Jadilah Terang

Image result for Matthew 2:13-18

Renungan Kamis 28 Desember 2017, Pesta Kanak-Kanak Suci, Martir

Bacaan: 1Yoh. 1:5 – 2:2; Mzm. 124:2-3,4-5,7b-8Mat. 2:13-18

JADILAH TERANG

Ini hari ke-empat Oktaf Natal. Dari bacaan 1 Yoh 1:5-2:2, kita diajak untuk mengimani, bahwa Tuhan Yesus, Raja Damai yang lahir ini adalah Sang Terang: “Allah adalah Terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” “Jika hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”

Teruslah baca ini sampai selesai…. “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.”

Luar biasa indahnya firman Tuhan ini. Inilah budaya kehidupan, orang suka berdamai, tidak suka berbuat dosa, mau hidup dalam terang, berani mengakui dosa dan kesalahannya, tidak mau berdusta, mau hidup suci di hadapan Tuhan.

Bacaan Injil hari ini Mat. 2:13-18, sangat bertolak belakang dengan yang tadi di atas. Raja Herodes, raja yang sangat kejam, keji, licik, gila kekuasaan, pembohong, pendusta, ketakutan kehilangan pengaruh akan kehadiran kelahiran Yesus Sang Raja Damai, sehingga semua anak-anak di bawah usia 2 tahun yang masih polos tidak berdosa, tidak mengerti apa-apa, yang tinggal di sekitar Bethlehem dibunuh dan dibinasakan. Wajah kehidupan diganti dengan kesedihan. Inilah yang dikatakan Budaya Kematian, yang pernah diutarakan oleh Paus Yohanes Paulus ke-2 yang sudah menjadi santo.

Sadar atau tidak sadar, dalam kehidupan sekarang ini banyak orang menjadi “herodes-herodes” dalam bentuk yang lain, yang mengatasnamakan agama, sombong, arogan, sok benar sendiri, gila kekuasaan dan sejenisnya. Orang-orang ini sudah memasukkan dirinya dalam Budaya Kematian. Ungkapan-ungkapan selalu diwarnai dengan kebencian antara sesama, pertikaian atas nama SARA, perpecahan antara sebangsa setanah air, dan terus menggerogoti pelan-pelan sendi-sendi kehidupan kemanusiaan.

Mari kita merayakan Pesta Kanak-Kanak Suci ini dengan mengingatkan diri sendiri, bahwa di masa moderen ini kita cenderung kurang menghargai kehidupan yang dianugerahkan Tuhan Allah kita. Kehidupan ini dari Allah sendiri. Tidak boleh dirampas atau diambil dengan sewenang-wenang oleh siapa pun dengan alasan apapun.

Tanamkan terus budaya kehidupan dari generasi ke generasi berikutnya, peliharalah budaya yang mencintai kehidupan, segala kehidupan yang diciptakan di alam semesta ini oleh Tuhan Allah. Jadilah pejuang kehidupan. Hidup adalah anugerah, sekaligus tugas dan tanggung jawab bagi kita setiap manusia yang hidup. Jangan menyerah. 

YESUS TELAH LAHIR DI HATI KITA
BERJUANGLAH DEMI KEHIDUPAN
JANGAN MENYERAH
DIALAH EMANUEL.

Vincent A. Dipojugo