Mencari Tuhan atau Menolak Tuhan?

Hasil gambar untuk Luke 18:42

Renungan Senin 20 November 2017

Bacaan: 1Mak. 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mzm. 119:53,61,134,150,155,158; Luk. 18:35-43

MENCARI DAN MENGALAMI TUHAN ATAU MENOLAK-NYA

Lalu kata Yesus kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah. (Luk 18:42-43)

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP.

Bacaan liturgi gereja hari ini mengingatkan kita, apakah dalam menjalani hidup sehari-hari, kita sudah mencari dan mengalami Tuhan, atau justru menolak Tuhan. Jelas, yang mencari dan mengalami Tuhan hasilnya akan membuahkan kehidupan yang berbeda dibanding dengan yang menolak Tuhan.

Dalam bacaan pertama, diceritakan mengenai bangsa Israel yang ada dalam kendali wangsa Yunani, dengan rajanya Antiokhus Epifanes. Dalam situasi yang sulit dan penuh penderitaan, sebagian besar bangsa Israel justru meninggalkan perjanjian yang dibuat Tuhan dengan nenek moyang mereka, digantikan dengan mengandalkan manusia dan berhala. Mereka menyembah raja dan berhala-berhala bangsa lain, sehingga hidup mereka dibelenggu dan dikuasai dosa, penuh dengan segala kejahatan. Inilah gambaran kehidupan orang-orang yang menolak Tuhan.

Berbeda dengan seseorang yang mencari dan mengalami Tuhan. Imannya menyelamatkan dia. Hidupnya senantiasa memuliakan Allah dan penuh dengan sukacita (Luk 18:42-43). Kita dapat belajar dari si buta dan si pemazmur:

  1. Pertama-tama, jadikan Sang Sumber Hidup, Tuhan Yesus, sebagai pusat hidup.
  2. Berserulah memanggil nama-Nya. Binalah relasi dan komunikasi dengan Tuhan Yesus. Jangan pedulikan apa kata orang, yang berusaha untuk menghalangi terjadinya perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus.
  3. Percayailah belas kasih dan kerahiman-Nya.
  4. Percayailah kemahakuasaan-Nya, Tuhan Pembuat segala mukjizat.
  5. Ambillah sikap yang tegas, diriku adalah milik Tuhan dan ada di pihak-Nya dan tidak berkompromi dengan dosa dan segala kejahatannya, agar tidak mencerminkan sikap menolak Tuhan.

Kesaksian :

Beberapa hari yang lalu, kami mengajar KEP di suatu pulau. Materi Misi Evangelisasi di ajarkan selama 5 hari. Mayoritas penduduk pulau itu beragama Katolik. Mereka sangat luar biasa antusias dengan berbagai devosi. Salah satu contoh, saat Perayaan Kristus Sang Raja, ribuan orang berkumpul di satu tempat dari pagi sampai petang di bawah terik matahari untuk melakukan berbagai acara dan ditutup dengan perarakan patung Yesus Sang Raja dibawa ke satu paroki dan ditempatkan di sana selama satu tahun. Tahun berikutnya, acara ini diadakan kembali dan patung Yesus Sang Raja diarak ke paroki lain. Patung yang lebih kecil di arak dari satu rukun (lingkungan) ke rukun yang lain. Satu devosi yang luar biasa.

Sayangnya ini tidak tercermin dalam iman kekristenannya. Dalam hidup sehari-hari, mereka mendua hati. Mempercayai kekuatan dukun dan sangat takut dengan swangi (santet), sehingga lebih mempercayai memegang dan menyimpan jimat-jimat dari pada janji keselamatan dan perlindungan Kristus.

Di satu Paroki, Misa Minggu hanya diadakan satu kali dengan kapasitas ruang bisa menampung sekitar 800 orang, itupun masih ada bangku-bangku kosong, padahal umat di paroki tersebut lebih dari 2500. Sisanya ke mana?

Pesta pernikahan maupun pesta-pesta lain dilakukan sampai pagi, menyanyi dan minum-minum sampai mabuk, termasuk gembala-gembalanya. Esok harinya, kegiatan gereja bisa dibatalkan, jika sang gembala tidak bisa bangun. Sungguh menyedihkan.

Di tempat tersebut, ada seorang tokoh PKK (Pembaruan Karismatik Katolik) yang sungguh-sungguh mencari dan mengalami Tuhan, sehingga dia rindu orang-orang Katolik yang lain juga mengalami Tuhan. Hidupnya berpusat pada Tuhan, memiliki relasi pribadi dengan Tuhan, bahkan ada saat-saat akan terjadi sesuatu, Tuhan sudah memberitahu (karunia nubuat). Di dalam pelayanannya, dia mengalami kasih, kerahiman dan kuasa Tuhan yang sungguh nyata. Yang kerasukan, dibebaskan Tuhan. Bahkan ada yang mati, hidup kembali oleh kuasa Tuhan. Dia sangat tegas di dalam mengambil sikap. Di dalam pelayanan, dia sering mengeluarkan uang pribadi. Saat buku ME (Misi Evangelisasi) dijual ke peserta KEP, yang membeli hanya 3 orang. Akhirnya, uang 3 orang itu dikembalikan, dan buku-buku ME  diberikan dengan gratis kepada semua peserta. Seluruh buku ME yang dikirim dari SEP Surabaya plus ongkos kirimnya, dibayar dari uang gajiannya sebagai seorang PNS (pegawai negeri sipil).

Sayangnya timnya tidak solid dan tidak satu hati, sehingga sering bekerja sendiri. Itu salah satu penyebab kenapa KEP yang diadakan tidak terlalu banyak pesertanya.

Dia memilik harapan, melalui KEP, umat Katolik mengalami pembaruan hidup dan kesadaran untuk menjadi saksi Kristus melalui perkataan dan perbuatan dalam hidup sehari-hari.

Saya berharap, peserta KEP yang tekun ikut dari awal sampai akhir, menjadi benih awal kebangkitan umat Katolik di pulau itu, sehingga pembaruan hidup umat Katolik menjadi kenyataan. Sikap mendua hati disingkirkan, Tuhan Yesus menjadi pusat hidup, terang Kristus dalam hidup orang Katolik menang atas kegelapan, dan mereka menghadirkan Kristus dalam hidup sehari-hari.

Mari kita semua bersatu hati berdoa syafaat bagi pembaruan hidup umat Katolik di seluruh Indonesia.

Doa: “Allah Roh Kudus, pimpinlah hidup kami semua sehingga berkenan kepada Bapa di Surga. Jadikan setiap kami menjadi pembawa Kristus dalam hidup sehari-hari kami, sehingga Kerajaan Allah dan kehendak Allah terjadi di bumi seperti di dalam Surga. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.”

(HLTW)