Syukur Sejati

Renungan Rabu 15 November 2017

Bacaan: Keb. 6:1-11; Mzm. 82:3-4,6-7; Luk. 17:11-19

SYUKUR SEJATI

Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk 17:17-18)

Dengan apa kan kubalas

Segala kebaikan-Mu

Segenap hatiku menyembah-Mu Yesus

Kubersyukur pada-Mu … selamanya

Refrein lagu ini terus berdengung di hatiku, menggali timbunan di ingatan dan membuahkan sebuah renungan.

Berpuluh tahun silam, ketika pertama kali tiba di sebuah bandar udara negeri asing, aku segera menuju ke deretan kereta dorong untuk memuat kopor-kopor besar. Tetapi timbul sedikit kepanikan karena kereta-kereta itu saling terhubung dengan rantai. Untuk melepaskannya, aku harus memasukkan sebuah uang koin nilai tertentu. Di dompet tak ada mata uang koin negara itu. Tiba-tiba seorang wanita asli Eropa datang kepadaku dan memberikan sebuah uang koin sambil menjelaskan cara pemakaiannya. Sesudah itu dia pergi dan sejak itu tidak pernah lagi aku bertemu dengannya. Aku sungguh bersyukur dengan segenap hati…. namun tidak ada langkah lanjut yang terjadi, tidak ada komunikasi apalagi relasi. Aku tidak dapat melakukan balasan apa-apa terhadapnya.

Kenangan ini menghantar aku kepada refleksi tentang bagaimana seharusnya bersyukur kepada Tuhan.

Penulis Injil Lukas mengajarkan apa yang dapat kuperbuat sebagai ucapan terima kasih atas pertolongan Tuhan, melalui kisah sepuluh orang kusta yang ditahirkan Tuhan Yesus. Hanya satu orang Samaria yang kembali kepada Yesus dan memuliakan Allah. Kesembuhan dari penyakit kusta itu pastilah amat berharga bagi sepuluh orang itu. Kadar nilai syukur mereka seharusnya sama besar dan tak terukur, karena penderitaan akibat penyakit itu dialami sepuluh orang itu tanpa kecuali. Mereka hidup terasing dari keluarga dan masyarakat, mereka tidak bisa menjalankan hidup keagamaannya dengan bebas dan normal, mereka menanggung beban perasaan sebagai yang terkena kutukan. Jadi ketika semua menjadi tahir, sepantasnyalah kadar syukur pun sama besarnya. Namun kenyataannya hanya seorang Samaria yang mengungkapkan rasa syukur dengan tepat yaitu memuliakan Allah dan kembali kepada Yesus.

Aku mengenang kembali perjalanan hidupku. Selama kurang lebih 32 tahun aku menjalani pelayanan di Pembaruan Karismatik Katolik (PKK). Dalam pranata, aku terlibat di beberapa organisasi, dalam kegiatan pelayanan aku mengerjakan apa yang ditugaskan dengan kesungguhan hati. Pasang surut kualami dan kujalani tanpa keinginan mengundurkan diri. Semua telah mengukirkan makna mendalam bagiku. Suatu gaya hidup untuk terus belajar mengintegrasikan hidup dengan apa yang kuwartakan dan kuajarkan, kulakukan dalam pertolongan Allah Roh Kudus. Dan aku sadar bahwa perjalanan ini belum mencapai garis akhir selama aku hidup di dunia ini.

Hari ini aku sedang duduk di ruang tunggu sebuah bandar udara, aku merenungkan semua itu dan sampai kepada sebuah pertanyaan: apa motivasiku selama ini?

Aku hanya dapat menjawab diriku sendiri: Tuhan telah memberiku hidup (hidup yang ditebus oleh darah-Nya), aku telah disembuhkan dari sakit jasmani, dari sakit batiniah dan emosi, dari sakit yang menghancurkan keharmonisan relasi dengan sesamaku, dari sakit keangkuhan yang  membuat tak dapat mensyukuri keberadaanku, dan aku telah dijadikan-Nya pulih dan sempurna.

Aku merasa tak cukup hanya mengucap terima kasih kepada Tuhan, kemudian menjalani hidup semauku sendiri.

Aku sadar bahwa semua yang ada dalam hidupku berasal dan merupakan milik Tuhan Penebusku. Tanggung jawabku adalah menyerahkan kembali kepada Sang Pemilik sambil menjalankan kehendak-Nya dalam kebijaksanaan. Aku hidup bukan dikendalikan oleh apa penilaian orang, bukan pada keinginan untuk memuaskan kemauan orang, aku melakukan segalanya bukan untuk membeli berkat-berkat (karena semua itu telah kuterima dari-Nya sebagai anugerah). Aku hidup untuk memuliakan Tuhan. Dan inilah ungkapan syukur sejati.

Seketika aku dikejutkan oleh panggilan untuk boarding. Aku pun tersadar bahwa semua yang kutulis adalah refleksi dari kerinduan hatiku yang terdalam. Aku masih dalam proses, aku belum sempurna, namun tekadku adalah terus mengintegrasikan hidup dengan apa yang Tuhan mau. Agar Tuhan menyebutku sebagai orang yang tahu berterima kasih.

Doa: Bapa, semoga ungkapan syukur sejati kami bukan hanya sebatas ucapan bibir dan perasaan, namun berbentuk keputusan dan komitmen yang teguh untuk selalu bersama-Mu dalam segala keadaan. Doa ini juga bagi seluruh keluarga dan semua saudara yang membaca renungan hari ini. Demi Yesus Tuhan kami. Amin5 

-ips-