Kesombongan – Dosa Seribu Wajah

Hasil gambar untuk luke 14:11

Renungan Sabtu 4 November 2017, Peringatan Wajib St. Karolus Borromeus

Bacaan: Rm. 11:1-2a,11-12,25-29; Mzm. 93:12-13a,14-15; Luk. 14:1,7-11

KESOMBONGAN – DOSA SERIBU WAJAH

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:11)

Ketika Tuhan Yesus melihat para tamu berusaha menduduki tempat-tempat terhormat, maka Yesus memberikan perumpamaan supaya orang tidak mencari tempat terhormat, tetapi lebih memilih tempat yang rendah, karena apabila tuan rumah mengetahui, mungkin dia akan akan mengajak tamu tersebut ke tempat yang terhormat. Sebab barangsiapa meninggikan diri, dia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan.

Perumpamaan sederhana yang diberikan oleh Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk menyadari kecenderungan kesombongan dalam diri manusia dan pentingnya kebajikan kerendahan hati. Dalam diri manusia kecenderungan kesombongan mengakar begitu kuatnya, kesombongan ini mengakar dalam kodrat manusia sebagai akibat dosa asal. Oleh kecenderungan kesombongannya, manusia akan selalu berusaha memusatkan segala sesuatu kepada dirinya, dan kesombongan juga membuat manusia melawan Allah.

Macam-macam kesombongan: kebanggaan sia-sia (vane glory), ambisi yang tidak teratur, kecandangan, merasa mempunyai segala sesuatu lebih dari orang lain, ingin dihargai, ingin menjadi pusat perhatian, menganggap diri lebih hebat dari orang lain, merendahkan orang lain, dan sebagainya. Bukan hanya ini, kesombongan yang dikatakan sebagai dosa dengan seribu wajah, bisa tampil dalam bentuk lain: minder/rendah diri, putus asa, iri hati, kerendahan hati palsu, dan lainnya.

Karena kesombongan ini dosa dengan seribu wajah, dia bisa muncul baik secara pribadi maupun secara kelompok. Kesombongan dapat muncul dalam hal-hal duniawi, tetapi juga bisa dalam hal-hal rohani sekalipun.  Sehingga tidak heran, bagaimana dalam Injil, Tuhan Yesus lemah lembut terhadap pendosa-pendosa yang mau bertobat, seperti pemungut cukai, pelacur, dsb; tetapi Dia sangat keras dan tegas mengecam ahli Taurat dan orang Farisi, kelompok keagamaan di kalangan bangsa Yahudi.

Orang-orang rohani tidak kebal terhadap kesombongan ini, dan banyak hal kejatuhan ke dalam kesombongan akan menyeret orang ke dalam pelbagai kejatuhan lainnya. Oleh karena itu betapa pentingnya pertobatan terus-menerus dan dengan bantuan rahmat Allah memupuk kerendahan hati, sebagai lawan dari kesombongan.

Kerendahan hati ialah menyadari kepapaan/ kehinaan kita di hadapan Allah, sekaligus berharap kepada Kerahiman Allah yang tidak terbatas. 

Beberapa aspek kerendahan hati:

  1. Mengakui dan menyadari di hadapan Allah, kita hanyalah orang berdosa yang membutuhkan kerahiman Allah.
  2. Mengakui dan menyadari ketergantungan kepada Allah, “Tanpa Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (bdk. Yoh 15:5).
  3. Mengakui dan menyadari bahwa segala yang kita miliki berasal dari Allah.
  4. Mengakui dan menyadari untuk setiap perbuatan baik sekecil apapun, kita membutuhkan rahmat Allah.

Dalam suatu percakapan rohani antara St. Fransiskus dari Sales, Uskup Geneva dengan seorang suster biara Visitasi. Suster itu mengatakan dia ingin menjadi rendah hati, supaya bisa mengasihi Tuhan. Tetapi justru St. Fransiskus dari Sales mengungkapkan kebalikannya, hanya dengan mengasihi Tuhan, maka orang akan menjadi rendah hati.

Seperti dalam kehidupan sehari-hari, kalau orang sungguh-sungguh mengasihi seseorang, maka dia akan merendahkan diri di hadapan orang yang dikasihinya. Demikian juga dalam hubungan dengan Allah, kalau kita mengasihi Allah secara otentik, maka kita juga akan merendahkan diri di hadapan-Nya.

“Belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah-lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus, maka kita juga akan selalu belajar dari Tuhan dan Guru kita untuk menjadi lemah-lembut dan rendah hati seperti Dia. Sebab “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6).

“Jika ada sesuatu yang lebih mulia daripada kelemah-lembutan dan kerendahan hati, tentunya Tuhan sudah mengajarkannya kepada kita. Tuhan justru mengajarkan dua hal kepada kita yakni kelemah-lembutan dan kerendahan hati” (St. Fransiskus dari Sales).

Tuhan Yesus, ajarlah kami para murid-Mu untuk menjadi lemah lembut dan rendah hati seperti-Mu. Amin. (ET)