Aku Gagal (Lagi)

Gambar terkait

Renungan Selasa 14 November 2017

Bacaan: Keb. 2:23-3:9; Mzm. 34:2-3,16-17,18-19; Luk. 17:7-10

AKU GAGAL (LAGI)

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Luk 17:10)

Beberapa kali saya dilanda perasaan gagal dalam menyelesaikan tugas, terutama yang berkaitan dalam pelayanan. Merasa bangga akan kemampuan dan percaya akan kekuatan diri sendiri, dua hal tersebut menjadi garis depan dalam setiap laku tindakan yang saya ambil. Sebenarnya kalau mau dirunut ke belakang, perasaan gagal itu didapat dari keinginan diri mendapatkan tanggapan positif oleh orang lain, keinginan diakui dan perasaan bangga diri. Saat melihat tanggapan yang ‘biasa-biasa saja’, saya merasa gugup dan mencari-cari apa kesalahan saya. Keinginan mendapatkan pengakuan merupakan faktor penghalang dalam melayani Allah, sehingga secara tidak sadar kodrat hamba tergeser oleh gaya tuan besar yang haus pujian dengan berpusat pada diri sendiri.

Hari ini Yesus mengingatkan saya dengan mengutip tata krama seorang hamba terhadap tuannya sebagaimana kebiasaan pada waktu itu; “Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”. Hamba yang sadar dan taat serta penuh kerendahan hati dalam tugas sebagai ciptaan yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah tidaklah memiliki ketaatan semu atau ketaatan karena paksaan. Ketaatan sebagai hamba Allah adalah ketaatan yang sungguh-sungguh berasal dari kerelaan hati untuk menjawab setiap panggilan kasih-Nya; ketaatan yang membebaskan.

Ketaatan seperti seorang anak dengan bapanya, sebagaimana ketaatan Yesus kepada Bapa-Nya, Ia rela menjadi hamba Bapa di tengah-tengah dunia ini untuk menyelamatkan manusia berdosa. Di tengah jiwa patuh dan taatnya kepada Allah, Yesus memberi contoh kepada kita bahwa sebagai seorang Putera Raja, sebenarnya bisa saja Ia menjadikan seseorang, sekelompok komunitas atau bahkan seluruh bangsa Israel sebagai hamba untuk melayani-Nya di tengah-tengah dunia, tetapi hal tersebut tidak pernah Yesus lakukan, bahkan sampai dengan kematian-Nya di kayu salib, Yesus tetap memiliki jiwa sebagai hamba Allah.

Maka, dari contoh Yesus tersebut, mari kita dengan rendah hati mau menyadari jati diri pribadi ini sebagai seorang hamba yang harus berbekal pola pikir benar yaitu senantiasa menyukakan hati tuannya dan berpedoman Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh 3:30).

Ad majorem Dei gloriam. (vmg)