan, di mana mereka bertemu dengan sosok yang rendah hati dan memberikan penghiburan, sehingga harapan akan keselamatan kekal benar-benar tampak nyata dari ‘seseorang’ yang bernama Yesus.

Sebaliknya, bagi mereka yang ngeyel akan kebenaran pribadi, perjumpaan dengan Yesus akan sangat menyebalkan karena dia menantang persepsi diri mereka, dengan menyebut penilaian diri mereka sangat salah. Produk “semau gue” tidak berlaku saat bertemu dengan juru selamat terjanji, yang terjadi malah kebalikannya; Yesus mengasihi dan membawa jalan kebenaran dan kehidupan bagi setiap orang.

Jadi, apa yang kita perbuat bagi orang lain dalam menyampaikan kebenaran sejati, kedamaian atau pertentangan? Satu yang dapat disimpulkan: dengan menjadi orang benar dan berkenan kepada Tuhan, kita mengerti kehendak dan rencana Allah dalam misi hidup ini; bersandar pada-Nya setiap saat, serta taat dengan tulus bersama bimbingan kuasa Roh Kudus, maka hidup ini akan menjadi berarti, sebab kita ikut melakukan satu bagian dari rencana Allah semesta yaitu menjadi pembawa kabar sukacita keselamatan abadi.

Tuhan menyertai kita semua. Amin. (MG)