Menyambut Natal Dengan Rendah Hati

Renungan Senin 25 Desember 2017

Bacaan: Yes. 52:7-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Ibr. 1:1-6; Yoh. 1:1-18

MENYAMBUT NATAL DENGAN RENDAH HATI

Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (Luk 2:19)

Shalom, Bapak, Ibu dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Selamat Natal. Semoga damai sejahtera dan kasih Natal melimpah atas kita semua.

Hari ini kita mendengarkan dan merenungkan Injil Lukas, di mana para gembala setelah mendengar kabar tentang kelahiran Sang Juru Selamat langsung menanggapinya dengan bergegas ke Betlehem. Ini menunjukkan bahwa mereka sadar dan memiliki rasa ingin tahu serta mau menanggapi apa yang didengarnya dari para malaikat.

Seringkali kita juga mendengar kabar gembira dari berbagai pihak, misalnya Romo, teman, orang lain; tetapi sikap dan tanggapan kita tidak seperti para gembala ini. Dalam banyak hal, kita lebih melihat siapa yang membawa kabar itu, daripada melihat apa isi kabar itu. Kalau kabar itu disampaikan oleh orang yang cocok dengan kita maka kita menerimanya walaupun isi kabar itu belum tentu benar, tetapi kalau kabar itu diterima dari orang yang kita benci, maka sebenar apa pun kabar itu sering kita abaikan. Hal inilah yang menjadi  penghalang bagi sabda Tuhan untuk sampai pada hati kita apabila hati kita sudah menyimpan kebencian, kecurigaan, dan kesombongan. Ketika hati kita sudah diisi oleh kebencian, kecurigaan, dan kesombongan, maka Sabda Allah tidak punya tempat dalam hati kita, sehingga sabda itu hanya memenuhi pikiran saja. Ini membuat kita hanya menerima sabda itu sesuai dengan apa yang kita pikirkan, sehingga pikiran kita lebih dominan daripada kebenaran sabda itu sendiri. Akibatnya sabda itu tetap di luar dan tidak mengubah pola pikir dan cara hidup kita.

Belajar dari Bunda maria yang mengetahui dari para gembala bahwa anak yang dilahirkannya adalah Juru Selamat dunia, tetapi dia tidak lalu menyombongkan diri dan bangga dengan dirinya sendirinya. Tetapi dia merenungkannya dalam hati. Dengan merenungkan dalam hati, maka Bunda Maria bisa menyerahkan seluruh hidupnya pada kehendak Tuhan. Kita pun bisa menyerahkan seluruh aspek kehidupan kita kepada Tuhan, jika kita membersihkan hati kita dari rasa kebencian, kecurigaan, dan kesombongan sehingga kita punya cukup ruang untuk Sabda Tuhan dalam hati kita.

Marilah dengan rendah hati kita menyambut Natal. Semoga kelahiran Juru Selamat kita memberikan damai sejahtera kepada kita sekalian. (FXG)