Bagaimana Aku Di Hadapan Tuhan?

Renungan Jumat 3 November 2017

Bacaan: Rm. 9:1-5; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Luk. 14:1-6

BAGAIMANAKAH AKU SEBENARNYA DI HADAPAN TUHAN?

Kata “Sabat” berarti “berhenti” atau “beristirahat”. Seperti Allah beristirahat pada hari ketujuh, orang Israel diperintahkan untuk mengingat dan menguduskan hari Sabat. Ada enam hari untuk bekerja dan hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, hari yang dikuduskan oleh Tuhan (Kel 20:8-11). Hari ketujuh ini adalah anugerah Tuhan, setiap orang Farisi memahaminya hanya sebagai larangan, yaitu pada hari ini orang tidak boleh bekerja. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang hadir di sana mengamat-amati Yesus dengan saksama kalau-kalau Ia kembali menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat seperti sebelumnya. Mereka ingin mempersalahkan Yesus karena menganggap Yesus sebagai ancaman yang berbahaya. Banyak orang yang percaya kepada-Nya dan semakin banyak orang yang mengikuti-Nya. Pada saat perjamuan, tiba-tiba datanglah seorang sakit busung air berdiri di hadapan Yesus. Seluruh mata tertuju kepada Yesus.

Kehadiran orang yang busung air itu sungguh aneh sebab pada umumnya orang segan memasuki rumah seorang tokoh masyarakat tanpa diundang, apalagi orang sakit. Seperti halnya penyakit kusta, pada zaman itu busung air dianggap sebagai hukuman bagi orang berdosa dan penderitanya dianggap najis. Keadaan tubuhnya sangat tidak nyaman untuk dilihat apalagi di saat perjamuan. Kehadiran tiba-tiba orang sakit busung air di hadapan Yesus, di tengah-tengah para undangan, mengundang kecurigaan. Dan Yesus mengetahui niat jahat mereka.

Kenyataan bahwa Yesus telah membuktikan diri bahwa kuasa-Nya adalah kuasa Kerajaan Allah, tidak membuat para musuh-Nya sadar dan bertobat. Mereka tetap mencari kesalahan Yesus. Ada 3 hal yang dapat kita lihat dalam bacaan Injil hari ini, yaitu :

Pertama, Yesus mengkonfrontasi para Farisi ini dengan pertanyaan yang membuat mereka sulit menjawab. Mereka tentu ingat akan peristiwa beberapa sabat sebelumnya (Lukas 13:10-17). Waktu itu mereka menuduh Yesus melanggar hari Sabat secara ritual, namun Yesus mematahkan argumentasi mereka secara teologis. Kuasa pembebasan Allah atas belenggu Iblis tidak boleh dihalangi oleh ritualisme.

Kedua, karena mereka tidak berani menjawab, Yesus segera menyembuhkan si busung air tersebut. Artinya, dengan berdiam diri, mereka harus mengakui bahwa di hari Sabat, boleh menolong orang.

Ketiga, Yesus kemudian melanggar patokan yang mereka miliki. Kalau untuk kepentingan mereka, peraturan sabat dibuat sedemikian rupa sehingga mereka tidak melanggarnya apabila menolong ternak mereka yang terperosok ke dalam lubang. Lalu, mengapa untuk menolong orang sakit, hal tersebut menjadi salah? Apakah hidup seekor binatang lebih penting daripada hidup manusia yang merupakan gambar dan citra Allah?

Sungguh menyedihkan melihat para pemuka agama Yahudi yang keras kepala ini. Namun, jangan-jangan itulah cermin kondisi hati kita. Di satu sisi kita merasa rohani karena status dan kegiatan pelayanan kita, tetapi di sisi lain kita sebenarnya menjalani hidup yang munafik karena ukuran kerohanian kita ialah perilaku yang terlihat semata. Mari kita refleksikan diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang munafik dengan bertopeng pada status rohani dan kegiatan pelayanan kita.

Pelajaran yang kita dapat dari bacaan Injil Lukas hari ini adalah bahwa dalam hidup ini, ada pilihan, antara pilihan yang baik dan yang jahat.

Menurut orang Farisi, menyembuhkan orang sakit pada hari sabat dianggap melanggar hukum Taurat. Namun ketika Yesus bertanya kepada orang Farisi membiarkan seorang jatuh ke dalam sumur karena pada hari sabat atau segera menolong orang itu walau hal itu dianggap melanggar hukum Taurat. Yesus dalam kasus ini menegaskan bahwa keselamatan jiwa merupakan pilihan-Nya yang utama, walau itu dianggap melanggar hukum.

