Allah Orang Yang Hidup

Gambar terkait

Renungan Sabtu 25 November 2017

Bacaan: 1Mak. 6:1-13; Mzm. 9:2-3,4,6,16b,19; Luk. 20:27-40

ALLAH ORANG YANG HIDUP

Firman hari ini menceritakan orang Saduki yang tidak percaya kebangkitan orang mati, mengajukan pertanyaan penuh teka-teki kepada Yesus, untuk menjebak-Nya. Yesus mengetahui siasat dan kemunafikan hati orang Saduki itu. Karenanya Ia menjawab pertanyaan itu berdasarkan pengertian orang Saduki itu sendiri.

Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup. (Luk 20:37-38)

Jawaban Yesus kepada orang Saduki ini, kembali lagi menegaskan kepada saya bahwa ada kebangkitan orang mati karena Allah kita adalah Allah orang yang hidup. Melalui jawaban ini, Tuhan Yesus benar-benar mengungkapkan akan kasih, rahmat dan janji-Nya kepada saya, dan Ibu Bapak semua – orang yang percaya –  untuk memperoleh kehidupan kekal bersama-Nya di Surga. Itulah yang menjadi harapan saya dan tentunya Ibu Bapak semua. Dan harapan itu, senantiasa muncul kembali ketika saya hadir dalam Misa Requiem untuk kerabat atau sahabat saya berpulang ke rumah Bapa di Surga.

Akhir bulan September lalu, Tuhan Yesus menumbuhkan kembali harapan itu di hati saya ketika kakak saya meninggal dunia. Meskipun kami adik-adiknya telah mengetahui bahwa penyakit kakak saya merupakan penyakit yang langka, dokter di Indonesia dan di Singapura angkat tangan karena belum ada referensi akan penyakit tersebut, namun berita kematiannya tetap mengejutkan kami semua.

Akan tetapi pengharapan akan kebangkitan itulah yang membuat kami semua bisa menerima kematian kakak saya. Dari balik duka cita yang mendalam, muncul sukacita karena saya melihat betapa besarnya kasih Tuhan Yesus, Allah orang yang hidup kepada kakak saya. Selama hampir empat tahun sejak dokter angkat tangan, Tuhan Yesus dengan kasih-Nya mempersiapkan hati kakak saya untuk menerima kematiannya. Ia menarik kakak saya untuk semakin dekat lebih dalam, berelasi dan bersandar penuh kepada-Nya. Ia sendiri menumbuhkan iman yang hidup dalam hati kakak saya. Melalui imannya yang hidup itulah, saya melihat kakak saya mampu memahami “rencana” Allah, mampu menerima penyakitnya dengan penuh syukur dan penyerahan diri.

Tuhan Yesus Kristus, sungguh Engkau adalah Allah orang yang hidup, Allah yang penuh kasih, Allah yang peduli kepada setiap orang yang percaya kepada-Mu. Pagi ini saya benar-benar bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah memberi contoh nyata akan iman yang hidup melalui almarhum kakak saya. Iman yang mampu memahami rencana dan kehendak-Mu dengan penuh syukur dan sukacita untuk penyerahan diri. Bantulah anak-Mu yang lemah ini dan setiap orang yang percaya kepada-Mu untuk dapat memelihara harapan akan hidup kekal bersama-Mu, dengan setiap hari menjaga kekudusan dan menyenangkan hati-Mu. Amin.

Tuhan memberkati.

Set