Kejujuran

Gambar terkait

Renungan Sabtu 11 November 2017

Bacaan: Rm. 16:3-9,16,22-27; Mzm. 145:2-3,4-5,10-11; Luk. 16:9-15

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Yesus. (Luk 16:14)

Kiranya masalah ketidak-jujuran dalam keuangan memang sudah ada sejak zaman Yesus, bahkan sebelumnya. Dan sikap orang terhadap ketidak-jujuran ini juga sama saja pada zaman Yesus dan zaman sekarang.

Seperti orang Farisi yang mencemooh Yesus karena Dia mencela orang yang tidak jujur mengelola keuangan yang dipercayakan kepadanya, orang zaman ini juga menyudutkan dan memusuhi orang yang mengelola keuangan secara jujur.

Mengherankan bahwa sesuatu yang benar ternyata bisa mendatangkan permusuhan. Sikap dan perilaku yang benar kini sering menjadi sasaran ejekan dan kebencian. Orang yang bertindak sesuai dengan kebenaran Tuhan, dianggap sebagai orang yang aneh dan tidak membumi, terkadang dijauhi sebagai ‘barang antik’.

Mengapa ‘orang jujur’ sering kali dianggap aneh dan tidak disukai? Ternyata karena kejujuran mereka membuat orang lain merasa dirinya semakin tidak benar, dan mereka benci dengan hal ini. Tetapi reaksi mereka bukannya meneladani, tetapi malah marah dan dengki. Mengapa mereka tidak meneladan saja kejujuran mereka? Karena keuntungan materi yang mereka dapatkan dari ketidak-jujuran membuat mereka dapat melakukan apa yang mereka suka dan membeli apa yang mereka inginkan.

Jadi kenikmatan dunia atau kedagingan lebih terasa enak daripada kepuasan oleh predikat ‘ORANG JUJUR’. Tak heran lebih banyak orang memilih kenikmatan daging dan mengesampingkan kebenaran-kebenaran yang diajarkan Kitab Suci.

Bagaimana bisa mengalahkan kecenderungan yang salah ini, yaitu kecenderungan untuk memilih kenikmatan dibanding kebenaran? Saat kita dibaptis, Yesus memberi kita kuasa untuk dapat mengalahkan dosa, supaya kita mampu hidup benar. Yesus tahu kelemahan manusia yang diwarisi lewat dosa asal ini, ketamakan, kesenangan akan kenikmatan dunia. Karena Dia mau kita semua memperoleh keselamatan yang dianugerahkan-Nya lewat kematian-Nya di salib, Dia berikan senjata untuk mengalahkan kelemahan kita yang menyeret kita untuk menjauhi keselamatan yang telah dihadiahkan-Nya kepada kita. Senjata ini adalah kuasa untuk mengatasi dosa, kekuatan menolak kedagingan (penyangkalan diri). Tetapi senjata ini baru berdaya-guna bila senjata ini digunakan bersama dengan Sang Pemberi anugerah, yaitu Tuhan sendiri.

Kedekatan kita kepada Allah, akan memberi kekuatan bagi kita untuk melawan kedagingan kita. Maukah kita mendekatkan diri kepada Tuhan agar kita semakin dikuatkan oleh kuasa penebusan ini? Sanggupkah kita memeteraikan Firman Tuhan dalam akal budi kita, sehingga pikiran-pikiran tentang kebenaran meresapi hati kita dan menjadi gaya hidup kita, sampai akhirnya menjadi mudah bagi kita untuk melawan kedagingan kita?

Marilah kita berdoa : Ya, Yesus, buatlah kami haus akan kebenaran-Mu setiap hari, supaya kami hidup sesuai kehendak Bapa di surga dan menjadi garam dan terang dalam lingkungan hidup kami. Amin. (HCLK)