Kodrat Manusia dan Tujuan Hidup

Hasil gambar untuk purpose of life

Renungan Jumat 17 November 2017

Bacaan: Keb. 13:1-9; Mzm. 19:2-3,4-5; Luk. 17:26-37

KODRAT MANUSIA DAN TUJUAN HIDUP

Sungguh tolol karena kodratnya semua orang yang tidak mengenal Allah sama sekali; dan mereka tidak mampu mengenal Dia yang ada dari barang-barang yang kelihatan, dan walaupun berhadapan dengan pekerjaan-Nya mereka tidak mengenal Senimannya. Sebaliknya mereka menganggap sebagai allah yang menguasai jagat raya ialah api atau angin ataupun udara kencang, lagipula lingkaran bintang-bintang atau air yang bergelora ataupun penerang-penerang yang ada di langit. (Keb 13:1-2)

Kodrat Manusia

Dalam bacaan hari ini, Kitab Kebijaksanaan mengingatkan kelemahan kodrat manusia dalam diri saya. Sejak remaja saya suka berlibur ke tempat yang alamnya masih asli. Saya terpesona, kagum dan memuji kebesaran pemandangan alam semesta ini. Sebagai seorang Katholik, tentunya saya mengenal pencipta alam semesta ini, tetapi saya tetap selalu terpesona memuji keindahan alam semesta daripada memuji terlebih dulu pencipta alam semesta, yaitu Allah Bapa. Bahkan saya sering melupakan-Nya.

Perubahan pun terjadi bertahap tanpa saya sadari. Saya semakin hari semakin dapat bersyukur dan memuji kebesaran Tuhan Bapa Pencipta ketika saya melihat kebesaran suatu keindahan alam semesta. Saya sadar ada suatu yang lebih dari semua semuanya itu yaitu Allah Bapa di Surga. Keindahan itu adalah Allah sendiri.

Manusia Masa Kini dan Tujuan Hidupnya

Kita tidak dapat terhindarkan dari kondisi hidup saat ini. Terlebih  kodrat manusia yang terus mencari dan menuntut kondisi yang lebih baik, berusaha memiliki fasilitas lebih dan mengikuti kemajuan zaman. Tuntutan memacu kita terus mencari dan berusaha lebih. Membuat kita semakin sibuk dan tidak pernah puas dengan yang ada di sekitar dan apa yang telah dicapai, terus mencari dan mengejar yang terbaru.

Saya pun pernah terjebak dalam kesibukan yang mana awalnya bertujuan baik karena memikirkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga. Tetapi membuat saya berambisi dan memacu kemampuan perjuangan hidup dalam dunia ini. Hal ini semakin membuat saya  egois,  sombong dan tak dapat kendalikan diri. Saya telah terbelenggu kesibukan menjadi tuhan yang saya hidupi dan layani. 

Tetapi saya sangat bersyukur memiliki Allah yang setia. Allah Bapa terus mengejar dan memanggil saya melalui saudara dan teman-teman saya. Allah tidak pernah lelah, bila saya mulai terbelenggu lagi, terpuruk atau melarikan diri menjauh dari Allah Bapa, ada saja yang menarik dan membawa saya dalam pelukan Allah Bapa. Saya benar-benar merasakan betapa besar kasih Allah pada saya sebagai anak-Nya, Dia tidak mau kehilangan anak yang dicintai-Nya.

Saya mengalami proses perubahan, pembaruan hidup, perbaikan karakter dan kehendak saya. Semua dihancurkan, ditempa dan dibentuk oleh Penjunan untuk mengikuti tuntunan Roh Kudus dalam Yesus, menuju akhir kehidupan saya untuk memasuki kerajaan Allah.

Diingatkan Selama Waktu Masih Ada

Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia. (Luk 17:26).

Mengingatkan masa sekarang akan terjadi kondisi di zaman Nabi Nuh dan Lot. Banyak manusia tidak mengenal penciptanya, kodratnya hanya mengejar kesenangan, nafsu, keserakahan dan saling memusnahkan. Hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan.  

Waktunya akan tiba, kita  tidak mengetahui bila waktunya tiba. Maka kita selalu siap sedia dan berjaga-jaga. Tuhan akan datang kembali. Karena Allah Bapa rindu semua manusia untuk kembali menjadi anak–anak-Nya di Surga, maka diutuslah Yesus Putra-Nya penyelamat dan penebus dosa.

Maka bagi saya sekarang, selama waktu masih ada, saya harus menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus dan membawa jiwa jiwa bagi  Allah Bapa. (WN)