Kubur Kosong Bukan Akhir

Gambar terkait

Renungan Rabu 27 Desember 2017, Pesta St. Yohanes

Bacaan: 1Yoh. 1:1-4; Mzm. 97:1-2,5-6,11-12; Yoh. 20:2-8

KUBUR KOSONG BUKAN AKHIR

Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. (Yoh 20:5)

Lengkap sudah penderitaan dan kekecewaan para murid Yesus sejak mengetahui dan melihat Yesus dijatuhi hukuman mati – dicambuk – dimahkotai duri – disalib – wafat di kayu salib. Ketika Yesus diturunkan dari salib dapat dibayangkan perasaan para murid terutama Bunda Maria. Dalam perjalanan menuju kubur, perasaan sedih, duka, kehilangan bahwa Yesus telah wafat, sudah tidak ada lagi mukjizat, tidak ada lagi nasihat, hidup-Nya telah berakhir. Kini hidup para murid akan berjalan seperti sebelumnya. Hilang semua harapan mereka akan Yesus sang Mesias yang hidup.

Pagi-pagi benar di mana hari masih gelap, para wanita pergi ke kubur, dengan rempah-rempah untuk mengurapi jenazah Yesus (Luk 24:1-3). Mereka ingin melakukan perbuatan kasih pada sang Guru, ini adalah sebuah tradisi untuk menyatakan perhatian dan cinta kepada seorang yang dicintai yang telah meninggal. Tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi, ketika melihat batu penutup kubur telah terbuka, suatu pemandangan yang menjungkirbalikkan hati dan rencana mereka, ketika melihat jenazah Yesus telah hilang tidak ada lagi di dalam kubur, yang tersisa hanya kain kafan dan kain peluh, mereka kebingungan. Apa yang telah terjadi? Mereka tidak menemukan Yesus, jenazah-Nya sudah tidak ada dalam kubur. Maka lengkaplah kekecewaan mereka ketika mengetahui jenazah Yesus sang Guru telah tidak ada dalam kubur. Tidak lagi ada harapan yang tersisa, segala kekecewaan, kesedihan, kepahitan hati para murid. Hidup yang tadinya penuh harapan akan Yesus sang Mesias yang lahir memberi harapan baru akan kehidupan yang lebih baik, kini sirna sudah.

Demikian pula dalam kehidupan kita, terkadang kita sudah mempunyai rencana yang indah akan masa depan kita, rencana yang penuh harapan dalam kebahagiaan dengan segala cita-cita dan rencana rencana yang bagus baik untuk diri sendiri, maupun rencana indah bagi keluarga dan usaha kita. Namun dalam perjalanan bisa saja terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, masalah, kegagalan datang menghimpit segala rencana dan cita-cita indah yang telah kita susun. Akibatnya kesedihan, kekecewaan, kepahitan dapat menghampiri hidup yang awalnya indah menjadi kelam. Bahkan ada sebagian hingga putus asa dan mengambil tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri serta keluarga.

Saudara terkasih, bila kita ikuti lebih lanjut kisah kematian Yesus di salib, hingga ditemukan kubur yang kosong, ternyata akhir ceritanya adalah Yesus bangkit dari kematian. Sebuah kisah mulia di balik peristiwa sedih yang menjumpai kubur kosong, Yesus wafat untuk menebus dosa-dosa manusia (Gal 3:13), namun menjumpai kubur kosong bukanlah akhir dari kisah Kristus. Maka bila kita mengalami masalah, penderitaan, penyiksaan, hilangnya harapan, ingat itu bukan akhir dari cerita, itu bukan akhir dari hidup kita, itu merupakan sebuah proses hidup (cerita belum selesai) untuk mencapai kemuliaan di akhir kisah hidup kita. Sebagai catatan kisah mulia di akhir cerita tidak harus berbentuk mendapatkan uang yang banyak, atau kita disembuhkan dari sakit penyakit, namun banyak kisah mulia atau berkat yang Tuhan berikan di antaranya: janji keselamatan dalam rumah-Nya di Surga, sukacita, damai, rukun bahagia, kedewasaan iman, ketaatan, tahan uji, dsb., tentunya juga termasuk berkat kemuliaan materi dan kesehatan.

Jangan izinkan masalah dan kekhawatiran kita sehari-hari membungkus kita dalam kesedihan, kekecewaan, kepahitan apalagi kehancuran, dan itulah disebut kematian jiwa dan roh, namun izinkanlah proses kehidupan ini terjadi dan berlalu bersama Yesus sang pemberi kekuatan dan kemenangan bagi anak-Nya yang setia mengikuti teladan-Nya. Ingat bahwa “cerita belum selesai”. 

Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati. (IGP)