Mendekati Allah dengan Iman Rendah Hati

Hasil gambar untuk Luke 1:13

Renungan Selasa 19 November 2017, Hari Biasa Khusus Adven

Bacaan: Hak. 13:2-7,24-25a; Mzm. 71:3-4a,5-6ab,16-17; Luk. 1:5-25

ALLAH MAHAKUASA HANYA BISA DIDEKATI DENGAN IMAN YANG RENDAH HATI

Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.” (Luk 1:13)

Tidak mempunyai keturunan adalah aib besar bagi pasangan imam Yahudi dengan istrinya, demikian juga yang dialami Imam Zakharia dan Elisabet, istrinya. Dan ini berlangsung dalam seluruh hidup mereka, sampai Malaikat Gabriel menampakkan dirinya kepada Zakharia, bahwa pasangan suami istri yang berusia lanjut dan Elisabet yang mandul itu, Allah mempunyai rencana bahwa mereka akan mempunyai anak, Yohanes Pembaptis, yang dipakai oleh Allah untuk mendahului kedatangan Tuhan, dalam roh dan kuasa Elia.

Demikian juga dalam Bacaan Pertama yang kita renungkan hari ini, hal yang sama juga dialami Manoah dan istrinya yang mandul, oleh kuasa Allah mengandung dan melahirkan Simson, yang dipakai oleh Allah menyelamatkan Israel dari orang Filistin.

Secara kodrat, kedua pasutri yang lanjut usia dan istrinya mandul, yang kita renungkan dalam bacaan pertama dan bacaan Injil hari ini, tidak mungkin mempunyai keturunan. Tetapi jika Allah menghendaki, maka tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Di sinilah dapat kita renungkan bahwa Allah adalah Allah yang Mahakuasa. Allah dapat melakukan segalanya yang Dia kehendaki, melampaui segala pikiran, gagasan dan ide-ide manusiawi, serta melampaui kodrat manusiawi.

Pada masa advent ini, Gereja mengajak kita untuk mempersiapkan diri menyambut kelahiran Tuhan Yesus pada hari raya Natal dan mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kalinya pada akhir zaman. Melalui kedua bacaan Kitab Suci di masa adven ini, Gereja mengajak kita merenungkan kemahakuasaan Allah yang melampaui pikiran dan kodrat manusia, melalui kelahiran Simson dan Yohanes Pembaptis.

Demikian juga dengan kelahiran Sang Juru Selamat, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Allah yang menjelma menjadi manusia dan Allah lahir dalam rupa bayi miskin di Betlehem, semua ini bila dipikirkan dengan pikiran manusia, tampaknya tidak masuk akal, bahkan menjadi bahan perdebatan dan ejekan dari orang-orang yang tidak percaya hingga saat ini.

Semua ini bukan tidak masuk akal, tetapi melampaui akal budi manusia, dan Allah adalah Allah yang Mahakuasa, Dia berkuasa atas segala sesuatu dan dapat melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki. Juga ketika dalam rencana keselamatan-Nya, Dia memilih jalan untuk merendahkan diri-Nya sedemikian rupa untuk menyelamatkan manusia yang begitu dicintai-Nya, yaitu melalui Sang Sabda yang menjadi manusia.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).”

Memang misteri Allah yang merendahkan diri-Nya menjadi manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus ini melampaui pikiran dan kodrat manusia. Allah adalah misteri dan hanya dapat didekati dengan iman yang rendah hati.

Berikut suatu kisah pertobatan St. Agustinus yang berasal dari tradisi yang popular, yang dapat membantu kita untuk mendekati Allah dalam iman yang rendah hati :

Suatu hari Agustinus berjalan di tepi pantai sambil memikirkan tentang Tuhan yang dianggapnya tidak ada serta Kitab Suci yang pernah disebutnya sebagai kitab yang terlalu sederhana. Di bibir pantai ia melihat seorang anak kecil berusaha memindahkan air dari laut ke dalam sebuah lubang kecil di pasir. “Apa yang sedang kau lakukan..??”, tanya Agustinus pada anak kecil itu. Ia menjawab bahwa ia sedang mengeringkan air laut dengan memindahkannya ke dalam lubang kecil yang digalinya. Professor Agustinus tertawa dan menjelaskan bahwa itu tidak mungkin dilakukan. Anak kecil yang sebenarnya adalah malaikat itu menatap Agustinus lalu berkata, “Dapatkah otak manusia yang kecil itu memahami Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini….???” Agustinus seketika tersadarkan dan sejak saat itu ia memulai hidup baru. [Sumber : http://katakombe.org/para-kudus/item/agustinus.html ]

Kisah pertobatan St. Agustinus mengajak kita untuk menyadari tidak mungkin memasukkan misteri Allah ke dalam otak kita yang kecil, kita hanya dapat mendekati Allah dengan iman yang rendah hati, menyadari bahwa kita hanyalah ciptaan yang terbatas dan Dia adalah Allah yang Mahakuasa, yang tidak terbatas. Tidak ada yang mustahil bagi Allah dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya. Amin. (ET)