Dalam kehidupan nyata, kita terkadang disajikan pilihan-pilihan yang sulit. Tapi hendaknya kita memilihnya dengan rasa tanggung jawab. Ada baiknya kita dapat meneladani hidup Yesus yang berdoa sebelum kita mengambil keputusan yang sulit. Hal ini tercermin ketika Yesus berdoa semalam suntuk sebelum memilih para rasul-Nya. Yesus selalu memberikan keteladanan hidup dan kita semua dapat meneladani-Nya jika kita semua rajin membaca dan merenungkan Kitab Suci.

Kita juga mendapat teladan dari Bunda Maria yang lebih taat kepada kehendak Allah, walaupun harus memilih risiko yang berat. Bunda Maria sadar bahwa ia menghadapi pilihan yang sulit, namun ia menjawab: ”Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Bisakah atau beranikah kita ambil pilihan yang bisa jadi tidak enak, tetapi menjadi pilihan yang terbaik dari semua pilihan yang ada? Oleh karena itu, jadikanlah Injil sebagai sumber inspirasi serta pegangan hidup dan menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan kita.

Discernment (membedakan roh dan mencari suara Tuhan) adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan.

Untuk mengetahui apakah itu suara Tuhan , umumnya kita dapat memeriksa:

  1. Apakah itu sesuai dengan Firman Tuhan?

Misalnya melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum atau perintah Tuhan, maka sudah dapat dipastikan itu bukan dari Tuhan.

  1. Apakah itu membawa kedamaian di hati dan memberikan buah Roh yang lain?

Tolak ukurnya dalam Galatia 5:22-23 tentang buah Roh. Merefleksikan kembali dalam diri kita, apakah membawa damai sukacita atau tidak.

  1. Apakah itu menjadikan kita sebagai orang yang menerima, semakin bertumbuh dalam kerendahan hati?

Karena kita tahu bahwa dosa manusia pertama adalah kesombongan. Sebab jika kita menjadi sombong, maka selanjutnya Iblis dapat memakai kelemahan kita.

Kerendahan hati datang  ketika kita mengenal kesempurnaan. Orang yang rendah hati tahu bahwa di atas dia masih ada yang lebih sempurna lagi. Dan kita akan makin rendah hati jika kita memandang Allah yang sempurna dan besar itu.

               Yang dapat menjadi refleksi kita hari ini, sudah rendah hatikah aku?

  1. Apakah suara itu akan mendorong kita untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih

Hal ini mendorong kita untuk semakin mengasihi Tuhan dan sesama.

  1. Apakah suara itu mengajarkan kepada kita sesuatu yang sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja Katolik?

Karena jika itu menentang ajaran Gereja Katolik, maka akan menjadi alat iblis untuk menghancurkan Gereja.

Selanjutnya, perlu dicermati akan prosesnya dalam ‘mendengarkan’ suara Tuhan ini. Karena itu kita harus membiasakan diri berdoa dalam keheningan agar dapat mendengarkan suara Tuhan. Sebab jika kita tidak pernah hening dalam berdoa, itu berarti kita terus berkata-kata (walaupun dalam hati), maka akan sulit bagi kita untuk dapat mendengarkan suara Tuhan, karena pembicaraan terjadi hanya satu arah.

Untuk mendengarkan suara Tuhan, kita harus berani datang kepada Tuhan dengan sikap hati yang tenang dan hening, membiarkan Tuhan menyampaikan pesan-Nya pada kita. Latihan yang paling sederhana sebelum masuk dalam doa hening adalah pemeriksaan batin. Kita melihat dan menyadari kesalahan dan dosa apa yang telah kita lakukan. Dengan demikian, kita membiasakan diri untuk membiarkan Roh Kudus bekerja dalam batin kita dan menyadarkan kita dari dosa dan kesalahan kita (Yohanes 16:8), sehingga Tuhan sendirilah yang melatih kita untuk semakin peka dalam membedakan mana suara/dorongan Roh Kudus dan mana yang bukan. Marilah mulai saat ini kita berjuang dan belajar untuk tetap setia dalam doa-doa kita dan membiarkan Roh Kudus bekerja membentuk kita sebagai bejana rohani bagi kemuliaan Allah.

Berkat dan kasih karunia Tuhan senantiasa menyertai kita. Amin.

VRE