Jangan Putus Asa

Hasil gambar untuk pray and never give up

Renungan Sabtu 18 November 2017

Bacaan: Keb. 18:14-16,19:6-9; Mzm. 105:2-3,36-37,42-43; Luk. 18:1-8

BERDOA DAN JANGAN PUTUS ASA

Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? (Luk 18:7)

Sebenarnya apa yang membuat hakim ini pada akhirnya memutuskan untuk memedulikan permohonan janda ini? Dari kedua tokoh parabel yang disampaikan Yesus, pelajaran apa yang kita dapatkan tentang keadilan dan pembenaran dalam Kerajaan Allah?

Pesan yang Yesus sampaikan benar adanya – seringkali kita berada di posisi janda yang tidak berdaya ini. Berat dan bertubi-tubinya beban hidup yang datang silih berganti adakalanya membuat kita berpikir atau merasa bahwa hidup ini tidak adil. Perasaan bahwa semua jalan untuk keluar dari permasalahan sudah tertutup semua seringkali membuat kita putus asa. 

Satu hal yang bisa kita teladani dari janda ini – ketekunan dan kegigihannya mampu meluluhkan hati hakim yang dikenal tidak takut akan Allah dan tidak menghormati orang lain sampai akhirnya si hakim meluluskan keinginan janda tersebut.

Jika hakim tersebut pada akhirnya mengabulkan apa yang diminta si janda karena dia tidak ingin direcoki lagi, sangatlah berbeda dengan Tuhan kita yang senantiasa penuh belas kasih kepada semua orang percaya. Seperti yang dinyatakan dalam Amsal 8:17 “Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang tekun mencari aku akan mendapatkan aku.”  Ketekunan akan menghasilkan buah, terutama bagi mereka yang sepenuhnya mengasihi dan percaya pada Allah.

Yesus sendiri menyampaikan betapa Allah begitu cepat luluh karena belas kasih-Nya kepada kita – Ia akan memberikan kekuatan kepada kita semua yang bersandar pada Dia. Sayangnya, kitalah yang seringkali bersikap tidak sabar, ingin serba cepat, masalah segera selesai sehingga terbuka celah masuknya kekecewaan yang akan membuat kita tidak tekun.

Teringat pengalaman lima belas tahun yang lalu ketika saya menangis sambil merangkul Bapak dan Ibu Tjokro, saya mencurahkan semua isi hati saya saat itu dan merasa beban saya teramat sangat berat. Satu nasihat yang sampai sekarang saya pegang yaitu, tekunlah berdoa! Tuhan pasti dengar dan beri jalan keluar. Memang benar satu jalan terbuka – tetapi muncul masalah yang lain. Sempat timbul pertanyaan, Tuhan mau bercanda apa lagi dengan hidupku. Akan tetapi di saat hatiku gundah, kembali kuingat kedua wajah sahabatku, dan terngiang nasihat mereka, teruslah dan tekunlah berdoa.

Tentunya dengan bantuan dan dukungan kedua sahabat, dan juga rekan-rekan yang begitu penuh kasih mendukung doa, satu per satu masalah terselesaikan dengan cara yang tidak pernah terpikirkan.

Mari kita tetap tekun dalam berdoa – seperti yang dilakukan janda dalam parable di atas.

“Tuhan Yesus, tambahkan dan kuatkan serta teguhkanlah iman kami setiap hari sehingga kami tidak pernah meragukan lagi Firman serta janji-Mu yang akan menyertai kami sampai akhir zaman. Dalam setiap keadaan, baik suka maupun duka, dalam keadaan senang ataupun terpuruk mampukan kami untuk hanya mencari Engkau sumber kasih, suka cita dan damai sejahtera. Merajalah dalam hidup kami.”

MM